Pelajaran Penting Buat Para Hartawan (bagian 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Melihat kejadian ini, orang-orang yang lemah iman dan akalnya, serta berangan-angan memiliki kekayaan seperti Qarun, sadar. Allah l berfirman,
“Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (al-Qashash: 82)
Mereka pun sadar bahwa apa yang diterima Qarun bukanlah tanda keridhaan Allah l kepadanya. Mereka mengakui pula kesalahan ucapan dan keinginan mereka.
Allah l berfirman,
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Rabbku menghinakanku.” (al-Fajr: 15—16)
Itulah sebagian watak asli manusia yang sangat jahil lagi zalim. Manusia itu menyangka bahwa kemuliaan dan kenikmatan yang Allah l berikan kepadanya di dunia ini menunjukkan kemuliaan dirinya di sisi Allah l dan kedekatan kepada-Nya.
Akan tetapi jika; ﮣ ﮤ ﮥ (Dia [Allah] membatasi rezekinya); maksudnya, menyempitkannya, sekadar menjadi makanan pokoknya, tidak ada sisa yang disimpan, menurut dia, berarti Allah l menghinakannya.
Oleh karena itu, Allah l membantah sangkaan mereka ini dengan firman-Nya, ﮪ (Sekali-kali tidak).
Seolah-olah Allah l menyatakan bahwa tidaklah setiap orang yang Aku beri nikmat di dunia ini, maka dia adalah mulia di sisi-Ku. Tidak pula setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, berarti dia hina di hadapan-Ku. Tetapi kaya, miskin, kelapangan, dan kesempitan adalah ujian dari Allah l yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini agar Allah l melihat siapa yang bersyukur kepada-Nya dan bersabar, sehingga Dia memberinya balasan yang besar atas sikap sabar dan syukur ini.1
Pada hakikatnya, inilah keadaan orang-orang kafir. Cinta, benci, kemuliaan, dan kehinaan hanya diukur dengan banyak sedikitnya harta. Adapun orang-orang yang beriman, kemuliaan itu ialah kalau dia dimuliakan oleh Allah l dengan bertambahnya ketaatan kepada-Nya. Kalau dia diberi kelapangan dalam urusan dunia atau apa pun juga, dia bersyukur dan memuji Allah l yang telah melimpahkan karunia kepadanya. Seorang mukmin menyadari segala kemudahan dan kesenangan itu, bahkan setiap kesulitan yang dirasakannya adalah berasal dari Allah l.
Allah l berfirman,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)
Jadi, Allah l lah yang memberi kesenangan kepada seseorang atau menahannya.
Akan tetapi, kebanyakan manusia lupa keadaan masa lalunya setelah dia merasa berkecukupan. Bahkan, ada yang marah ketika diingatkan kembali kepada hal itu. Seandainya dia tidak senang jika diingatkan akan kesengsaraannya, lalu berdoa agar tidak mengalami kepahitan seperti dahulu dan banyak berbuat baik kepada sesama sebagai rasa syukur terlepas dari kesusahan di masa lalu, itu jauh lebih baik.
Orang-orang yang beriman memandang segala kesenangan—bahkan setiap kesusahan—adalah kenikmatan dari Allah l, karena mereka tahu kesusahan, kesedihan, ataupun kesempitan itu akan menjadi pembasuh dosa dan kesalahan mereka. Demikianlah keadaan seorang mukmin.
Rasulullah n bersabda,
عَجَباً لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ، وَإنْ أصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin. Sungguh, semua urusannya adalah baik. Kalau dia ditimpa kesenangan dia bersyukur, hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, hal itu pun menjadi kebaikan baginya. Hal itu tidak dirasakan selain oleh seorang mukmin.”2

Dunia Bukan Ukuran
Itulah sekelumit kisah Qarun, seorang Yahudi. Kebersamaan dan kekerabatannya dengan Nabi Musa q tidak berguna sama sekali bagi dirinya. Kedekatan-kedekatan seperti ini, banyak diceritakan oleh Allah l di dalam Kitab-Nya yang mulia. Tidak ada yang bermanfaat kedekatan itu selain ketakwaan.
Renungkanlah keadaan Azar, ayahanda Nabi Ibrahim q, salah seorang putra Nabi Nuh q, dan istri beliau. Demikian pula istri Nabi Luth q, bahkan paman Rasulullah n, Abu Thalib, juga tidak memetik manfaat dari hubungan dekatnya dengan Rasulullah n.
Di sini terlihat pula salah satu bahaya kesenangan (nikmat), karena bisa jadi Allah l melimpahkan nikmat kepada seseorang, tetapi justru menjadi sebab kehancurannya. Artinya, kenikmatan itu hanya menjadi ganti atau imbalan atas amalan saleh (kebaikan) yang dikerjakannya di dunia. Lalu, ketika dia menghadap Allah l, tidak ada kebaikan sedikit pun pada dirinya. Na’udzu billah min dzalik.
Banyak pula di antara kita melihat orang-orang yang kaya di sekitarnya, lalu berangan-angan seandainya memiliki kekayaan seperti itu. Bisa bersenang-senang sebagaimana mereka, berbuat seperti mereka, dan seterusnya. Inilah yang diucapkan orang-orang yang jahil di antara Bani Israil yang melihat kekayaan Qarun.
Demikianlah jiwa (nafsu) para pecinta dunia, yang selalu terikat bersama hal-hal yang sifatnya lahiriah atau kebendaan, sehingga merasa takut akan keadaan yang buruk. Lain halnya dengan ahli ilmu (agama), jiwa mereka ini terikat pada hal-hal yang bersifat hakiki dan batin.
Sungguh, ujian yang diberikan Allah l dapat berupa kesulitan dan kebinasaan. Namun, tak sedikit pula yang berupa kesenangan. Betapa banyak kita jumpai orang-orang yang diuji dengan kesulitan hidup, mereka mampu bertahan dan sabar. Tetapi, giliran diuji dengan kesenangan, mereka berguguran. Jatuh terempas dan hilang dari percaturan hidup, lalu menjadi pelajaran bagi orang yang datang belakangan, bukan teladan yang harus ditiru. Wallahul Musta’an.
Allah l berfirman,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya); dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)
Mereka yang mengaku beriman pasti menerima ujian sesuai dengan kadar keimanannya. Allah l berfirman,
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (al-‘Ankabut: 1—3)
Rasulullah n pernah ditanya tentang siapa yang paling berat menerima cobaan, lalu beliau n bersabda,
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ
“(Yang paling berat menerima cobaan) adalah para nabi, kemudian yang paling serupa dengan mereka, lalu yang paling serupa dengan mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar imannya. Kalau agama (imannya) kokoh, ujiannya pun semakin berat. Dan kalau agamanya rapuh/lemah, dia diuji sesuai dengan kadar keimanannya.”3
Sungguh, seandainya dunia yang menjadi tolok ukur kemuliaan dan keberhasilan, maka Qarun adalah orang yang paling mulia di dunia ini. Siapa pun yang saat ini demikian besar kekayaannya, belumlah mampu menyamai Qarun.
Coba perhatikan cerita ‘Umar bin al-Khaththab z tentang kejadian Rasulullah n menjauhi istri-istrinya selama satu bulan.
“Ketika Nabi Allah n mengasingkan diri dari para istri beliau, saya masuk ke masjid dan melihat kaum muslimin mempermainkan kerikil sambil mengatakan bahwa Rasulullah n telah menceraikan istri-istri beliau. Dan itu terjadi sebelum ada perintah hijab….”
‘Umar pun menemui Hafshah, putrinya dan berkata, “Wahai Hafshah, sudah sebegitu rupa engkau menyakiti Rasulullah n. Demi Allah, engkau sudah tahu bahwa Rasulullah n tidak mencintaimu. Kalau bukan karena aku, tentu Rasulullah n sudah menceraikanmu.”
Mendengar hal ini, semakin hebat tangis Hafshah.
Saya bertanya kepada Hafshah, “Di mana Rasulullah n?”
“Di loteng tempat penyimpanan beliau,” kata Hafshah.
Kemudian saya mendatangi tempat itu dan melihat Rabah, pelayan Rasulullah n, sedang duduk di depan pintu loteng tersebut sambil menjulurkan kakinya ke anak tangga tempat naik turun Rasulullah n.
“Hai Rabah, mintakan izin agar aku masuk menemui Rasulullah n.”
Rabah hanya melihat ke arah kamar lalu menoleh kepada saya tanpa berkata apa-apa.
Kemudian saya datang lagi memanggil Rabah sampai tiga kali. Pada yang ketiga saya mengeraskan suara, “Hai Rabah, mintakan izin agar aku masuk menemui Rasulullah n, karena mungkin Rasulullah n mengira aku datang karena Hafshah. Demi Allah, seandainya Rasulullah n memerintahkan aku memenggal lehernya, pasti kupenggal.”
Akhirnya Rabah mengisyaratkan agar saya naik ke loteng itu.
Saya pun naik menemui Rasulullah n yang sedang berbaring di atas sehelai tikar. Kemudian saya duduk. Sementara itu, beliau mendekatkan sarungnya. Tidak ada yang lain selain itu. Ternyata, tikar itu membekas di lambung beliau.
Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kecil itu. Saya melihat ada satu sha’ (kira-kira 544 gram) gandum dan qardh (dedaunan yang dihaluskan) sebanyak itu juga, di sudut kamar. Ada juga kulit yang belum selesai disamak.
Tak terasa, air mata saya bercucuran.
Rasulullah n melihat dan bertanya, “Mengapa engkau menangis, hai putra al-Khaththab?”
“Wahai Nabi Allah, mengapa saya tidak menangis. Tikar ini membekas begitu rupa di lambungmu. Simpananmu tidak lain hanya ini. Sementara itu, di sana, Kaisar dan Kisra bergelimang dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang jernih. Padahal, engkau adalah Rasul Allah, dan pilihan-Nya, tetapi hanya ini simpananmu.”
Beliau pun berkata, “Hai putra al-Khaththab, tidakkah engkau ridha akhirat bagian kita, sedangkan untuk mereka hanya dunia?”
“Tentu,” kata saya.

Yang menjadi pelajaran bagi kita dalam kisah ini adalah penggalan yang terakhir ini. Artinya, kalau kemuliaan, keberhasilan, dan kebahagiaan diukur dengan harta, kedudukan, dan urusan dunia lainnya, tentu yang paling bahagia dan mulia adalah orang-orang semacam Fir’aun, Haman, Qarun, Heraklius, Hurmuzan, Abu Jahl, Abu Lahab, dan orang-orang kafir lainnya.
Ibnu Sa’d (ath-Thabaqat 1/465), dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya (3/1203), meriwayatkan dari ‘Aisyah x bahwa Rasulullah n pernah berkata kepadanya,
يَا عَائِشَةُ، لَوْ شِئْتُ، لَسَارَتْ مَعِي جِبَالُ الذَّهَبِ
“Hai ‘Aisyah, seandainya aku mau, pasti gunung-gunung emas akan berjalan bersamaku.”4
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah n pernah mengutus Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah z ke Bahrain, kemudian dia pulang membawa jizyah penduduk negeri itu. Orang-orang Anshar pun mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah, lalu mereka menyengaja shalat subuh bersama Rasulullah n.
Seusai shalat, Rasulullah n berpaling. Para sahabat Anshar menampakkan diri kepada beliau. Begitu melihat mereka, Rasulullah n tersenyum, lalu berkata, “Saya kira kalian sudah mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah datang membawa sesuatu dari Bahrain?”
“Betul, wahai Rasulullah,” jawab mereka.
Rasulullah n pun bersabda,
أَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم
“Gembiralah, dan bayangkanlah apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan terhadap orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan mereka.”5
Ternyata, dunia yang kita kejar justru akan menghancurkan kita.
Lantas, apakah tidak boleh kita menjadi orang kaya? Tidak boleh berusaha?
Bukan tidak boleh kita menjadi orang kaya. Bukan pula tidak boleh berusaha. Para nabi saja ada di antara mereka yang jadi wirausahawan. Ada yang menjadi tukang kayu, seperti Nabi Zakariya q; pembuat baju besi, seperti Nabi Dawud q, padahal beliau seorang raja besar. Dan Nabi kita Muhammad n sebelum menjadi rasul adalah seorang penggembala kambing yang menerima upahan dan pedagang yang sukses.
Siapa yang tak kenal ‘Utsman bin ‘Affan z, saudagar besar di kalangan sahabat?
Siapa pula yang tak kenal ‘Abdurrahman bin ‘Auf z? Sahabat ini datang ke Madinah sebatang kara tanpa membawa harta. Setiba di Madinah, dipersaudarakan oleh Rasulullah n dengan Sa’id bin Rabi’ z dari kalangan Anshar.
Melihat keadaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak punya apa-apa untuk hidup di Madinah, Sa’id menawarkan separuh hartanya untuk ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Tidak hanya itu, dia juga menawarkan agar ‘Abdurrahman memilih salah seorang istrinya, mana yang dia sukai, akan dia ceraikan dan apabila telah habis iddahnya, silakan dinikahi oleh ‘Abdurrahman.
Akan tetapi, ‘Abdurrahman hanya minta ditunjukkan di mana pasar penduduk Madinah. Tak lama sesudah itu, beliau sudah kembali membawa minyak samin, gandum, dan barang lain untuk hidup sehari-hari di Madinah. Selang beberapa waktu, ‘Abdurrahman terlihat oleh Rasulullah n seolah-olah sudah menikah. Ketika ‘Abdurrahman menerangkan bahwa dia memang sudah menikah, Rasulullah n mendoakan keberkahan baginya lalu menyuruhnya mengadakan walimatul ‘urs (pesta pernikahan) walaupun dengan seekor kambing.6
Jadi, bukan tidak boleh kaya dan berusaha, tetapi jangan jadikan semua itu buah mimpi dan angan-angan kita. Jangan jadikan dunia, cita-cita dan tujuan hidup kita yang utama. Jangan berikan cinta sedikit pun terhadap dunia, karena cinta dunia adalah pangkal kesalahan.
Oleh sebab itu, Rasulullah n mengingatkan,
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
“Siapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah l pasti meletakkan rasa kaya (cukup) di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia datang kepadanya padahal dia (dunia itu) tidak menyukainya. Sebaliknya, siapa yang dunia menjadi tujuannya, Allah pasti meletakkan kemiskinan di depan matanya, dan mencerai-beraikan urusannya, sementara itu dunia tidak mendatanginya selain apa yang sudah ditentukan baginya.”7
Alhasil, orang-orang yang beriman hanya sibuk mengabdikan diri kepada Allah l dengan menaati-Nya serta menjaga diri dari syubhat dan hal-hal yang menjauhkannya dari Allah l, sementara itu dunia tetap berada dalam genggamannya. Dia merasakan nikmatnya sesuap nasi yang ditelannya, seteguk air yang diminumnya, tanpa dia harus pusing memikirkan apa lagi usaha yang harus dilakukannya, bagaimana dia harus menjaga agar usaha itu tetap lancar dan berkembang. Waktunya 24 jam terasa kurang untuk merasakan rindu dan berbincang dengan Allah l. Dia tidak risau, apalagi iri (ghibthah).8
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat Tafsir as-Sa’di tentang ayat ini.
2 HR. Muslim no. 2999.

3 HR. at-Tirmidzi (2/64), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani (ash-Shahihah, 1/225).

4 Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (2484) dengan syawahid-nya.
5 HR. al-Bukhari no. 3158 dan Muslim no. 2961.

6 Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5155 dan Muslim no. 1427.
7 HR. at-Tirmidzi no. 2465, Ibnu Majah no. 4105, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (5/351), dan ash-Shahihah no. 950.
8 Merasa senang dengan nikmat yang ada pada orang lain tanpa ada keinginan nikmat itu hilang dari orang tersebut.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,27 April 2012/5 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly