PERINTAH UNTUK BERPEGANG DENGAN JAMAAH KAUM MUSLIMIN, TAAT KEPADA PEMERINTAH SERTA PERINGATAN KERAS DARI PERPECAHAN

(ditulis oleh: Al-Ustadz Zainul Arifin)

 

Rasulullah n bersabda:

“Barangsiapa memisahkan diri dari al-jamaah (penguasa kaum muslimin) sejengkal saja, maka sungguh dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.” (Namun tidak berarti dia kafir, tapi telah melakukan perbuatan yang mengantarkan kepada kekafiran, dan dia disebut ahlul bughat (pemberontak, -pent.). (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim hal. 419-420, hadits 892, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Rasulullah n juga bersabda:

“Tiga (golongan) yang jangan ditanya tentang mereka: Seseorang yang memisahkan diri dari al-jamaah, menentang (melawan) pemerintahnya, dan mati dalam keadaan sebagai pemberontak.” (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim hal. 422, 490, hadits 900, 1060, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Ibnu Mas’ud z berkata: “Wahai manusia, wajib bagi kalian untuk taat dan berpegang kepada al-jamaah. Karena sesungguhnya itu merupakan tali Allah U yang Dia perintahkan untuk berpegang dengannya. Dan sungguh sesuatu yang kalian benci dalam jamaah (persatuan) lebih baik daripada sesuatu yang kalian cintai dalam perpecahan.” (Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, 24 hal. 10)

Al-Imam Al-Auza’i t berkata: “Lima perkara yang para shahabat Nabi Muhammad n dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik senantiasa berada di atasnya: berpegang kepada al-jamaah, mengikuti As-Sunnah, memakmurkan masjid-masjid, membaca Al-Qur`an, dan berjihad di jalan Allah U.” (Al-Lalikai, no. 48 jilid 1 hal. 64)

Al-Imam Al-Barbahari t berkata:
“Barangsiapa yang memberontak kepada salah seorang dari pemerintah kaum muslimin, maka dia seorang Khawarij. Dan sungguh dia telah memecahkan tongkat (persatuan) kaum muslimin, telah menyelisihi atsar (As-Sunnah), dan mayatnya adalah bangkai jahiliyyah (menanggung dosa besar yang bisa kufur –pent).
Dan tidaklah halal memerangi pemerintah, tidak pula memberontak kepada mereka, meskipun mereka orang-orang yang dzalim. Dan itu adalah ucapan Rasulullah n kepada Abu Dzar Al-Ghifari: “Sabarlah, sekalipun dia (pimpinan itu) seorang budak Habasyah.” Dan juga sabda beliau kepada orang-orang Anshar: “Sabarlah, sampai kalian menemuiku di Al-Haudh (telaga).”
Dan memerangi pemerintah bukan dari Sunnah (Rasulullah n dan para shahabatnya). Karena sungguh, padanya terdapat kerusakan agama dan juga dunia.” (Syarhus Sunnah, Al-Barbahari, hal. 78)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly