Persatuan Hakiki adalah Kesepakatan Mengikuti Jejak Para Shahabat Nabi

Inilah kunci persatuan dan keselamatan dalam memahami Islam. Apabila setiap “kepala” memahami Islam dengan pemahamannya sendiri, Islam akan menjadi berapa macam?

Itulah sesungguhnya kenyataan yang ada ketika banyak kelompok menyempal dari Islam yang murni. Oleh karena itu, marilah kita kembali kepada prinsip ini agar umat Islam kembali bersatu dan selamat dalam memahami ajaran ini. Sebab, hal itulah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman dan mengajari kita untuk berdoa,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 6—7)

Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya kebebasan dari jalan orang yang dimurkai lagi dalam bidang keyakinan, ibadah, siasat, akhlak, dan ibadah lain merupakan syarat untuk bebas dari azab, kemurkaan, dan kesesatan. Kebebasan ini akan terwujud dengan cara mengikuti jalan para pendahulu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Mereka—dari umat ini—adalah para sahabat Rasulullah. Ini berarti sebuah keharusan mengikuti mereka, menelusuri jalan mereka, dan berpegang teguh dengan petunjuk mereka.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ayat ini menganggap penyimpangan dari jalan kaum mukminin sebagai sebab seseorang memeluk jalan kesesatan dan sebab masuk dalam jahannam. Demikian pula menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah, yang merupakan salah satu prinsip besar Islam, berkonsekuensi dan mengharuskan untuk mengikuti jalan kaum mukminin.

Adapun jalan kaum mukminin adalah ucapan dan perbuatan para sahabat. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya,

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 285)

Kaum mukminin (orang-orang yang beriman) saat itu adalah para sahabat, bukan yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,” (Luqman: 15)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Semua sahabat Nabi adalah orang yang kembali kepada Allah, wajib bagi kita mengikuti jalan mereka. Adapun ucapan dan keyakinan mereka adalah termasuk jalan mereka yang agung.”

Dari Ibrahim, dari Abidah, dari Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ. قَالَ إِبْرَاهِيمُ: وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya. Lalu datang kaum-kaum yang persaksian salah seorang mereka mendahului sumpah mereka. Sumpah salah seorang mereka mendahului persaksian salah satu dari mereka.” Ibrahim berkata, “Dahulu mereka memukul kami karena persaksian dan sumpah.”

Ibnu Mas’udz berkata, “Sesungguhnya Allah melihat kepada kalbu-kalbu hamba. Allah mendapati kalbu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebaik-baik kalbu mereka. Allah memilihnya dan mengutusnya dengan kerasulan. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala melihat kalbu-kalbu para hamba setelah kalbu Muhammad. Allah subhanahu wa ta’ala dapati kalbu para sahabatnya adalah sebaik-baik kalbu hamba. Allah jadikan mereka para pendamping nabi-Nya yang berperang dan memperjuangkan agamanya…”

Ibnu Mas’ud juga berkata, “Barang siapa ingin meniti jalan, telusurilah jalan orang yang telah meninggal. Sebab, yang masih hidup tidak terjamin aman dari fitnah. Mereka adalah para sahabat Nabi, manusia tebaik umat ini. Kalbunya paling baik, ilmunya paling dalam, paling jauh dari sikap takalluf (memberatkan diri). Mereka adalah kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Oleh karena itu, ketahuilah keutamaan mereka dan ikuti jejak mereka. Berpeganglah dengan apa yang mereka pegangi dari akhlak dan agama mereka; karena sesungguhnya mereka di atas petunjuk yang lurus.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Prinsip-prinsip sunnah (akidah) menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang ada padanya para sahabat dan mengikuti mereka.”

Abdullah bin Sahl at-Tustari rahimahullah berkata, “Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan hadits dan atsar (riwayat dari sahabat dan yang setelah mereka). Sungguh aku khawatir sebentar lagi akan muncul zaman yang apabila seseorang mengingatkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang berittiba’ akan mencelanya, menjauhkan darinya, berlepas darinya, menghinakan, dan merendahkannya.”

Atas dasar keterangan di atas, jauhilah orang-orang yang semaunya sendiri dalam memahami al-Qur’an, al-Hadits, maupun ajaran Islam. Terutama menjauhi orang-orang yang membebek orang kafir atau murtad dalam memahami Islam. Sebab, inilah sumber perpecahan, penyelewengan, dan kesesatan bahkan terkadang juga sumber kemurtadan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi


 Dinukil dari Bashairu Dzawi Syaraf, 45

Sahih, HR. al-Bukhari, Kitab asy-Syahadat no. 2652 dan Muslim dalam Kitabu Fadhail ash-Shahabat, no. 6416 dan no. 6419 dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Keduanya juga meriwayatkan dari Imran Ibnu Hushain yang semakna dengannya.

HR. Ahmad dinukil dari Bashairu Dzawi Syarafi, 63

Riwayat Ibnu Abdil Bar

Ushul as-Sunnah, al-Imam Ahmad

Fathu al-Majid hlm. 38 cetakan Ali Sinan. Lihat pula sebagai faidah I’lamu al-Muwaqi’in, 4/216—217

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Senin,14 November 2011/17 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly