Pertolongan Allah Turun (perang Ahzab III)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Peperangan memanglah tipu daya. Maka strategi menjadi salah satu faktor kunci untuk memenanginya. Tak terkecuali apa yang dilakukan kaum muslimin dalam perang Ahzab ini. Dengan pertolongan Allah l kemudian muslihat yang jitu, mereka berhasil memorakporandakan barisan pasukan koalisi musyrikin dan Yahudi.Muslihat Nu’aim bin Mas’ud z

Allah k –segala puji hanya milik Allah l– berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Dialah yang menghancurkan persekutuan musuh-musuh-Nya, menghinakan dan melemahkan kekuatan mereka.

Di antara yang Allah l jadikan sebab kehancuran mereka adalah datangnya seorang laki-laki Ghathafan bernama Nu’aim bin Mas’ud bin ‘Amir z. Dia datang kepada Rasulullah n, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah masuk Islam. Perintahkanlah saya berbuat sesuatu apa yang anda inginkan.”

Rasulullah n berkata kepadanya: “Engkau hanya sendirian. Lakukanlah muslihat untuk kami semampumu, karena perang itu adalah tipu daya.”

Dengan segera Nu’aim berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah di mana ia adalah teman mereka semasa jahiliah. Nu’aim masuk ke perkampungan mereka dalam keadaan mereka tidak mengetahui keislamannya. Kemudian dia berkata: “Wahai Bani Quraizhah, sesungguhnya kalian telah memerangi Muhammad n. Sementara jika orang-orang Quraisy mendapat kesempatan tentulah mereka manfaatkan. Jika tidak, niscaya mereka akan segera kembali ke kampung halaman mereka dan membiarkan kalian menghadapi Muhammad n. Sudah tentu dia (Muhammad n) akan menghabisi kalian.”

Mereka bertanya: “Lantas apa yang harus kami lakukan, wahai Nu’aim?”

Kata Nu’aim: “Kalian jangan mau berperang bersama Quraisy sampai mereka memberi jaminan.” Mereka pun berkata: “Sungguh, engkau telah memberikan saran yang tepat.”

Selanjutnya, Nu’aim datang menemui orang-orang Quraisy, katanya kepada mereka: “Kalian sudah tahu kecintaanku kepada kalian, juga nasihat-nasihatku.” Kata mereka: “Benar.”

Kata Nu’aim lagi: “Sebetulnya, orang-orang Yahudi menyesal melanggar perjanjian mereka dengan Muhammad n dan para sahabatnya. Mereka sudah mengirim utusan kepadanya (Muhammad n)) bahwa mereka meminta jaminan dari kalian agar kalian serahkan kepadanya, lantas mereka akan melobi kalian. Kalau mereka meminta jaminan kepada kalian, janganlah kalian berikan.”

Setelah itu, Nu’aim mendatangi orang-orang Ghathafan dan mengatakan kalimat yang sama dengan yang diucapkannya kepada yang lainnya.

Begitu masuk malam Sabtu bulan Syawwal, pasukan sekutu itu menemui tokoh-tokoh Yahudi dan mengatakan: “Kami bukan penduduk asli di sini, perbekalan dan sepatu khuf kami sudah rusak. Maka, marilah bangkit bersama kami agar kita bisa menumpas Muhammad n.”

Mendengar hal ini, orang-orang Yahudi mengatakan: “Sesungguhnya hari ini adalah hari Sabtu. Dan kalian sudah tahu apa yang menimpa para pendahulu kami ketika mereka mengada-adakan sesuatu pada hari itu. Namun demikian, kami juga tidak akan berperang bersama kalian sampai kalian memberi jaminan kepada kami.”

Ketika utusan itu datang menyampaikan hasilnya kepada mereka, orang-orang Quraisy berkata: “Sungguh, benar apa yang dikatakan Nu’aim.” Merekapun mengirim utusan lagi kepada orang-orang Yahudi dan mengatakan: “Sungguh, kami, demi Allah tidak akan menyerahkan apapun kepada kalian. Keluarlah bersama kami sampai dapat menghabisi Muhammad n.”

Orang-orang Quraizhah berkata pula: “Sungguh, benar apa yang dikatakan Nu’aim.” Lalu keduanya saling mengejek.

 

Tentara Sekutu Mulai Goyah

Kemudian, pada malam musim dingin yang berat itu Allah l kirimkan kepada kaum musyrikin ‘tentara’ berupa angin kencang, yang menerbangkan tenda-tenda serta memorakporandakan peralatan dan bekal mereka. Akhirnya mereka tidak lagi dapat bertahan lama di sana. Sementara tentara Allah l dari kalangan malaikat menggoncang bumi yang mereka pijak dan melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka.

Al-Imam Ahmad v meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Hudzaifah z, bahwa Rasulullah n bersabda:

‘Siapa yang mau mencari berita apa yang dilakukan mereka?’ Rasulullah n mensyaratkan bahwa dia harus kembali, niscaya Allah masukkan dia ke dalam surga. Namun tidak ada seorangpun yang berdiri. Kemudian Rasulullah n shalat malam itu, lalu menoleh kepada kami: ‘Siapa yang mau mencari berita apa yang dilakukan mereka, kemudian kembali?’ Rasulullah n mensyaratkan dia harus kembali, ‘Saya mohon kepada Allah agar dia menjadi temanku di dalam surga’.
Namun tidak ada juga yang bangkit berdiri, karena takut dan beratnya rasa lapar serta dingin yang menusuk tulang. Ketika tidak juga ada yang bangkit, Rasulullah n memanggilku. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak berdiri ketika beliau memanggilku. Kata beliau: ‘Hai Hudzaifah, pergilah menyusup ke tengah-tengah mereka dan lihat apa yang mereka lakukan. Jangan melakukan tindakan apapun hingga engkau menemuiku.’
Akupun mulai menyusup ke tengah-tengah mereka, sementara angin dan tentara Allah l berbuat apa yang dia lakukan, sehingga periuk mereka berantakan. Demikian pula api dan tenda-tenda mereka. Abu Sufyan bin Harb berkata: ‘Wahai kaum Quraisy, hendaknya setiap orang dari kalian melihat siapa teman duduk di sebelahnya.’
Hudzaifah pun berkata: ‘Akupun segera mencekal tangan orang di sebelahku dan berkata: ‘Siapa engkau?’ Dia berkata: ‘Saya Fulan bin Fulan.’
Kemudian Abu Sufyan berkata: ‘Wahai sekalian Quraisy, sesungguhnya kalian demi Allah tidak berada di tempat yang tetap. Perbekalan sudah hancur dan Bani Quraizhah telah mengingkari (kesepakatan dengan) kita. Sudah sampai kepada kita berita yang tidak kita sukai. Dan kitapun sudah mendapati dari angin kencang ini apa yang kalian lihat. Demi Allah, periuk tidak lagi pada tempatnya, api juga padam, dan tenda-tenda kita roboh, maka berangkat (pulang) lah kalian, karena sesungguhnya aku akan berangkat.’
Setelah itu dia beranjak ke arah tunggangannya yang terikat dan duduk di atasnya. Setelah itu dia memukulnya dan melompat tiga kali, tidaklah dia melepaskan tali penambatnya melainkan dia sudah berdiri. Kalau bukan janji Rasulullah n agar ‘Jangan berbuat sesuatu, sampai menemuiku’, kalau aku mau pasti aku panah dia sampai mati.’
Kata Hudzaifah pula: ‘Kemudian aku kembali menemui Rasulullah n yang sedang shalat di kain selimut bergaris milik salah seorang istrinya. Ketika beliau melihatku, beliau memasukkan aku ke dalam kemahnya dan melemparkan ujung selimut itu kemudian rukuk dan sujud sementara beliau di dalamnya. Setelah selesai salam, aku pun menceritakan hasilnya kepada beliau.
Orang-orang Ghathafan yang juga mendengar tindakan Quraisy segera bersiap kembali ke kampung halaman mereka.”
Akhirnya, Allah l menghalau musuh-musuh-Nya dalam keadaan penuh kejengkelan. Mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Allah l menghindarkan kaum mukminin dari peperangan. Dia menepati janji-Nya, memuliakan tentara-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan pasukan sekutu sendirian. Kemudian Rasulullah n dan para sahabat kembali ke Madinah serta meletakkan senjata mereka.
Namun Jibril q menemui beliau yang sedang mandi di rumah Ummu Salamah dan berkata: “Engkau sudah meletakkan senjatamu? Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka. Majulah menyerang mereka ini, yakni Bani Quraizhah. Maka Rasulullah n berseru:

“Siapa yang mendengar dan taat, maka janganlah dia shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar c)
Maka berangkatlah kaum muslimin secepatnya, sedangkan persoalan Bani Quraizhah adalah sebagaimana telah disinggung sebelumnya.
Dalam perang Khandaq ini, yang gugur sebagai syuhada dari kalangan kaum muslimin sekitar sepuluh orang.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,17 November 2011/20 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly