Sikap Muslimin Terhadap Film Yang Menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alusy Syaikh, kepada segenap kaum muslimin yang membacanya, semoga Allah menyelamatkan mereka. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du; Kita memuji Allah Subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, serta beriman kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala juga telah menganugerahkan nikmat dan keutamaan dengan menurunkan kitab-Nya yang termulia, al-Qur’an, al- Furqan, kepada kita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan:1)

Allah Subhanahu wata’ala juga memberi anugerah kepada kita—dan Dia adalah Dzat Pemilik keutamaan dan anugerah—dengan mengutus Rasul-Nya yang termulia, penutup para nabi-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang nabi dari keturunan Bani Hasyim, dari suku Quraisy. Menjadi teranglah cahaya kenabian atas beliau. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dengan menjadikan beliau sebagai rasul dan mengutusnya kepada makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala pun mengistimewakan beliau dengan berbagai karamah, sekaligus menjadi perantara (penyampai risalah) yang tepercaya antara Dia dan para hamba-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan dan mengajari mereka al-Kitab dan hikmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Dengan mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mewujudkan tauhid yang dengannya Dia menghapus kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala pun menjadikan cahaya yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa sebagai penerang kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (al-An’am: 122)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

Diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah rahmat bagi alam semesta ini, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)

Dengan pengutusan beliau, terwujudlah rahmat yang sempurna yang memperbaiki kehidupan mereka di dunia dan keadaan mereka di hari kiamat,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at- Taubah: 128)

Di samping memerintahkan pengagungan terhadap perintah Allah, syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga membawa kasih sayang bagi seluruh hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ () وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ()  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5—7)

Para ulama mengatakan bahwa dua pokok ini—mengagungkan perintah Allah dan membawa kasih sayang bagi para hamba-Nya—adalah sifat umum agama ini. Seiring dengan kesempurnaan agama Islam yang agung ini, yang dasar tujuannya sesuai dengan fitrah yang lurus, penuh toleransi dan kemudahan dalam hal pensyariatan, penuh keadilan dan keseimbangan dalam memenuhi hak, penuh kebaikan dalam hal bantuan dan pemberian; sungguh urusan dan keadaannya telah mencapai apa yang diliputi oleh malam dan siang. Manusia pun masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong. Dengan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala menentukan terjadinya pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Di antara ketentuan- Nya tersebut adalah adanya orang-orang yang benci dan tidak menyukai para nabi dan rasul serta kebenaran yang jelas yang mereka ajarkan. Hal ini disebabkan buruknya hati mereka dan rusaknya fitrah mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (al-Furqan: 31)

Yang mereka inginkan adalah,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Jadi, di antara para setan itu adalah setan dari kalangan manusia dan jin.  Sejarah mengungkapkan berbagai tipu daya, metode, ucapan, dan perbuatan yang merupakan makar dan muslihat yang mereka usahakan dalam rangka mencela hamba dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala telah melindungi beliau dari makar mereka dan mengembalikannya ke leher mereka. Demikianlah. Di antara upaya sesat dan putus asa mereka yang terakhir adalah apa yang menjadi berita pada hari-hari ini, yaitu penyebaran sebuah film yang berupaya menghina Nabi n. Kami ikuti pula perkembangan penolakan lembagalembaga Islam dan Negara terhadap upaya kotor yang tidak direstui oleh akal sehat dan agama tersebut. Oleh karena itu, kami ingin menjelaskan beberapa poin penting berikut kepada segenap pihak.

1. Tindakan kriminal yang buruk ini, yaitu penyebaran film yang jelek tersebut, sama sekali tidak memadaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  yang mulia dan agama Islam. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala  telah mengangkat kedudukan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus menjadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintah beliau. Allah telah menganugerahi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemenangan yang nyata. Allah Subhanahu wata’ala juga melindungi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari seluruh manusia dan memberi kecukupan kepada beliau dari orang-orang yang mengolok-olok beliau. Selain itu, Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan al-Kautsar kepada beliau dan menjadikan orang yang membenci beliau sebagai orang yang terputus (kebaikannya). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ () وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ () الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ () وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu?” (al-Insyirah: 1—4)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا () لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا () وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (al-Fath: 1—3)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (al-Maidah: 67)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (az-Zumar: 36)

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (al-Hijr: 95)

Firman-Nya yang lain,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Semakin besar upaya jelek orang-orang jahat tersebut, akan semakin tersebar pula keutamaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketinggian agama Islam. Ini adalah bukti atas kebenaran ayat ayat mulia di atas.

2. Seorang muslim diperintah dan dituntut—dalam setiap hal yang dilakukannya atau ditinggalkannya—untuk selalu mengikuti petunjuk dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Dengan demikian, pengingkaran seorang muslim terhadap tindakan kriminal ini juga wajib disesuaikan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Kitab- Nya dan oleh Rasulullah dalam sunnah beliau. Kemurkaan dan kemarahan mereka hendaknya tidak melampaui syariat hingga menyebabkannya melakukan hal yang dilarang. Sebab, jika demikian, berarti kaum muslimin tanpa sadar benar-benar telah masuk perangkap yang menjadi tujuan film yang jelek tersebut. Haram hukumnya melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam kejahatan seorang kriminal dan pendosa. Haram pula hukumnya melampaui batas terhadap orang orang yang dilindungi darah dan hartanya, atau memprovokasi massa untuk membakar dan menghancurkan (bangunan).

Tindakan tindakan tersebut justru memperburuk citra agama Islam. Tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sama sekali tidak termasuk sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah mencela orang-orang yang membakar rumah mereka dengan tangan mereka sendiri, dan kita harus mengambil pelajaran dari keadaan mereka tersebut. Pada kesempatan ini, hendaknya kita juga mengingat bahwa tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam— yang berhak kita tebus dengan diri dan keluarga kita—diolok-olok kecuali semakin menekuni akhlak yang utama dan perangai yang mulia, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ () وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (al-Hijr: 97—99)

Sungguh, Allah Subhanahu wata’alatelah menyebutkan sifat beliau dalam firman-Nya,

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, dari hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia ditanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan di dalam Taurat.” Abdullah bin Amr  menjawab, “Sungguh, sifat beliau yang disebutkan dalam Taurat adalah seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an, ‘Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelindung kaum yang ummi. Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku namai engkau al-Mutawakkil. Engkau bukan orang yang kasar tutur katanya, keras perangainya, dan suka berteriak di pasar. Engkau juga tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, tetapi dengan kebaikan. Engkau justru memaafkan dan mengampuni. Aku tidak akan mewafatkannya hingga Aku tegakkan agama yang telah bengkok itu. Melalui dia, Aku buka mata-mata yang buta, telingatelinga yang tuli, dan hati-hati yang lalai, dengan mereka mengucapkan La ilaha illallah’.”

Apabila pengingkaran yang luas di dunia Islam tidak menimbulkan tindakantindakan positif dan konstruktif, tentu hal itu tidak akan bertahan lama dan segera berakhir pengaruhnya, seakan-akan tidak terjadi apa pun sebelumnya. Oleh karena itu, bentuk pembelaan terbesar terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meneladani petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyebarkan keutamaan-keutamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari sejarah kehidupan beliau, dan menyebarkan kebenaran Islam serta ajaran-ajarannya.

3. Kaum muslimin harus sadar sepenuhnya bahwa perbuatan dosa dan kriminal tersebut tidaklah ditujukan untuk menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka (yang melakukannya) tahu bahwa mereka sama sekali tidak bisa memberi madarat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, yang kami ketahui dengan pasti—bukan hanya sangkaan—

dengan membaca sejarah hingga saat ini, musuh-musuh (agama) yang menyalakan gejolak ini atau provokasi lainnya, menyelipkan banyak tujuan. Di antara ambisi mereka adalah memalingkan kaum muslimin dari pekerjaan besar yang sedang mereka lakukan: membangun negara, mewujudkan persatuan, dan menggapai kemodernan serta kemajuan. Karena itu, bantahan yang gamblang terhadap penghinaan tersebut adalah kaum muslimin hendaknya terus melaju, giat, dan bertekad kuat untuk membangun dan mengembangkan negeri mereka, hingga mereka mampu menunaikan tanggung jawab dan amanah sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

4. Pada kesempatan ini, kami mendorong dan menuntut agar negara-negara serta organisasi multilateral di dunia bergerak mengajukan tuntutan pidana terhadap tindakan penghinaan kepada para nabi dan rasul, seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, Alaihissalam, yang dihormati, diagungkan dan dimuliakan oleh nurani kemanusiaan. Sungguh, negeri dua tanah suci, Kerajaan Arab Saudi, memiliki tuntutan yang lebih dalam hal ini. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar meliputi seluruh penjuru dunia ini dengan kebaikan, memberi taufik kepada kaum muslimin agar menyatukan langkah mereka, dan memperbaiki keadaan mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuasa untuk mewujudkannya. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya.

Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Dewan Ulama Besar & Komite Penelitian Ilmiah dan Fatwa

(Sumber http://www.sahab.net/ home/?p=975)


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly