Sifat-sifat Mulia Istri

Dari anggota rumah tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara rumah adalah istri, karena dia adalah ratu, anchor (jangkar) dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam bahasa Arab dia disebut dengan ’Um’ yang berarti ibu, induk tempat kembali.

Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena perannya yang signifikan di dalamnya, maka istri harus membekali diri dengan sifat-sifat sehingga dengannya dia bisa mengemban tugas dan memainkan perannya sebaik mungkin, dengan itu maka kondisi yang membahagiakan dan siatuasi yang menentramkan di dalam rumah akan terwujud.

Rahasia Keluarga

Laki-laki yang pandai cenderung memilih wanita yang pandai menyimpan rahasia keluarga, karena rahasia keluarga bukan gosip artis yang menjadi santapan empuk media masa gombalan, cukuplah anggota keluarga yang mengetahui, cukuplah istri saja yang mengetahui lalu menyimpannya dalam-dalam seraya mencari cara mengatasinya.

Laki-laki kurang suka terhadap wanita yang teledor lagi bodoh, wanita ember yang mulutnya lebar, menampung apa yang dimasukkan ke dalamnya dan bila sudah penuh maka akan meluber, selalu berbicara tentang berita-berita manusia dan membeber rahasia mereka dan menjadikannya sebagai bahan gosip, wanita seperti ini tak dijamin suatu saat akan mengunggah aib suaminya ke ranah perbincangan publik.

Allah telah menyatakan bahwa istri adalah libas, pakaian, yang salah satu fungsinya adalah menutup apa yang tak patut terbuka dari badan, maka istri yang baik pun selayaknya demikian, menutup apa yang kurang patut untuk dibuka di depan orang lain, itu baru namanya istri yang baik.

Allah menyatakan bahwa wanita yang shahih adalah wanita yang menjaga diri, termasuk menjaga diri adalah menjaga rahasia-rahasia dan hal-hal yang terjadi di antaranya dengan suami.

Mengalir bersama Suami

Dengan mempunyai pemikiran yang realistis sejak memulai hidup, tidak berharap terwujudnya keselarasan dan kesepahaman antara dirinya dengan suaminya begitu keduanya disatukan oleh pernikahan secara otomatis, akan tetapi yang ada di benaknya adalah bahwa keselarasan emosi dan pemikiran memerlukan tahapan dan mengharuskan usaha, yang diperlukan di sini bukan dia harus menjauhi segala percobaan, atau menjauhkan dirinya dari apa yang mungkin membuatnya salah, akan tetapi yang diperlukan adalah mencoba, berusaha dan mengambil manfaat darinya serta tidak mengulang kesalahan itu sendiri.

Dia memiliki keinginan yang kuat untuk meraih kesepahaman, selalu berusaha mewujudkan keserasian dan keselarasan bersama pendamping hidupnya sedikit demi sedikit dengan tetap berpegang kepada sebab-sebab kesabaran, ketenangan dan ketekunan dalam rangka menjauhi pemicu percekcokan dan meminimalkan sebab-sebab perselisihan serta menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya ruh saling menyintai dan menyayangi.

Mustahil terwujud keselarasan tanpa adanya sikap mengalah dari suami atau istri dengan meninggalkan sebagian bentuk tingkah laku dan kebiasaan lamanya.

Seimbang antara Hak Allah dengan Hak Suami

Sebagian wanita mengira bahwa banyak beribadah kepada Allah Ta’ala walaupun harus mengorbankan suami atau keluarganya bisa mendekatkannya kepada Allah, sebuah dugaan yang patut bagi setiap wanita yang mengerti menjauhkan diri darinya, karena yang memerintahkannya beribadah kepada Allah adalah Allah, Dia juga yang memerintahkan istri menunaikan hak-hak suami.

Hak suami atas istri besar, karena sebuah ibadah sunnah yang hendak dilakukan oleh istri dan menghalangi hak suami, maka istri patut meraih restu suaminya dulu. Dari sini maka tidak patut bagi istri dengan alasan menunaikan hak Allah melalaikan hak suami. Istri yang baik adalah istri yang tahu kapan hak Allah dan kapan hak suaminya. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa,29 Mei 2012/8 Rajab 1433H

Print Friendly