Rububiyah Allah adalah Ijma’ Umat Manusia

Al-Qur`an al-Karim menjelaskan umat manusia yang tersebut dalam al-Qur`an adalah orang-orang yang mengakui rububiyah Allah, pengakuan manusia kepada rububiyah mendahului pengakuan mereka terhadap ilahiyah. Pengakuan terhadap rububiyah bersifat umum pada semua manusia, tidak seorang manusia pun yang mengklaim bahwa alam raya ini mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, orang-orang musyrikin dari kalangan Arab, ahli kitab dan orang-orang Majusi tidak pernah meyakini bahwa sesembahan mereka berserikat bersama Allah dalam menciptakan langit dan bumi.

Kalaupun ada pengingkaran terhadap rububiyah, maka ia hanya menyentuh salah satu sisinya, yaitu apa yang dinukil dari sebagian orang bahwa rububiyah Allah tidak bersifat menyeluruh, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Majusi dan Qadariyah, namun hal ini bukan mengingkari dasar rububiyah.

Fir’aun adalah orang yang paling terkenal dengan kepura-puraannya dalam mengingkari Pencipta, padahal di dalam hatinya dia juga mengakuinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Musa, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.” (Al-Isra`: 102).

Allah Ta’ala berfirman tentangnya dan tentang kaumnya, “Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (An-Namul: 14).

Oleh karena itu saat dia berkata kepada Musa dalam konteks pengingkaran, padahal sebenarnya dia mengetahui namun berpura-pura, “Siapa Tuhan alam semesta?” Maka Musa menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayaiNya. Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, ‘Apakah kamu tidak mendengarkan?’ Musa berkata pula, “Tuhanmu dan Tuhan nenek-nenek moyangmu yang dahulu.’ Fir’aun berkata, ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepadamu sekalian benar-benar orang gila.’ Musa berkata, ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mempergunakan akal.” (Asy-Syu’ara`: 24-28).

Tidak diketahui seseorang pun dari kelompok-kelompok manusia yang berkata bahwa alam ini mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan, karena Tsnawiyah dari kalangan Majusi dan Manawiyah yang menetapkan dua tuhan: cahaya dan kegelapan dan bahwa alam ini berasal dari keduanya, sepakat bahwa cahaya lebih unggul daripada kegelapan dan ia adalah Tuhan yang terpuji, sedangkan kegelapan adalah kejahatan dan keburukan, mereka sendiri berbeda pendapat tentang kegelapan ini, apakah ia qadim atau muhdtas? Jadi mereka tetap tidak menetapkan dua Tuhan yang setara.

Adapun orang-orang Nasrani yang menetapkan dasar trinitas, mereka tidak menyatakan bahwa alam memiliki tiga tuhan, sebagian terpisah dari yang lain, akan tetapi mereka sepakat bahwa pencipta alam adalah satu dan mereka menetapkan tuhan bapak, anak dan ruhul qudus sebagai tuhan yang satu.

Keyakinan trinitas mereka merupakan keyakinan yang kontradiktif, pendapat mereka yang menetapkan akidah hulul lebih rusak, oleh karena itu mereka saling berselisih di antara mereka sendiri dalam memahaminya dan mengungkapkannya, dan salah seorang dari mereka hampir-hampir tidak kuasa mengungkapkan dalam sebuah makna yang logis, dan tidak ada dua orang dari mereka yang sepakat di atas makna yang satu, mereka berkata, Esa dalam dzat dan tiga pada oknum. Mereka terkadang menafsirkan oknum dengan orang khusus, terkadang dengan sifat dan terkadang dengan personal, dan Allah telah memfitrahkan manusia di atas pengakuan terhadap rusaknya pendapat-pendapat di atas setelah dicerna dengan sempurna. Secara umum mereka tidak menetapka dua Tuhan yang setara.

Yang menjadi maksud di sini adalah bahwa tidak ada satu pun aliran di muka bumi ini yang menetapkan dua tuhan yang setara, padahal tidak sedikit dari ahli kalam, para pengkaji dan orang-orang filsafat berlelah-lelah dalam menetapkan dan  membuktikan target ini, di antara mereka ada yang mengaku tidak kuasa menetapkan hal ini dengan akal, sehingga dia pun harus mengakui bahwa dia menetapkannya melalui dalil sam’i.

Di antara sebab-sebab syirik adalah penyembahan terhadap bintang-bintang dan menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan menurut apa yang dikira sesuai dengan tabiat bintang-bintang, ada yang berkata bahwa syirik kaum Ibrahim lahir dari pintu ini, demikian juga syirik kepada malaikat, jin dan membuat berhala-berhala mereka.

Mereka itu sebenarnya tetap mengakui pencipta, dan bahwa alam ini tidak memiliki dua pencipta, hanya saja mereka mengangkat sesembahan-sesembahan tersebut sebagai pemberi syafaat, sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan tentang mereka, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

Demikian pula keadaan umat-umat yang telah berlalu yang mendustakan para rasul, sebagaimana yang Allah Ta’ala kisahkan tentang mereka pada kisah Shalih terkait dengan sembilan orang yang saling bersumpah dengan nama Allah, yakni mereka bersumpah setia untuk membunuhnya dan keluarganya malam ini. Para perusuh yang musyrik tersebut saling bersumpah dengan nama Allah untuk membunuh nabi mereka dan keluarganya, hal ini membuktikan bahwa mereka beriman kepada Allah dengan iman ala orang-orang musyrikin. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,12 September 2012/25 Syawal 1433H

Print Friendly