SYUBHAT SEPUTAR DOA

Tauhid Ilahiyah bertumpu kepada penghambaan kepada Allah Ta’ala semata tiada sekutu bagiNya. Ibadah adalah sebuah nama general bagi amal perbuatan dan perkataan, lahir dan batin yang dicintai dan diridhai oleh Allah.

Sedangkan doa adalah inti dan dasar ibadah, dalam hadits an-Nu’man bin Basyir secara marfu’

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Doa adalah ibadah.” Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, at-Tirmidzi 2969 berkata, “Hasan shahih.”

Allah Subhanahu menjawab doa sekalipun ia dari orang kafir, karena hal itu termamsuk tuntutan rubibiyahNya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,artinya, “Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu.” (Al-Isra`: 20), hanya saja orang kafir tidak mengambil manfaat dari doa di akhirat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan: 23).

Yang diyakini oleh kebanyakan manusia dari kalangan kaum muslimin dan para pengikut agama lain adalah bahwa doa termasuk sebab paling kuat dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudharat. Allah telah mengabarkan tentang orang-orang kafir bahwa bila mereka ditimpa kesulitan di laut, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dan bahwa bila manusia ditimpa kesulitan, dia akan berdoa dengan berbaring atau duduk atau berdiri.

Jawaban Allah terhadap doa hamba, baik dia muslim atau kafir dan pemberianNya terhadap apa yang dia minta termasuk ke dalam rizkiNya kepadanya dan pertolonganNya kepadaNya, ia termasuk yang dituntut oleh rububiyahNya atas para hamba secara mutlak, selanjutnya hal ini bisa menjadi ujian baginya dan kerugian atasnya.

Dalam Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسأل اللَّهَ يغضب عَلَيْه

Barangsiapa tidak meminta kepada Allah maka Allah murka atasnya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani.

Sebagian penyair menyusun kata-kata yang senada dengan hadits ini, dia berkata,

Ar-Rabb marah bila kamu tidak meminta kepadaNya
Sedangkan manusia, bila diminta malah marah.

Disyariatkannya doa menetapkan sifat-sifat Allah, al-ghina, as-sam’u, al-karam, ar-rahmah dan al-qudrah (kemandirian, pendengaran, kemurahan hati, rahmat dan kodrat) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala menganjurkan hamba-hambaNya untuk berdoa, dan hal itu mengandung makna-makna mulia:

Pertama: Wujud, karena yang tidak ada tidak dipanggil.

Kedua: Kemampuan atau kemandirian, karena yang fakir tidak diminta.

Ketiga: Pendengaran, karena yang tuli tidak dipanggil.

Keempat: Kedermawanan, karena yang bakhil tidak diminta.

Kelima: Rahmat (kasih sayang), karena yang kasar tidak dipanggil.

Keenam: Kodrat, karena yang tidak kuasa tidak diminta.

Syubhat pertama: Pertentangan antara doa dengan takdir

Bila doa adalah ibadah, berpegang kepadanya berarti berpegang kepada syariat, maka di sini muncul sebuah pertanyaan yang masih terus terlontar di alam ini, yaitu hubungan antara syariat dengan takdir, dan sudah dipahami bahwa Ahlus Sunnah menetapkan takdir dan beriman kepadanya, dan mereka tidak menjadikan takdir bertentangan dengan syariat, hanya saja orang-orang yang tersesat di bidang takdir mungkin menyangka bahwa doa tidak berguna dengan alasan bahwa ia tidak merubah takdir sedikit pun.

Sekelompok orang dari kalangan ahli filsafat dan orang-orang sufi ekstrim berpendapat bahwa doa tidak berguna, mereka berkata, bila kehendak Ilahiah berkenan terwujudnya apa yang diinginkan maka doa tidak diperlukan, bila tidak berkenan terwujudnya apa yang diinginkan maka doa juga tidak berguna. Sebagian dari mereka menganggap ditinggalkannya doa merupakan ciri khas orang-orang arif yang mengetahui, sementara doa adalah sebuah kelemahan yang dimiliki oleh oleh orang-orang awam.

Pendapat ini, sebagaimana ia diketahui rusak secara mendasar dari sisi pandangan agama Islam, ia juga diketahui rusak secara mendasar dari sisi logika sederhana, sebab manfaat doa adalah sesuatu yang telah diterima dan diakui oleh percobaan-percobaan para umat, bahkan orang-orang filsafat sendiri berkata, “Kegaduhan suara dalam rutinitas ibadah dengan berbagai macam bahasa membuka apa yang disimpulkan oleh falak-falak yang berpengaruh.”

Jawaban terhadap syubhat adalah dengan menolak pembatasan perkara dua mukadimah tersebut, karena ucapan mereka tentang kehendak Ilahiyah, “Bila ia menuntutnya atau tidak menuntutnya.” Tidak tepat, sebab masih ada bagian yang ketiga, yaitu menuntut dengan syarat dan tidak menuntut saat syarat tersebut tidak terwujud, dan bisa jadi doa adalah syaratnya, sebagaimana pahala terwujud dengan adanya amal shalih dan tidak terwujud dengan tidak adanya amal shalih, sebagaimana lapar dan haus akan terangkat dengan makan dan minum dan keduanya akan tetap ada saat makan dan minum tidak ada, terwujudnya kehamilan dengan persetubuhan, tumbuhnya tanaman dengan penanaman. Bila terwujudnya kandungan doa telah ditakdirkan dengan doa maka tidak tepat kalau dikatakan bahwa doa tidak bermanfaat, sebagaimana tidak dikatakan bahwa makan, minum, bercocok tanam dan sebab-sebab lainnya tidak berguna.

Ucapan mereka, “Bila kehendak Ilahiyah menuntut terwujudnya kandungan doa maka doa tidak diperlukan.” Kami katakan, tidak demikian, karena bagaimana pun ia tetap dibutuhkan dalam rangka mewujudkan kemaslahatan yang lain, di dunia atau di akhirat, atau menolak mudharat yang lain, di dunia atau di akhirat.

Demikian pula ucapan mereka, “Bila kehendak Ilahiyah tidak menuntutnya maka ia tidak berguna.” Kami katakan, tidak demikian, karena sebaliknya ia mengandung faidah-faidah yang agung, berupa terwujudnya manfaat-manfaat dan tertolaknya mudharat-mudharat, sebagaimana hal tersebut dikatakan oleh Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, bahkan apa yang disegerakan untuk hamba berupa pengetahuannya tentang Rabbnya, pengakuannya kepadaNya dan bahwa Dia adalah Maha mendengar, Mahadekat, Mahakuasa, Maha mengetahui dan Maha Penyayang, pengakuan hamba terhadap ketergantungannya kepadaNya, kebutuhannya yang mendasar kepadaNya dan ilmu-ilmu yang tinggi dan keadaan-keadaan yang suci yang mengikuti semua itu, di mana ia termasuk tujuan paling agung. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 2 Oktober 2012/16 Dzulkaidah 1433H

Print Friendly