Ummu Hani

Nama Dan Nasab Nasab 

Dia adalah Fakhitah bintu Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim

Ummu hani bintu Abu Thalib adalah saudara kandung Ali , ‘Uqail, Ja’far dan Thalib. Sedangkan ibu mereka adalah Fatimah bintu Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf. Mengenai nama ummu hani terdapat perbedaan pendapat, namun kebanyakan pendapat menyebutkan namanya adalah Fakhitah. (Al-Isti’ab: 1/611)
Beliau masuk Islam pada hari pembukaan Makkah.

Kisah Ummu Hani Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam 

Ada beberapa kisah Ummu Hani bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari sebagian kisah itu adalah sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melamar Umma Hani binti Abi Thalib, Ummu Hani pun menjawab: “Wahai Rasulullah, aku sudah tua, selain itu aku mempunyai anak”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sabaik-baik wanita yang menaiki unta adalah wanita Quraisy, yang paling sayang kepada anak pada masa kecilnya, dan yang paling memelihara hak-hak suaminya”. (Musnad Imam Ahmad bin Hambal: 2/269)
Kisah lain dari Ummu Hani bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kisahnya pada hari pembukaan Kota Makkah, Ummu Hani berkata: “Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada tahun pembukaan kota Makkah, maka aku menemuinya sedang mandi, yang mana anaknya Fatimah sedang menutupnya, maka aku pun memberi salam kepadanya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Siapa itu”, aku pun menjawab: “Aku Ummu Hani binti Abu Thalib”, beliau berkata: “Marhaban bagi Ummu Hani”, ketika beliau selesai mandi, beliau pun shalat delapan raka’at dengan memakai sehelai baju. Ketika beliau selesai dan berpaling, aku berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, saudaraku (Ali bin Abu Thalib) mengaku bahwa dia sedang memburu (memerangi) laki-laki yang telah aku lindungi keselamatannya, yaitu fulan bin Hubairah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Kami akan melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani.” Ummu Hani berkata: “Itulah pengorbanan”. (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan Ummu Hani’ dia berkata: “Saya duduk didekat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian disodorkan air kepada beliau lalu beliau meminumnya dan memberikan sisanya kepadaku, lantas saya meminumnya, lalu saya berkata, mohonkanlah ampun untukku karena saya telah berbuat dosa, beliau bertanya: ” Apa yang telah kamu perbuat?” saya menjawab, saya pernah berpuasa lalu saya membatalkan puasaku, beliau kembali bertanya: “Apakah itu puasa qadla’? Saya menjawab, tidak. Beliau bersabda: “Hal itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Tirmidzi, Kitab: Puasa, Bab: Membatalkan puasa bagi yang puasa sunnah, No. Hadist: 663)

Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ummu Hani: “Apakah engkau mempunyai makanan yang bisa aku makan?”, yang mana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam waktu itu dalam keadaan lapar. Maka Ummu Hani menjawab: “Sesungguhnya aku hanya mempunyai danging kering berserta tulangnya, dan aku malu untuk memberikannya kepada anda”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Berikan saja ia kepadaku”. Maka Ummu Hani memotongnya kemudian ia menaburkan garam di atasnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apakah ada bumbu?”, Ummu hani berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai kecuali cuka”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Berikanlah kepadaku”, ketika Ummu Hani memberikan cuka itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menuangkannya diatas makanannya, kemudian beliau memakannya dan setelahnya beliau memuji Allah ta’ala dan berkata: “Sebaik-baik bumbu adalah cuka, wahai Ummu Hani tidaklah miskin rumah yang padanya terdapat cuka”. (Al-Mustadrak 4/59)

Beberapa Hadist Yang Diriwayatkan Ummu Hani 

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata: “Tidak ada seorangpun yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat dhuha, selain Ummu Hani`, dialah yg menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah masuk rumahnya ketika Penaklukan kota Makkah, lalu beliau mandi kemudian shalat delapan rakaat. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan dari pada shalatnya ketika itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk & sujudnya”. (HR. At-Tirmidzi)

Ummu Hani berkata: “Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada tahun pembukaan kota Makkah, maka aku menemuinya sedang mandi, yang mana anaknya Fatimah sedang menutupnya, maka aku pun memberi salam kepadanya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Siapa itu”, aku pun menjawab: “Aku Ummu Hani binti Abu Thalib”, beliau berkata: “Marhaban bagi Ummu Hani”, ketika beliau selesai mandi, beliau pun shalat delapan raka’at dengan memakai sehelai baju. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ummu Hani: “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Maimunah mandi dalam satu wadah, yang mana tempat itu terdapat sisa adonan tepung”. (HR. An-Nasai)

Wafatnnya: 

Tidak ada sumber yang menyebutkan kapan Ummu Hani meninggal, namun mereka bersepakat bahwa beliau hidup hingga berlalu tahun ke 50.

(lihat www.Islam Story.com)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,15 Maret 2013/3 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly