AL-QUR`AN TERJAGA

Al-Qur`an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini adalah al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Rasulullah, sebagaimana ia, tak ada penambahan dan tak ada pengurangan, sampai kepada kita secara mutawatir dengan dinukil oleh satu generasi dalam jumlah tak terhingga ke generasi yang sama melalui hafalan dan tulisan. Kaum muslimin di seluruh belahan bumi tidak berbeda dalam membacanya, tidak untuk surat, tidak untuk ayat, tidak untuk kata atau harakat.

Allah menjamin al-Qur`an selamat dari penyimpangan, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami yang menjaganya.” Al-Hijr: 9. Penjagaan ini bersifat umum, mencakup segala bentuk penjagaan. Di antara sarana penjagaan adalah penukilan al-Qur`an yang mutawatir dari generasi ke genarasi.

Syubhat

Apa yang disebutkan di atas merupakan kesepakatan kaum muslimin, lalu datang orang-orang Rafidhah Syi’ah, mereka menggugat kemutawatiran al-Qur`an dan mengklaim bahwa al-Qur`an tidak selamat dari penyimpangan dan pergantian.

Mereka mengklaim bahwa kemutawatiran al-Qur`an tidak terwujud, dalilnya adalah hadits Qatadah dalam al-Bukhari, dia berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik, “Siapa yang mengumpulkan al-Qur`an di zaman Nabi?” Dia menjawab, “Empat orang, semuanya dari Anshar, Ubay bin Kaab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.” Dalam riwayat Anas yang lain di al-Bukhari, dia berkata, “Nabi wafat dan tidak ada yang mengumpulkan al-Qur`an selain empat.” Dia menyebutkan tiga nama dan mengganti Ubay dengan Abu ad-Darda`.

Jawaban

Jawaban terhadap syubhat di atas: Maksud hadits adalah tidak mengumpulkan al-Qur`an secara langsung dari mulut Rasulullah selain empat orang tersebut, atau tidak mengumpulkan al-Qur`an dengan berbagai bentuk huruf dan qiraatnya selain mereka, karena orang-orang yang menghafal al-Qur`an di zaman Nabi sangat banyak, tragedi Sumur Ma’unah yang menelan korban 70 qari` sahabat membuktikan hal itu, kemudian perang Yamamah di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq juga membuktikan hal yang sama, inilah yang membuat Umar mengusulkan kepada Abu Bakar agar mengumpulkan al-Qur`an, di samping kesiapan hafalan para sahabat dan bahwa mereka adalah orang-orang dengan hafalan luar biasa, menunjukkan bahwa mustahil bila para penghafal al-Qur`an berjumlah hanya segelintir orang dari mereka saja.

Syubhat

Rafidhah al-Qur`an tidak seluruhnya mutawatir, karena Zaid bin Tsabit berkata, “Hingga aku mendapatkan akhir ayat surat at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari dan aku tidak mendapatkannya pada selainnya, “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian, berat atasnya penderitaan kalian…” At-Taubah: 129, hingga akhir surat.

Jawaban

Pertama, Zaid bin Tsabit mengetahui ayat ini sebelumnya, karena dalam riwayat lain dalam Kitab al-Mashahif milik Abu Dawud, Zaid berkata, “Aku belum menemukan ayat yang pernah aku dengar Rasulullah membacanya, ‘Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian, berat atasnya penderitaan kalian…’ Maka aku mencarinya dan menemukannya pada Khuzaemah bin Tsabit, maka kami menetapkannya pada suratnya.

Kedua, Umar, Utsman dan Ubay bin Kaab bersaksi bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 9/15, “Al-Khatthabi berkata, ‘Ayat ini disepakati oleh Zaid, Abu Khuzaemah dan Umar.”

Ketiga, Ucapan Zaid, “Aku tidak menemukannya pada siapa pun selainnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Maksudnya adalah menemukannya dalam keadaan tertulis, karena Zaid tidak hanya mengandalkan hafalan semata akan tetapi tulisan juga, dan Zaid tidak menemukannya saat itu, tidak berarti bahwa ia tidak mutawatir di kalangan orang-orang yang tidak menerimanya secara langsung dari Nabi, akan tetapi Zaid hanya ingin memastikan keakuratan dari orang-orang yang menerimanya langsung dari Nabi.” Wallahu a’lam.

Manhajul Istidlal ala Masa`il al-I’tiqad inda Ahlus Sunnah wal Jamaah, Utsman bin Ali Hasan.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa,26 Maret 2013/14 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly