HIFZHU SUNNAH

Bila sunnah adalah wahyu dan sudah dimaklumi bahwa wahyu terjaga, maka sunnah juga terjaga. Ibnu Hazm berkata, “Shahih, sabda Nabi terjaga dengan penjagaan Allah, terjamin bagi kita, tak ada yang hilang sedikit pun darinya, ia telah dinukil kepada kita semuanya…” (Al-Ihkam, Ibnu Hazm 1/110).

Terjaganya sunnah terwujud melalui beberapa sarana, di antaranya ada yang kembali kepada Nabi dan metode beliau dalam menetapkan sunnah di jiwa para sahabat, di antaranya ada yang kembali kepada para sahabat dengan perhatian mereka yang besar terhadap sunnah yang kemudian diteruskan oleh para tabiin, di antaranya adalah kembali kepada upaya para ulama dalam membukukan sunah, di antaranya adalah kaidah-kaida yang ditetapkan oleh para ulama dalam meriwayatkan sunnah yang menjamin tidak disusupi oleh usaha rekayasa.

Upaya Rasulullah saw Dalam Menjaga Sunnah

Di antaranya adalah cara Rasulullah dalam menyampaikan kepada para sahabat, beliau mengulang kata-katanya tiga kali agar mereka memahami dan mengerti maksudnya. Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa bila Nabi berbicara, beliau mengulangnya tiga kali agar dipahami.

Beliau berbicara dengan tenang dan jelas, Aisyah berkata, “Rasulullah menyampaikan pembicaraannya, seandainya seseorang hendak menghitungnya niscaya dia melakukannya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Di antaranya adalah dorongan Rasulullah untuk mendengar hadits dan mencari ilmu lalu menyampaikannya kepada orang lain, al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Mu’awiyah, dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa Allah menghendaki kebaikan baginya maka Allah menjadikannya memahami agama.” At-Tirmidzi meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah memuliakan seseorang yang mendengar hadits dari kami, dia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain…” At-Tirmidzi berkata, “Hasan hasan shahih.”

Di antaranya adalah ancaman keras Rasulullah terhadap orang yang membuat kedustaan atas nama beliau dengan menisbatkan kepada beliau apa yang tidak beliau sabdakan, “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya mengambil tempatnya di dalam neraka.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah.

Dengan berpegang kepada hadits-hadits di atas, maka para sahabat giat menyampaikan sabda Rasulullah kepada generasi berikut, di samping mereka juga sangat berhati-hati dalam menyampaikan agar tidak terjerumus ke dalam dusta atas nama Rasulullah.

Upaya Para Sahabat

Di antaranya adalah kesungguhan besar mereka dalam mendengar dari Rasulullah mengambil hadits dari beliau, Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah, “Siapa orang yang paling berbahagia dengan mendapatkan syafaatmu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Aku sudah menduga wahai Abu Hurairah tak ada yang bertanya tentang hal ini kecuali dirimu, karena aku melihat kesungguhanmu dalam hadits.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Al-Bukhari mereka dari Abu Syuraih Khuwailid bin Amru al-Khuza’i bahwa dia berkata kepada Amru bin Said, “Wahai Amir, izinkan aku menyampaikan sabda Rasulullah yang beliau ucapkan di hari kedua Fathu Makkah, kedua telingaku mendengarnya, hatiku memahaminya dan kedua mataku menyaksikannya saat beliau berbicara…”

Di antaranya mudzakarah di antara para sahabat, al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Mulaikah bahwa Aisyah istri Nabi tidak mendengar sesuatu yang tak diketahui kecuali dia mengeceknya hingga dia memahaminya. Anas berkata, “Kami berada di sekitar Rasulullah, kami mendengar hadits dari beliau, bila kami bangkit dari sisi beliau, kami saling mengulang di antara kami tentang apa yang kami hafalkan.” Disebutkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi wa Adab as-Sami’.

Di antaranya adalah doa Nabi untuk sebagian sahabat agar diberi hafalan kuat sebagaimana yang terjadi pada Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah, aku mendengar banyak hadits darimu tetapi aku lupa.” Nabi bersabda, “Beber kainmu.” Maka Abu Hurairah melakukan, lalu Nabi menciduk dengan kedua tangannya, kemudian bersabda, “Lipatlah.” Maka Abu Hurairah melipatnya, Abu Hurairah berkata, “Sesudahnya aku tak lupa apa pun.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Di antaranya adalah kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah dan menerimanya, di antaranya adalah saat Abu Musa menyampaikan kepada Umar bahwa meminta izin itu tiga kali, lalu Umar berkata, “Tegakkanlah bukti atasnya. adakah di antara kalian yang mendengarnya dari Rasulullah?” Ubay bin Kaab menjawab, “Demi Allah, tidak ada yang berdiri bersamaku kedua orang yang paling muda.” Maksudnya adalah dirinya sendiri, maka Ubay bangkit dan menyampaikan kepada Umar bahwa dia juga mendengar Rasulullah bersabda demikian. Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Di antaranya adalah rihlah, safar para sahabat dalam upaya mendengar hadits dari orang yang mendengarnya dari Rasulullah dalam rangka mencari sanad yang tinggi. Imam Ahmad meriwayatkan Jabir bin Abdullah berkata, aku mendengar ada sebuah hadits pada seorang laki-laki sahabat Nabi saw, laki-laki tersebut mendengarnya dari beliau, maka aku membeli seekor unta lalu aku mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan, aku berangkat kepadanya selama satu bulan sehingga aku tiba di Syam, ternyata orang itu adalah Abdullah bin Unais, maka aku berkata kepada penjaga pintunya, “Katakan kepadanya, ‘Jabir sedang di pintu.” Dia bertanya, “Ibnu Abdullah?” Aku menjawab, “Ya.”

Lalu Abdullah bin Unais keluar dan dia merangkulku, aku berkata, “Sebuah hadits, aku mendengarnya ada padamu, kamu mendengarnya dari Rasulullah saw, aku khawatir mati atau kamu mati sebelum aku mendengarnya.” Dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dalam keadaan telanjang, belum dikhitan dan buhm.” Kami bertanya, “Apa itu buhm?” Beliau menjawab, “Tidak memiliki apa pun.” Wallahu a’lam.

Manhajul Istidlal ala Masa`il al-I’tiqad inda Ahlus Sunnah wal Jamaah, Utsman bin Ali Hasan.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa,23 April 2013/12 Jumadil Akhir 1434H

Print Friendly