Mengesakan Allah Ta’ala Di Dalam Berdo`a (II)

Perbedaan Dan Perselisihan Dalam Konteks Tauhid

Sesungguhnya setiap perbedaan dan perselisihan dalam konteks tauhid dan keyakinan (akidah) yang terjadi, itu sumbernya adalah hawa nafsu. Allah ta’ala berfirman:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesung-guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (al-Qashash: 50).

Maka, janganlah Anda berpaling kepada segala bentuk perbedaan yang Anda lihat dalam masalah prinsip-prinsip tauhid, dan berpeganglah kepada apa yang telah diwahyukan oleh Allah ta’ala kepada Nabi-Nya di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, juga apa (jalan) yang telah ditempuh oleh jamaah kaum muslimin yang disebut denganal-firqah an-najiyah (kelompok yang selamat) atau ‘Ahlussunnah wal-Jama’ah’ yang dimotori oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta apa yang telah dituangkan oleh sejumlah imam dalam bidang ilmu, petunjuk dan keimanan melalui tulisan, ketetapan dan penjelesan mereka kepada banyak orang, sebagai bentuk nasihat dan penyam-paian ajaran agama Islam ini. Sejumlah imam tersebut semisal para penulis enam kitab as-sunnah yang terkenal dengan “Kutub as-Sittah”, keempat imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, dan orang-orang yang telah mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari ini.

Wahai hamba Allah, berhati-hatilah agar langkah kaki Anda yang sudah tegak lurus jangan sampai terpeleset, juga agar pada diri Anda tidak bercampur antara kebenaran dan kebatilan, dan agar anda tidak disesatkan oleh pemahaman yang melenceng dari jalur nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang suci. Allah ta’ala telah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِىَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (az-Zukhruf: 43).

Allah ta’ala juga telah berfirman,

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ 

“Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata..” (an-Naml: 79).

Dan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai pengikut beliau dalam menjalankan perintah Allah Yang Maha Besar ini.

Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada umatnya,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ –عَزَّ وَ جَلَّ– وَ سُنَّتِيْ. 

“Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal yang mana kalian tidak akan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh kepada kedua hal tersebut, yaitu: kitabullah (al-Qur’an) dan sunnahku.”

Oleh karena itu, Allah ta’ala telah menjaga umat Islam yang menja-lankan ajaran Islam dan menyebarkannya, untuk tidak menjadikan suatu gelar atau simbol buatan yang mereka khususkan bagi diri mereka, yang karenanya mereka akan dijadikan teman atau malah dimusuhi. Akan tetapi, gelar mereka adalah kaum muslimin, mukminin, muhsinin, dan muttaqin, sebagaimana yang telah diberikan oleh Allah ta’ala kepada mereka di dalam kitab-Nya. Mereka tidak akan menjadikan suatu gelar atau simbol layaknya para pembuat kesesatan dan bid’ah yang selalu bernisbat kepada bid’ah-bid’ah mereka, seperti kelompok Qadariyyah, Murji’ah, dan Jabariyyah. Atau, yang selalu bernisbat kepada para imam mereka, seperti kelompok Jahamiyyah. Atau, yang selalu bernisbat kepada tindakan-tindakan mereka yang kontra-diksi, seperti kelompok Rafidhah dan Khawarij. Atau, yang selalu bernisbat kepada berbagai bentuk pelarian mereka dari jamaah kaum muslimin, seperti kelompok Mu’tazilah.

Adapun jamaah kaum muslimin, yaitu para pengikut sunah dan atsar, mereka tidak akan membuat suatu gelar untuk mereka khususkan bagi diri mereka. Karena itu, di antara gelar-gelar mereka yang bisa Anda lihat dan dengar, seperti ‘Ahlussunnah’, ‘Ahlussunnah wal-Jama’ah’, ‘Ahlul-hadîts’, ‘Ahlul-atsar’, ‘Ahlul-hadîts wal-atsar’, ‘Atba’us-salaf’, dan ‘as-Salafiyyah’, itu muncul pada saat terjadinya perpecahan dan lahirnya berbagai kelompok sesat, lalu diambillah salah satu gelar tersebut untuk membedakan kelompok yang benar dari kelompok yang sesat. jika tidak demikian, maka mereka cukup disebut dengan ‘Jamaah kaum muslimin’, dan apa yang mereka dakwahkan disebut dengan ‘Islam’.

Sungguh Allah ta’ala sungguh telah memuji orang-orang yang demikian itu (Ahlussunnah) di dalam kitab-Nya. Allah ta’ala berfirman, “Alif lâm mîm. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah ditu-runkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (al-Baqarah: 1-5).

Jika hal itu telah diketahui, maka hendaknya juga diketahui bahwasanya asal mula Bani Adam itu bertauhid, dan itu merupakan tujuan dari penciptaan mereka seperti yang telah diperintahkan oleh Allah ta’ala kepada mereka melalui lisan para nabi dan rasul-Nya; “Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selain-Nya.” (al-A’raf: 59).

Sungguh sebelumnya manusia berpijak pada satu landasan ini. Mereka semua berlandaskan pada Islam, tauhid, keikhlasan, fitrah, kebenaran dan kelurusan. Sehingga, yang ada hanyalah satu umat, satu agama dan satu sesembahan. Dan sejak zaman Nabi Adam ‘alaihi sallam yang merupakan bapak bagi seluruh manusia hingga sebelum masa Nabi Nuh ‘alaihi sallam, semua manusia berada dalam kebenaran dan berdasarkan syari’at yang benar, mengingat semuanya mengikuti kepada petunjuk para nabi ‘alaihmus sallam.

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Senin,13 Mei 2013/3 Rajab 1434H

Print Friendly