Ya Musa

Suatu hari Al-Ma’mun marah kepada Abdullah bin Thahir, maka Abdullah ingin menghadap kepadanya meminta maaf. Tetapi sebuah surat datang kepadanya dari seorang temannya yang hanya berisi salam dan di bawahnya tertulis, “Ya Musa.”

Abdullah merenung, tidak mengerti makna surat itu. Maka seorang hamba sahaya yang cerdik menjelaskannya, dia berkata, “Maksudnya adalah, ‘Ya Musa sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu.” (QS. Al-Qashash: 20). Maka Ibnu Thahir menyadari maksud Al-Ma’mun.

Makelar

Dia datang kepada suatu kaum dan berkata, “Aku mempunyai seorang laki-laki yang menulis dengan besi dan menstempel dengan kaca.” Maka mereka menerimanya dan menikahkannya, ternyata dia adalah tukang bekam.

Mutiara

Al-Madaini bercerita, Ibnu Ziyad keluar bersama para penunggang kuda, mereka bertemu dengan seorang laki-laki dengan seorang hamba sahaya yang sangat cantik. Mereka meneriakinya, “Tinggalkan dia.” Laki-laki itu membawa busur dan melemparkannya kepada salah seorang di antara mereka. Mereka mundur lalu menyerangnya bersama-sama, laki-laki itu kabur dan mereka mengambil hamba sahaya yang bersamanya. Mereka tidak mengejarnya karena telah sibuk dengan hamba sahaya tersebut.

Salah seorang dari mereka menjulurkan tangannya ke telinganya, dia memegang antingnya. Di anting itu terdapat mutiara satu-satunya dengan harga sangat mahal. Hamba sahaya itu berkata, “Apa artinya mutiara ini, jika kalian melihat mutiara-mutiara yang ada di pecinya niscaya ini tidak ada apa-apanya.” Lalu mereka meninggalkannya untuk mengejar laki-laki itu. Mereka berkata kepada laki-laki itu, “Keluarkan apa yang ada di pecimu.” Padahal di pecinya hanya ada tali busur yang telah dia lupakan sebelumnya karena ketakutan. Ucapan mereka mengingatkannya pada tali busur itu, maka dia mengambilnya dan memasangnya pada busur dan kembali melawan mereka. Mereka lari ketakutan dan meninggalkan wanita itu.

Aku Ingin Pemiliknya

Harun Al-Rasyid mempunyai seorang hamba sahaya hitam yang buruk rupa. Suatu hari Al-Rasyid menebar dinar di antara para hamba sahaya. Maka mereka memunguti dinar-dinar itu. Sementara hamba sahaya hitam itu tetap berdiri melihat wajah Al-Rasyid. Al-Rasyid bertanya, “Mengapa kamu tidak memunguti dinar-dinar?” Dia menjawab, “Keinginan mereka adalah dinar. Sementara aku menginginkan pemiliknya.” Al-Rasyid mengaguminya dan memujinya dan mendekatinya. Ucapannya yang baik menggantikan kecantikannya.

Hanya Beda Sehari

Seorang laki-laki ditawari dua orang hamba sahaya: Perawan dan bukan perawan, maka dia memilih yang perawan. Maka yang bukan perawan berkata, “Mengapa kamu memilihnya padahal beda antara diriku dengan dirinya hanya satu hari.” Maka hamba sahaya perawan berkata, “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj: 47). Laki-laki itu mengagumi kedua-duanya dan membeli kedua-duanya.

Nisa` Dzakiyat, Qasim Asyur.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis, 3 Oktober 2013/28 Dzulkaidah 1434H

Print Friendly