SYUBHAT SEPUTAR TERJAGANYA AL-QUR`AN

Zaid berkata, “Aku tidak menemukan satu ayat dari surat al-Ahzab saat kami menasakh mushaf, sebelumnya aku mendengar Rasulullah membacanya, maka kami menemukannya pada Khuzaemah bin Tsabit al-Anshari, ‘Di antara orang-orang yang beriman ada orang-orang yang membenarkan apa yang mereka janjikan kepada Allah…

Jawaban

Pertama, Khuzaemah al-Anshari bersaksi mendengar ayat ini dari Rasulullah dan kesaksiannya sama dengan kesaksian dua orang berdasarkan hadits Rasulullah.

Kedua, Zaid berkata, “Sebelumnya aku mendengar Rasulullah membacanya.” Ini menunjukkan bahwa Zaid mendengar dan mengetahuinya, di sini Zaid hanya memastikan keakuratannya.

Ketiga, pertistiwa ini terjadi di zaman Utsman pada waktu menasakh mushaf, tidak dibayangkan bila ayat ini hilang sejak ia turun, lalu pada saat Abu Bakar mengumpulkan al-Qur`an, para sahabat tetap tak ada yang mengetahuinya hingga masa Utsman, hal ini bertentangan dengan penjagaan Allah kepada kitabNya.

Syubhat

Rafidhah mengklaim bahwa para sahabat banyak merubah dan menyelewengkan al-Qur`an saat proses pengumpulannya. Salah seorang tokoh mereka Haji Mirza Husain bin Muhammad Taqi an-Nuri menulis buku Fashlul Khithab fi Itsbat Tahrif Kitab Rabbil Arbab, dia mengumpulkan ratusan teks dari para ulama Syi’ah di berbagai zaman yang menyatakan bahwa al-Qur`an sudah ditambah dan dikurangi.

Hasyim Bahrani salah seorang tokoh Syai’ah menyebutkan dalam al-Burhan teks-teks yang banyak yang menunjukkan bahwa al-Qur`an tidak dikumpulkan kecuali oleh para imam Syi’ah yang dua belas.

Jawaban

Pertama, klaim ini bertentangan dengan kesepakatan para sahabat dan kaum muslimin di setiap masa, fakta berkata mustahil orang-orang dalam jumlah yang sangat banyak bisa bersepakat untuk berdusta.

Kedua, Ali bin Abu Thalib termasuk orang yang menyepakati bahwa al-Qur`an pada zaman sesudah Nabi adalah al-Qur`an pada zaman Nabi, bahwa al-Qur`an di zaman Utsman adalah al-Qur`an di zaman Nabi, bila diasumsikan Ali diam dan tidak menyuarakan kebenaran karena taqiyah, maka apa alasannya dia diam saja saat memegang khilafah? Padahal Ali tidak demikian orangnya.

Ketiga, klaim ini bertentangan dengan nash, akal dan realita. Nash adalah firman Allah, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami yang menjaganya.” Al-Hijr: 9. Akal, Allah telah menetapkan bahwa al-Qur`an adalah syariat Muhammad yang penutup, maka tak mungkin ia terkena tangan perubahan dan pergantian, sebab ia menyelisihi hikmah. Realita, kaum muslimin yang memegang al-Qur`an yang benar saat ini adalah mayoritas, sedangkan penggugatnya hanya segelintir orang, mana mungkin al-Qur`an yang haq ada di tangan segelintir orang sedangkan yang ada di tangan mayoritas mereka adalah al-Qur`an yang batil? Wallahu a’lam.

Manhajul Istidlal ala Masa`il al-I’tiqad inda Ahlus Sunnah wal Jamaah, Utsman bin Ali Hasan.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,27 Maret 2013/15 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly