Syukur

Apa yang dipunyai oleh seorang hamba di dunia ini merupakan nikmat dan karunia dari Allah,. Bila seseorang difitrahkan untuk berterima kasih kepada siapa yang berbuat baik kepadanya, maka dia juga difitrahkan untuk bersyukur kepada siapa yang telah melimpahkan kenikmatan kepadanya. Nikmat layak disyukuri dan syukur nikmat adalah nikmat yang layak disyukuri. Mereka berkata, “Syukur adalah nikmat yang patut disyukuri.” Jadi syukur menuntut syukur dan seterusnya.

Mahmud al-Warraq berkata,

إِذَا كانَ شُكْرِي نِعْمَةَ اللهِ نِعْمَةٌ عَلَيَّ لَهُ فِي مِثْلِهَا يَجِبُ الشُكْرُ

فَكَيْفَ بُلُوغُ الشُّكْرِ إِلاَّ بِفَضْلِهِ وَإِنْ طَالَتْ الأَياَّمُ وَاتَّصَلَ العُمْرُ

إِذَا سَرَّ باِالسَّرَّاءِ عَمَّ سُرُورُهاَ وَإِنْ مَسَّ بِالضَّرَّاءِ أَعْقَبَهَا الأَجْرُ

وَمَا مِنْهُمَا إِلاَّ لَهُ فِيهِ نِعْمَةٌ تَضِيْقُ بِهَا الأَوْهَامُ وَالْبَرُّ وَالْبَحْرُ

Bila syukurku terhadap nikmat Allah adalah nikmat
Maka wajib atasku syukur kepadaNya pada yang sepertinya
Bagaimana mencapai derajat syukur tanpa bimbinganNya
Dalam perjalanan hari-hari dan sepanjang hayat hidup
Bila Dia memberikan kemudahan, kebahagiaannya menyeluruh
Bila dia menimpakan kesulitan, maka akhirnya adalah pahala
Tak ada satu dari keduanya kecuali Dia memiliki nikmat padanya
Akal pikiran, daratan dan lautan tak sanggup meliputinya.

Al-Mubarrid berkata, “Ini adalah makna yang cermat, karena Allah tidak dipuji kecuali atas taufikNya, maka dia wajib dipuji atas taufik, kemudian wajib pada pujian kedua apa yang wajib pada pujian pertama dan seterusnya hingga tidak berakhiran.”

Abu al-Atahiyah berkata,

إذَا أَنْتَ لَمْ تَزْدَدْ عَلىَ كُلِّ نِعْمَةٍ قَدْ آتاكَهَا شُكْرٌا فَلَسْتَ بِشَاكِرٍ

Bila kamu tidak bertambah syukur atas semua nikmat
Yang datang kepadamu maka bukan orang yang bersyukur.

Yazid bin Muhammad al-Muhallabi berkata,

فَكَيْفَ بِشُكْرِي ذِي نِعَمٍ إِذاَ مَا شَكَرْتُ لهُ فَشُكْرِي مِنْهُ نِعْمَة

Bagaimana aku bersyukur kepada Pemberi nikmat, bila aku
Bersyukur kepadaNya maka syukurku adalah nikmat dariNya.

Sulaiman at-Taimi berkata, “Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada hamba-hambaNya menurut kesanggupan mereka dan membebani mereka syukur sesuai dengan kesanggupan mereka.”

Mereka berkata, “Syukur walaupun sedikit adalah harga dari semua pemberian walaupun besar.”

Hindun binti al-Muhallab berkata, “Bila kalian melihat kenikmatan mengucur maka segeralah bersyukur sebelum ia terangkat lalu lenyap.”

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Menyebut nikmat adalah syukur.”

Hudzaefah bin al-Yaman berkata, “Nikmat Allah atas seseorang tidak besar kecuali hak Allah atasnya semakin besar.”

Mereka berkata, “Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka dia tidak mensyukuri yang banyak.”

Bahjatul Majalis, Al-Hafizh Ibnu Abdul Bar.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,27 Juni 2013/18 Sya’ban 1434H

Print Friendly