Apakah Kami Akan Membunuh Anak-anak Dan Bapak-bapak Kami!

Ibnu Ishaq rahimahullah berkata:

وَحَدّثَنِي الْعَبّاسُ بْنُ عَبْدِ اللّهِ بْنِ مَعْبَدٍ ، عَنْ بَعْضِ أَهْلِهِ عَنْ ابْنِ عَبّاسٍ أَنّ النّبِيّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ لِأَصْحَابِهِ يَوْمَئِذٍ (يوم بدر): إنّي قَدْ عَرَفْت أَنّ رِجَالًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَغَيْرِهِمْ قَدْ أُخْرِجُوا كَرْهًا ، لَا حَاجَةَ لَهُمْ بِقِتَالِنَا ، فَمَنْ لَقِيَ مِنْكُمْ أَحَدًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلَا يَقْتُلْهُ، وَمَنْ لَقِيَ أَبَا الْبَخْتَرِيّ بْنَ هِشَامِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ أَسَدٍ فَلَا يَقْتُلْهُ وَمَنْ لَقِيَ الْعَبّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطّلِبِ عَمّ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَلَا يَقْتُلْهُ فَإِنّهُ إنّمَا أُخْرِجَ مُسْتَكْرَهًا

“Dan telah mengabarkan kepadaku al-’Abbas bin ‘Abdullah bin Ma’bad, dari sebagian keluarganya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat itu (saat perang Badr (kepada para shahabat beliau:” Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwasanya ada sejumlah laki-laki dari kalangan Bani (kabilah) Hasyim dan selain mereka yang telah diajak keluar (untuk perang) dalam keadaan ter, terpaksa. Tidak ada kepentingan bagi mereka untuk memerangi kita. Karenanya, siapa saja di antara kalian yang melihat salah seorang dari Bani Hasyim, maka janganlah membunuhnya, dan siapa saja yang melihat Abu Bakhtari bin Hisyam bin al-Harits bin Asad, maka janganlah membunuhnya. Dan siapa saja yang melihat al-’Abbas bin ‘Abdul Muththalib, paman Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah membunuhnya, karena dia keluar berperang hanya karena terpaksa.”

Perawi melanjutkan:


فَقَالَ أَبُو حُذَيْفَةَ: أَنَقْتُلُ أَبَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا وَإِخْوَتَنَا وَعَشِيرَتَنَا . وَنَتْرُكُ الْعَبّاسَ؟ وَاَللّهِ لَئِنْ لَقِيته لَأَلْجُمَنّهُ بالسّيْفَ. قَالَ: فَبَلّغْت رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، فَقَالَ لِعُمَرِ بْنِ الْخَطّابِ:” يَا أَبَا حَفْصٍ، أَيُضْرَبُ وَجْهُ عَمّ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِالسّيْفِ ؟ فَقَالَ عُمَر:ُ يَا رَسُولَ اللّهِ دَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ بِالسّيْفِ فَوَاَللّهِ لَقَدْ نَافَقَ. فَكَانَ أَبُو حُذَيْفَةَ يَقُولُ: مَا أَنَا بِآمِنِ مِنْ تِلْكَ الْكَلِمَةِ الّتِي قُلْت يَوْمَئِذٍ وَلَا أَزَالُ مِنْهَا خَائِفًا، إلّا أَنْ تُكَفّرَهَا عَنّي الشّهَادَةُ . فَقُتِلَ يَوْمَ الْيَمَامَةِ شَهِيدًا

” Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:” Apakah kami akan membunuh bapak-bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara kami dan kerabat kami, sementara kami membiarkan al-’Abbas? Demi Allah jika aku bertemu dengannya, sungguh aku akan mengulitinya dengan pedang.” Perwai berkata:” Maka berita itu sampai kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda kepada ‘Umar:” Wahai Abu Hafsh, apakah wajah paman Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dipukul (dibunuh) dengan pedang?” Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:” Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya dengan pedang, demi Allah dia telah berbuat nifaq (munafiq).” Maka Abu Hudzaifah pun berkata:” Aku tidak akan merasa aman dengan ucapan yang aku ucapkan saat itu, aku terus-menerus takut dengan kalimat (ucapan) itu, kecuali jika mati syahid menghapuskan dosa ucapan itu dariku.” (ar-Raudh al-Unuf 5/107-108)

Al-’Abbas bin Ma’bad adalah seorang yang tsiqah, akan tetapi dia tidak menyebutkan nama anggota keluarganya yang mengabarkan kisah ini. Dan al-Hakim rahimahullah meriwayatkannya dari jalur Ibnu Ishaq dari al-’Abbas bin Ma’bad dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:” Bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada perang Badr:” Barang siapa yang bertemu dengan al-’Abbas maka hendaknya ia menahan diri darinya (tidak membunuhnya), karena dia keluar berperang dalam keadaan terpaksa. Lalu Abu Hudzaifah berkata:….”

Kemudian al-Hakim rahimahullah berkata:” (Hadits ini) Shahih menurut syarat imam Muslim dan keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mencantumkannya (di dalam kitab mereka berdua).” (al-Mustadrak: 3/247)

Dan imam adz-Dzahabi rahimahullah menyelisihinya, dan mengahpusnya dari kitab talkhish-nya (ringkasan al-Mustadrak) dikarenakan ke-dha’ifannya (kelemahannya).

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:” Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas majhul (tidak dikenal).” (al-Mughni fii adh-Dhu’afa’: 2/418)

Dan mutsahil –di samping kelemahan sanad hadits ini- perkataan ini muncul dari salah seorang shahabat radhiyallahu ‘anhum, khususnya dari mereka yang termasuk as-Sabiqun al-Awalun lil Islam (orang-orang yang paling dulu masuk Islam), bahkan dari orang yang setelah mereka sekalipun.

(Sumber: ما شاع ولم يثبت hal 112. Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dan diposting oleh Abu Yusuf Sujono)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis, 2 Mei 2013/21 Jumadil Akhir 1434H

Print Friendly