HIFDZUL QUR`AN DI ZAMAN NABI

Allah menurunkan al-Qur`an sebagai timbangan dan barometer, risalah penutup dan syariat yang langgeng, hal ini menuntut penjagaannya dari keisengan orang-orang yang iseng, penyelewengan orang-orang yang berlebih-lebihan dan pergantian orang-orang pendengki, maka al-Qur`an saat ini adalah al-Qur`an saat ia diturunkan, hal ini sebagai pembuktian dari firman Allah,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [الحجر : 9]

Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami yang menjaganya.” Al-Hijr: 9.

Di Zaman Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam

Terjaganya al-Qur`an di zaman kenabian memiliki beberapa bentuk, di antaranya:

1- Cara al-Qur`an turun, di mana ia turun dengan cara yang menjamin keterjagaannya, al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa al-Harits bin Hisyam berkata kepada Rasulullah, “Bagaimana wahyu datang kepadamu?” Nabi menjawab, “Terkadang wahyu datang kepadaku seperti dentingan lonceng dan cara ini paling berat bagiku, wahyu berhenti dariku sementara aku sudah memahami apa yang dia katakan, terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, dia berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang dia katakan.”

2- Tadarus Nabi dengan malaikat, hal ini setiap tahun di bulan Ramadhan, al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Nabi adalah orang paling dermawan dalam kebaikan, beliau paling dermawan lagi di bulan Ramadhan, Jibril bertemu dengan Nabi setiap malam di bulan Ramadhan hingga habis, Rasulullah menyodorkan al-Qur`an kepadanya, bila Rasulullah bertemu Jibril, beliau lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”

Abu Hurairah berkata, “Nabi menyodorkan al-Qur`an kepada Jibril sekali dalam setahun, di tahun Nabi wafat dua kali.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

3- Penulis wahyu dan koreksinya, Zaid bin Tsabit berkata, “Aku menulis wahyu untuk Rasulullah, bila wahyu turun kepada beliau, beliau terlihat seperti memikul beban berat, berkeringat deras, aku datang kepada beliau dengan tulang atau papan, aku menulis sementara beliau mendiktekan, lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Bacalah.’ Maka aku membaca, bila ada yang tercecer maka beliau menyusulkannya, kemudian beliau membacakannya kepada orang-orang.” Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan al-Haetsami berkata, “Rawi-rawinya tsiqah(terpercaya).”

4- Membatasi penulisan hanya pada al-Qur`an, tujuannya agar tidak bercampur dengan selainnya, hal ini di awal-awal Islam, Nabi bersabda, “Jangan menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur`an maka hendaknya menghapusnya.” Diriwayatkan oleh Muslim. Kemudian menulis diizinkan sesudah alasan pelarangan tak terwujud.

5- Dorongan mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an, Nabi mendorong para sahabat untuk mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an, menghafal dan menghafalkannya, beliau mendahulukan orang yang paling banyak al-Qur`an dalam imamah shalat dan memimpin pasukan.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Utsman bin Affan dari Nabi bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.”

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah mengutus pasukan dalam jumlah lumayan, Nabi meminta mereka membaca al-Qur`an orang per orang, lalu seseorang yang paling muda dari mereka maju, Nabi bertanya, “Apa yang kamu punya wahai fulan?” Dia menjawab, “Aku punya surat ini dan ini, plus al-Baqarah.” Nabi bersabda, “Kamu punya surat al-Baqarah?” Dia menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Kamu adalah panglima mereka.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan.”

6- Kekuatan hafalan di kalangan bangsa Arab, di mana mereka mempunyai kapasitas hafalan cepat dan yang kuat, apalagi al-Qur`an hadir dengan gaya bahasa yang menarik, susunan kalian yang menawan dan hal itu sangat mengundang mereka untuk menghafalnya dan memperhatikannya. Al-Baqillani berkata dalam I’jaz al-Qur`an hal. 16, “Al-Qur`an menyebar di kalangan mereka hingga orang-orang menghafalnya, generasi menukilnya, orang dewasa dan anak-anak mempelajarinya, karena ia adalah pijakan agama mereka, panji bagi mereka, yang wajib mereka baca dalam shalat mereka dan amalkan dalam kehidupan mereka.” Wallahu a’lam.

Manhajul Istidlal ala Masa`il al-I’tiqad inda Ahlus Sunnah wal Jamaah, Utsman bin Ali Hasan.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,22 Maret 2013/10 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly