LARANGAN MENGIKUTI ADAT JAHILIYYAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

(keadaan kamu hai orang-oang munafik dan musyirikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah nikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi (QS. At-Tubah : 69).

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

(لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا جحر ضب لاتبعتموهم ) . قلنا يا رسول الله، اليهود والنصارى ؟ قال ( فمن )).

“Kalian akan mengikuti adat tradisi umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang biawak , niscaya kalian akan mengikutinya juga.” Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab: “Kalu bukan mereka, siapa lagi?”

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( أبغض الناس إلى الله ثلاثة ملحد في الحرم ومبتغ في الإسلام سنة الجاهلية ومطلب دم امرئ بغير حق ليهريق دمه )

“Tiga orang yang paling dibenci Allah; Pelaku ilhad (mulhid) di tanah haram, pengikut tradisi Jahiliyyah dalam Islam, penuntut balas darah seorang muslim tanpa haq untuk menumpahkan darahnya.”

Diriwayatkan dari Hulb radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(لا يَتَخَلَّجَنَّ فِي صَدْرِكَ شَيْئًا ضَارَعْتَ فِيهِ النَّصْرَانِيَّةَ)

“Jangan sampai masuk setitik pun keraguan dalam hatimu (tentang kehalalan makanan yang telah dihalalkan Allah) seperti halnya keraguan yang menjangkiti orang-orang Nasrani.”

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu , bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(لَيْسَ مِنَّا مَنْ عَمِلَ بِسُنَّةِ غَيْرِنَا)

“Bukan dari golongan kami, siapa saja yang mengamalkan Sunnah selain Sunnah kami.”

Diriwayatkan dari al-Mustaurid radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

(لا تترك هذه الأمة شيئا من سنن الأولين حتى تأتيه)

“Tidak tersisa satu pun tradisi orang-orang terdahulu melainkan telah dilakukan oleh umat ini!”

Kandungan Bab :

a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya mengikuti tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal itu menunjukkan kelemahan yang menimpa kaum muslimin, karena mereka telah melepas jatidiri sebagai muslim yang dengannya Allah mengistimewakan mereka. dengan itulah mereka menjadi umat terbaik yang dikeluarkan kepada manusia yang menjadi panutan bagi umat-umat lain. Dan karena mereka mengikuti jalan-jalan menyimpang yang mencerai beraikan mereka dari jalan Allah.

b. Oleh sebab itu, siapa saja yang mempertahankan tradisi Jahiliyyah, menyebarkan atau melaksanakannya atau mengajak oarng kepadanya, maka ia berhak mendapatkan kebencian Allah. Dan barangsiapa dibenci oleh Allah, maka ia berhak mendapatkan kebinasaan, kehancuran dan adzab yang besar.

c. Setiap muslim wajib melepaskan seluruh perkara yang menyerupai tradisi Jahiliyyah atau diperkirakan termasuk tradisi kaum Jahiliyyah. Sebab, siapa saja yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

d. Kaum muslimin wajib memelihara fitrah yang telah Allah gariskan atas mereka. Sesungguhnya, sengaja menyelisihi tradisi Jahiliyyah dalam segala bentuk, macam dan namanya merupakan salah satu tujuan diutusnya para Nabi, dan termasuk salah satu tujuan syari’at yang sangat agung.

Sumber: ENSIKLOPEDI LARANGAN jilid 1, Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali, Pustaka Imam asy-Syafi’i, hal:262.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,10 Oktober 2013/5 Dzulhijjah 1434H

Print Friendly