Salman Al-Farisi

Edisi Th. XVIII No. 911/ Jum`at IV/Jumadil Tsani 1434 H/ 26 April 2013 M.

Sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasallam yang satu ini berasal dari Isfahan, Persia (Iran). Ayahnya seorang tokoh masyarakat. Ia dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sebelum masuk Islam. Ia bertugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam. Namun, Allah Ta’ala kemudian memberikan hidayah ke dalam hatinya sehingga ia masuk ke dalam agama Islam yang mulia.

Selanjutnya, marilah kita simak penuturan beliau mengenai detik-detik menjelang keislamannya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. amien

Salman Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, “Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku? Mereka menjawab, “Ya. Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka. Mereka membawaku. Namun, ketika tiba di Wadil Qura, mereka mendzalimiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan* kepadaku. Aku tidak bisa hidup bebas. Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari bani Quraizhah. Ia membeliku darinya, kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku.

Allah Ta’ala mengutus seorang Rasul-Nya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian, Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah Ta’ala ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, ‘Hai Fulan, Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini berkumpul di Quba menyambut seorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasallam.

Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, “Apa tadi yang Anda katakan? apa tadi yang Anda katakan?” Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, “Apa urusanmu menanyakan hal itu, lanjutkan pekerjaanmu.” Aku menjawab, “Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan.” Padahal sebenarnya aku telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang Nabi itu.

Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian menuju Rasulullah Shalallahu a’laihi Wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, telah sampai kabar kepadaku bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain. Akupun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabat, silakan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, “Ini satu tanda kenabiannya.”

Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari aku mendatangi beliau sambil berkata, “Aku memperhatikan Anda tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatan kepada Anda.” Kemudian beliau makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, “Inilah tanda kenabian yang kedua.”

Selanjutnya aku menemui beliau Shalallahu ‘alaihi Wasallam saat berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau Shalallahu ‘alaihi Wasallam sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat stempel yang disebutkan Si Fulan.

Pada saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam melihat aku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang dari punggung, aku berhasil melihat tanda stempel kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkupkan wajahku di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda kepadaku, “Geserlah kemari,” maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku. Kemudian para sahabat Rasulullah takjub ketika mendengar cerita perjalanan hidupku.

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam suatu hari bersabda kepadaku, “Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!” Maka majikanku setuju membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah. Kemudian, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, “Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.” Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, hingga terkumpul benar-benar 300 pohon. Setelah terkumpul, beliau bersabda kepadaku, “Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkan tanganku pada pohon tersebut.” Akupun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam dan memberitahukan perihalku.

Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi Wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon(tunas) kurma itu kepada beliau dan beliaupun meletakkan tangan beliau padanya. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tangan-Nya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati .

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari ghanimah (harta rampasan perang). Lantas beliau bersabda, “Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?” kemudian aku dipanggil beliau. Lalu beliau bersabda, “Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!”

Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam, bagaimana status emas ini bagiku? beliau menjawab, “Ambil saja! insyaallah, Allah Ta’ala akan memberi kebaikan padanya.” Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di Tangan-Nya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan akhirnya aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak saat itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti (HR. Ahmad, 5/441, ath-Thabrani dalam al-Kabir(6/222), Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat,4/75, al-Baihaqi dalam al-Kubra,10/323).

Demikianlah sekilas kisah tentang detik-detik perjalanan Salman al-Farisi menuju hidayah Islam. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah pula kepada non-Muslim lainnya sehingga masuk Islam, agama yang Allah Ta’ala berfirman tentangnya,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Adapun pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas antara lain adalah:

  1. Barangsiapa bertakwa kepada Allah Ta’ala niscaya Allah Ta’ala memberikan jalan keluar dari problematika hidup.
  2. Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah Ta’ala.
  3. Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau mendengarkan dengan baik jika ada seseorang yang sedang berbicara.
  4. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.
  5. Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat.

Wallahu a’lam. (Redaksi)

*Fulan adalah seorang ahli ibadah yang ditemuinya di daerah Amuria (Romawi) yang telah mengabarkan akan kedatangan seorang Nabi yang akan diusir dari kaumnya dan memiliki beberapa tanda kenabian.

[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia, “61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat”, pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta dengan ringkasan]

 

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,24 April 2013/13 Jumadil Akhir 1434H

Print Friendly