Hanya Nabi Muhammad Saw Sebagai Khatam An-nabiyyin (penutup Para Nabi)

TANYA:

Assalamu ‘alaikum, Kelompok Ahmadiyah mengklaim (atau kelompok apa saja yang mengklaim demikian-red) bahwa makna ‘Khatam al-Anbiya`’ (Penutup para nabi) bukanlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai akhir (penutup) para nabi. Seberapa jauh kebenaran statement seperti ini? Dan bagaimana keshahihan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, “Katakanlah, sesungguhnya ia adalah Khatam (penutup) para nabi dan jangan katakan ‘tidak ada nabi setelahnya.’” (Takmilah Majmu’ al-Bahr, halaman 88). Imam as-Suyuthi berkata, “Sesungguhnya al-Mughirah juga mengatakan hal itu.” (ad-Durr al-Mantsur)

JAWAB:

Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, wa ba’du:

Kelompok ini menyimpang dari haq (kebenaran), sesat dari jalan yang lurus (ash-Shirath al-Mustaqim), mendustakan al-Qur`an dan as-Sunnah.

Banyak sekali dalil-dail dari Kitabullah dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa tiada nabi setelah nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah ta’ala befirman, “Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.al-Ahzab:40)

Dan makna ‘Khatam an-Nabiyyin’ di dalam ayat tersebut adalah orang yang dengannya ditutup kenabian, lalu dicapkan kepadanya, sehingga tidak akan dibukakan kepada seorang pun setelahnya hingga hari Kiamat.

Sementara itu, banyak sekali hadits-hadits Mutawatir dari Nabi SAW yang menunjukkan bahwa beliau adalah penutup para nabi dan utusan. Di antaranya, hadits di dalam ash-Shahihain; al-Bukhari (3535) dan Muslim (2286), dari hadits Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seperti perumpamaan seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu ia membuatnya dengan baik dan indah kecuali tempat sebuah ubin di satu pojok. Lalu orang-orang berkumpul di situ dan kagum terhadapnya seraya berkata, ‘Kenapa ubin ini tidak diletakkan (sekalian).!’” Beliau menjawab, “Akulah ubin itu dan akulah penutup para nabi.”

– Di dalam ash-Shahihain; al-Bukhari (4896) dan Muslim (2354) dari hadits Jubair bin Muth’im RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah ‘al-Mahi,’ yang dengannya Allah menghapus kekufuran, aku adalah ‘al-Hasyir’, di mana manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku dan aku adalah ‘al-‘Aqib’.” Al-‘Aqib adalah orang yang tidak ada nabi setelahnya.

Dari Tsauban RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya nanti akan ada sebagian dari umatku menjadi para pendusta, yang berjumlah tiga puluh orang, semuanya mengaku sebagai nabi. Dan akulah penutup para nabi itu dan tidak ada nabi setelahku.” (HR.Abu Daud, no.4252 dan lainnya)

Dalam Shahih Muslim (523), dari hadits Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasululah SAW bersabda, “Aku diunggulkan atas para nabi yang lain dengan enam hal: aku diberikan ‘Jawami’ al-Kalim’ (kumpulan perkataan yang ringkas tapi padat makna), aku ditolong dengan rasa ciut (pada musuh), dihalalkan bagiku harta-harta rampasan, bumi dijadikan suci suci dan sebagai tempat sujud, aku diutus kepada seluruh makhluk dan aku sebagai penutup para nabi.”

Al-Hafizh Ibn Katsir berkata, “Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah memberitakan di dalam kitab-Nya dan Rasul-Nya di dalam hadits-haditsnya yang mutawatir bahwa tidak ada nabi setelahnya. Hendaklah mereka mengetahui bahwa setiap orang yang mengaku memiliki posisi seperti ini setelahnya, maka ia adalah seorang pendusta, penyebar isu, dajjal, orang sesat lagi menyesatkan. Sekalipun dapat melakukan hal yang di luar kebiasaan, menyajikan atraksi mistik, dan memperagakan beragam jenis sihir dan jampi-jampi…”

Qadhi ‘Iyadh berkata, “Kami mengafirkan orang yang mengklaim kenabian seseorang di samping Nabi kita Muhammad SAW….atau (mengafirkan-red) orang yang mengaku dirinya nabi atau membolehkan mendapatkannya dan mencapai kesucian hati hingga kepada tingkatan itu seperti para filosof dan kaum ekstrem Sufi. Demikian juga, siapa di antara mereka yang mengaku telah diberikan wahyu kepadanya sekalipun tidak mengaku jadi nabi. Mereka itu semua adalah kafir, pendusta Nabi SAW, sebab beliau SAW telah memberitakan bahwa ia adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya. Lalu, beliau juga memberitakan dari Allah SWT bahwa ia adalah penutup para nabi.” (asy-Syifa`, 2/1070)

Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah RHA dan al-Mughirah RA, maka dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (9/109-110), ia berkata, (bab) Siapa yang tidak suka mengatakan, ‘tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW’, Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata, Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami, dari ‘Aisyah RHA, ia berkata, “Katakanlah Khatam an-Nabiyyin dan janganlah katakan, ‘tidak ada nabi setelahnya.’”

Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Mujalid, ia berkata, Amir memberitahukan kepada kami, ia berkata, seorang laki-laki yang beada di dekat al-Mughirah bin Syu’bah RA berkata, “Semoga Allah SWT menyampaikan shalawat atas Muhammad SAW, penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahnya.” Al-Mughirah berkata, “Cukup bagimu bila kamu katakan, ‘penutup para nabi,’ sebab kita menceritakan bahwa ‘Isa AS akan keluar (muncul), jika ia keluar (muncul), maka posisinya adalah sebelum beliau SAW dan juga setelahnya.”

Maksud ‘Aisyah RHA dan al-Mughrah RA sangat jelas, yaitu isyarat akan turunnya ‘Isa AS di akhir zaman….

Hal ini didukung oleh firman Allah SWT, “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”(QS.an-Nisa`:159)

Juga terdapat hadits-hadits mutawatir dari Nabi SAW yang menunjukkan turunnya ‘Isa AS di akhir zaman.

Ibn Qutaibah berkata, “Adapun perkataan ‘Aisyah RHA, ‘katakanlah kepada Rasulullah SAW, ‘penutup para nabi’ dan jangan katakan ‘tidak ada nabi setelahnya,’ maka itu maksudnya adalah turunnya ‘Isa AS. Perkataannya ini tidak bertentangan dengan sabda Nabi SAW, ‘Tidak ada nabi setelahku.’ Sebab maksud beliau SAW adalah ‘tidak ada nabi setelahku yang menghapuskan apa yang aku bawa sebagaimana para nabi-nabi terdahulu diutus untuk menghapus (syariat sebelumnya-red). ‘Aisyah RHA ingin mengatakan, “Janganlah kamu mengatakan, ‘sesungguhnya al-Masih tidak turun setelah beliau saw.’” Ini bila diperkirakan hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah dan al-Mughirah itu shahih. Namun, Atsar dari ‘Aisyah RHA itu Munqathi’ (bagian dari hadits dha’if-red), sedangkan pada Atsar al-Mughirah RA terdapat Mujalid bin Sa’id, seorang perawi yang lemah (dha’if). Wallahul Muwaffiq Wal Hadi Ila Sawa`is Sabil (Allah lah Yang Memberi taufik dan Memberi petunjuk kepada jalan yang lurus). AH

(SUMBER: Fatwa Syaikh Dr. Muhammad bin Abdullah al-Qannash, staf pengajar di Universitas al-Qashim, KSA)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,31 Oktober 2007/19 Syawal 1428H

Print Friendly