Hikmah Ilahi Dalam Hadits Lalat

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في أحد جناحيه داء وفي الآخر شفاء ً.” رواه البخاري في صحيحه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Apabila lalat masuk/terjatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah (lalat itu) kemudian buanglah, karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya ada penyakit (racun) dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya.”(HR. al-Bukhari)

Takhrij Hadits:

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari 2/329, 4/71-72, ad-Darimi 2/99, Ibnu Majah 3505 dan Ahmad 2/398

Penjelasan Hadits

Hadits ini telah datang secara pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sebagian orang zaman dahulu dan sekarang telah mempermasalahkan hadits ini karena ketidak tahuan mereka. Dahulu Imam al-Khathabi rahimahullah berkata:”Telah memperbincangkan hadits ini orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali dalam masalah ini, dan berkata:’Bagaimana berkumpul antara obat dan penyakit dalam kedua sayap lalat? Dan bagaimana ia tahu hal itu dari dirinya sendiri?…ini adalah soal orang jahil (bodoh) atau pura-pura bodoh. Karena sesungguhnya sebagian binatang telah terkumpul dalam dirinya dua hal yang bertentangan, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersatukan keduanya dan memaksanya untuk bersatu, dan menjadikan hal itu sebagai kekuatan pada binatang tersebut. Yang memberikan insting (ilham) kepada lebah untuk membangun sarangnya yang unik tentunya mampu untuk memberikan ilham kepada lalat untuk mendahulukan satu sayap dan mengakhirkan sayap yang lain.”sampai di sini perkataan Imam al-Khathabi

Pada zaman ini mereka yang mempermasalahkan hadits ini berkata:”Sesungguhnya hadits ini bertentangan dengan pokok-pokok penelitian ilmiah, bahwa lalat adalah sebab utama penularan penyakit, maka bagaimana mungkin pada lalat ada obat (penawar)nya? Mereka lupa bahwa sebagian besar masalah ilmiah yang mereka jadikan dalil, tidak lain hanyalah teori-teori semata, betapa banyak teori yang menyebutkan sesuatu bahwa hal itu benar pada hari ini, kemudian setelah berselang waktu baik lama maupun cepat ternyata hal itu salah. Maka bagaimana mungkin teori-teori itu menjadi timbangan untuk menghukumi benar dan tidaknya nash-nash wahyu tersebut? Dan bagaimana mungkin orang yang ketidak tahuannya (ilmunya) lebih sedikit dari pengetahuannya (ilmu) menghukumi salah dan benar terhadap ilmu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Telah ditemukan sebuah penemuan baru dalam ilmu modern mukjizat Nabi dalam bidang kedokteran di dalam hadits ini. Majalah at-Tauhid di Mesir edisi 5 tahun 1397 H/1977M telah mempublikasikan hasil penelitian Dr.Amin Ridha (dosen bedah tulang di universtas Iskandariyah), yang menjelaskan bahwa ilmu modern menemukan bahwa dalam satu waktu yang bersamaan lalat membawa kuman-kuman yang menyebabkan penyakit, dan juga membawa bakteri “Faaj” yang melawan kuman-kuman tersebut. Bakteri “Faaj”maksudnya adalah pemangsa atau penerkam kuman-kuman.

Maka wajib bagi setiap muslim, untuk membenarkan setiap apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik hal itu ditetapkan dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern dan penelitian atau tidak, karena tidak ada perkataan yang dianggap kalau berbenturan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu A’lam.

Faidah Hadits

1.Suci atau tidak najisnya lalat, baik ketika hidip maupun mati, dan bahwasanya suatu benda tidak menjadi najis apabila lalat hinggap dan mati di atasnya, baik benda itu padat maupun cair.

2.Anjuran untuk mencelupkan/menenggelamkan lalat yang sudah terjatuh masuk ke dalam minuman apabila benda itu adalah cair, adapun kalau benda itu padat maka lalatnya dibuang dan daerah yang dihinggapi di sekitarnya.

3.Sesungguhnya pada salah satu sayap lalat ada penyakit dan yang satu sayapnya ada penawar/obatnya. Maka apabila dia terjatuh ke dalam minuman maka dia mengangkat sayap yang ada penawar dan mencelupkan sayap yang ada penyakitnya. Maka termasuk hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ketika Dia memerintahkan hambanya untuk mencelupkan lalat yang mati di dalam minuman supaya, obat/penawar pada sayap yang satunya supaya menetralkan dan menawarkan penyakit yang ada pada sayap. Adapun menumpahkan minuman tersebut adalah bentuk penyia-nyiaan harta yang dilarang oleh Allah. Dan syrai’at islam bukan hanya untuk generasi (zaman) tertentu atau bangsa tertentu, karena kadang kala minuman memiliki nilai yang sangat berharga pada suatu zaman, tempat atau bangsa tertentu.

4.Dalam hadits ini ada mukjizat ilmiah, dan ilmu pengetahuan modern telah menemukan penemuan baru yang menetapkan adanya kebenaran secara ilmiah, bahwa ada penyakit berbahaya pada salah satu sayap lalat dan obatnya pada sayap yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki rahasia-rahasia dan hikmah tertentu dalam menetapkan setiap syariat/hukum.

5.Para ulama mengqiyaskan lalat dengan binatang yang tidak memiiki darah yang mengalir dalam masalah kesuciannya.

Bantahan Terhadap Orang Yang Meragukan Hadits Lalat.

Sebagian orang Zindiq mencela dan mengkritik hadits ini, bahkan celaan itu sampai kepada tingkat mencela sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Untuk menjawab celaan mereka terhadap hadits ini adalah sebagai berikut:

1.Hadits di atas adalah salah satu hadits yang dipilih oleh Imam Bukhari dimasukan ke dalam kitab Shahihnya karena keshahihan hadits tersebut.

2.Hadits lalat ini tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara tersendiri, akan tetapi ia juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, da Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dalam hadits dalam Musanad Imam Ahmad.

3. Siapa mereka (para pencela hadits lalat) sehingga mencela salah seorang Sahabat dari Sahabat-sahabat radhiyallahu’anhum, bahkan sampai mencela orang yang paling hafalan terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (yaitu Abu Hurairah) dan paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi. Yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendoakanya supaya dia mudah menghafal dan susah untuk lupa,yang dia telah mengahiskan waktunya untuk hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak dilupakan dengan pertanian dan tidak dilalaikan oleh perdagangn. Dia yang siang dan malam harinya hanya digunakan untuk mengikuti dan memperhatikan apa yang diucapkan Nabi, kemudian dia bergadangpada malam harinya untuk menghafal hadits Nabi supaya menancap kokoh di hatinya.

4. Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’alimi berkata:”Para ilmusan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui terhadap segala suatu, dan mereka masih secara terus-menerus melakukan penelitian-penelituian untuk menemukan penemuan-penemuan baru. Maka dengan iman apa mereka (pencela hadits Nabi) mengingkari dan menafikan kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pengetahuan kepada Nabi dengan suatu pengetahuan yang belum diketahui oleh ilmu pengetahuan modern. Dan Allahlah pencipta, pengatur alam semesta Dia adalah pembuat syariat (hukum).”

5. Para ilmuwan kedokteran modern menetapkan bahwa pada salah satu sayap lalat ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada obatnya. Dengan ini maka jelaslah sebuah kebenaran, dan tidak ada yang perkataannya lebih benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Sumber:
Diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono,dari: Taudhih al-Ahkam syarah Bulughul Maram hadits no.12, Syaikh Ali Bassam dan artikel tentang hadits lalat di www.islamweb.net .


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,12 Maret 2010/26 Rabiul Awal 1431H

Print Friendly