Imam Abu Bakar Al-baihaqi (penulis Kitab Hadits “as-sunan Al-kabir”)

Nama dan Kelahiran Beliau

Namanya adalah: Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Khazraujirdi Al-Khurasani Al-Baihaqi.
Baihaq sebenarnya adalah sekumpulan desa yang berada di kawasan provinsi Naisabur. Antara Baihaq dan Naisabur adalah jarak dua hari perjalanan dengan onta.
Kelahiran beliau: Al-Baihaqi dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 384 H.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Abdul Ghafir mengatakan, “Al-Baihaqi adalah orang yang menjelajahi jejak para ulama, merasa puas dengan sedikit dunia dan berhias diri dengan zuhud dan wira’i. pada masa akhir hidupnya, ia kembali ke An-Nahiyah dan wafat di sana.”

Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan dalam Dzail Tarikh Naisabur, “Abu Bakar Al-Baihaqi adalah seorang ahli fikih, ahli hadits, ahli ushul, taat beragama dan wira’i. disamping itu, ia adalah orang nomor satu pada zamannya dalam hafalan dan orang yang melebihi temannya dalam kejelian dan ketelitian. Ia termasuk murid-murid besar Al-Hakim dan bahkan melebihinya dengan berbagai bidang ilmu. Ia telah menulis hadits dan menghafalnya sejak dari kecilnya. Ia mempelajari ilmu fikih dan ilmu ushul sampai menguasainya. Ia pergi menuju Irak, Al-Jibal dan Hijaz. Setelah itu ia menyusun karya-karya yang jumlahnya mendekati 1000 (seribu) juz, suatu hasil karya yang belum pernah dicapa orang sebelumnya.

Ia juga telah mengumpulkan antara ilmu hadits dan fikih, menjelaskan illat-illat hadits dan titik temu antara hadits-hadits yang dikumpulkan (yang awalnya terlihat seperti kontradiksi, pen). Ia diminta oleh para ulama untuk pindah dari An-Nahiyah menuju Naisabur agar mengajarkan kitab-kitabnya disana. Pada tahun 441 H ia datang di Naisabur. Di sana dibuat majelis ilmu untuk membahas kitab Al-Ma’rifah karyanya. Majelis tersebut dihadiri para ulama dan para pencari ilmu pada umumnya. Ia adalah orang yang mengikuti jejak para ulama dan merasa puas dengan sedikit harta.”

Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Jika Al-Baihaqi menginginkan madzhab sendiri dengan jalan berijtihad, maka ia mampu untuk itu karena ilmunya yang luas dan pengetahuannya yang mendalam mengenai masalah-masalah khilaf. Oleh karena itulah, kamu lihat ia membela pendapat ulama yang didukung oleh hadits yang shahih.”

At-Taj As-Subki mengatakan, “Perkataan guru kami, Syaikh Adz-Dzahabi bahwa ia adalah orang yang pertama kali mengumpulkan teks-teks Imam Asy-Syafi’I adalah kurang tepat. Yang benar, ia adalah orang yang terakhir mengumpulkannya. Oleh sebab itu, ia menguasai mayoritas apa yang ada dalam kitab-kitab ulama yang sudah mendahuluinya. Aku tidak mengetahui seorang pun setelahnya yang mengumpulkan teks-teks seperti yang ia kumpulkan karena ia telah menutup pintu itu bagi mereka.”

At-Taj As-Subki juga mengatakan, “Imam Al-Baihaqi adalah salah satu imam kaum muslimin, penunjuk kebenaran bagi kaum mukminin dan dai yang mengajak kepada tali Allah yang kukuh. Ia adalah seorang Al-Hafidz yang besar, ahli ushul yang cerdas, zuhud, wira’I, puas dengan Allah dan membela madzhab, baik dasar-dasar maupun cabangnya. Ia adalah gunung dari gunung-gunung ilmu.

Usahanya dalam Mencari Ilmu dan Prestasi Tingginya yang Melebihi Teman-Temannya

Adz-Dzahabi mengatakan, “Pada saat berumur lima belas tahun, Al-Baihaqi berguru kepada Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi, murid Abu Hamid bin Asy-Syarqi. Abu Al-Hasan adalah gurunya yang tertua. Namun ia kehilangan kesempatan berguru kepada Abu Nu’aim Al-Isfarayini, murid Abu Uwanah. Hanya saja ia meriwayatkan bab jual beli darinya melalui Ijazah. Ia juga berguru kepada Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafidz. Ia sangat bersungguh-sungguh dalam belajar kepadanya. Karenanya, ia menjadi ulama yang sangat terkenal.”

Ibnu As-Subki menceritakan proses pencarian ilmu yang ia lakukan sebagai berikut:

“Al-Baihaqi melakukan haji. Lalu ia menuju Baghdad. Di sana, ia bergurukepada Hilal Al-Haffar, Abu Al-Husain bin Busyran dan segolongan ulama lain. Selain belajar kepada ulama-ulama di Baghdad, ia juga belajar kepada ulama-ulama yang ada di Makkah, seperti Abu Abdillah bin Nazhif, dan ulamaulama lain yang ada di Iraq, Hijaz dan Al-Jibal. Jika dihitung, guru-gurunya lebih dari 100 orang. Hal ini tidak seperti yang dialami oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Majah. Khusus dalam bidang fikih, ia berguru kepada Nashir Al-Umari.

Ia menyusun karya-karyanya setelah menjadi ulama yang paling baik akalnya. Kitab-kitab karyanya mencapai 1000 juz. Belum ada seorang pun yang bisa menandinginya dalam menyusun karya-karya seperti yang telah dicapainya tersebut.”

Guru dan Murid-Muridnya

Diantara guru-guru beliau adalah, “Imama Adz-Dzahabi mengatakan, “Al-Baihaqi mendengarkan hadits dari: Abu Al-Hasan Muhammad bin al-Hasan Al-Alawi, Abu Abdillah Al-Hakim, Abu Thahir bin Mahmasy, Abu bakar bin Faurak, Abu Ali Araudzabari, Abdullah bin Yusuf bin Banawih, Abu Abdirrahman As-Silmi, sejumlah ulama di Khurasan, Hilal bin Muhammad Al-Haffar, Abu Al-Husain bin Busyrah, Ibnu Ya’qub Al-Iyadhi, sejumlah ulama di Baghdad, Al-Hasan bin Farras di Makkah, Jannah bin Nadzir dan sejumlah ulama di Kufah.”

Dan diantara murid-murid beliau, Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Murid-muridnya adalah: Syaikh Al-Islam Abu Ismail Al-Anshari (melalui ijazah), Ismail bin Ahmad (anaknya), Abu Al-Hasan Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad (cucunya), Abu zakaria Yahya bin Mandah Al-Hafidz, Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Ismail Al-Farisi, Abdul jabbar bin Abdil Wahhab Ad-Dahhan, Abdul jabbar bin Muhammad bin Al-Khawari, Abdul Hamid bin Muhammad Al-Khawari, Abu Bakar Abdurrahman bin abdullah bin Abdirrahman l-Buhairi An-Naisabur yang meninggal pada tahun 540 H. dan sejumlah murid-murid beliau yang lain.”

Kitab-Kitab Karyanya

Diantara kitab-kitab beliau rahimahullah adalah sebagai berikut :

  • Al-Ma’rifah fi As-Sunan wa Al-Atsar
  • As-Sunan Al-Kabir
  • As-Sunan wa Al-Atsar
  • Al-Asma’ wa Ash-Shifat
  • Al-Mu’taqad
  • Al-Ba’ts
  • At-Targhib wa At-Tarhib
  • Ad-Da’awat
  • Az-Zuhd
  • Al-Khilafiyat nushush Asy-Syafi’i
  • Dala’il An-Nubuwwah
  • As-sunan Ash-Shaghir
  • Syu’ab Al-Iman
  • Al-madkhol ila As-Sunan al-Adab
  • Fadha’il Al-Auqat
  • Al-Arba’in Al-Kubra
  • Al-Arba’in Ash-Shughra
  • Ar-Ru’yah
  • Al-Isra’
  • Manaqib Asy-Syafi’i
  • Manaqib Ahmad
  • Fadha’il Ash-Shahabah, dan kitab-kitab lain dari karya ilmiyah beliau rahimahullah.

Setelah menyebutkan sejumlah karya-karya Al-Baihaqi, At-Taj As-Subki mengatakan, “Semua karya-karya itu adalah karya yang indah, teratur susunannya dan banyak faedahnya. Para cendekiawan yang melihatnya bersaksi bahwa tidak ada seorang pun dari para ulama yang sudah mendahuluinya yang dapat menandingi karya-karya tersebut.

Wafat Beliau

Adz-Dzahabi mengatakan, “Setelah orang-orang mendengarkan pemaparan ilmunya yang terakhir, ia kemudian sakit dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 10 Jumadal Ula tahun 458 H. ia dimandikan, dikafankan dan dimasukkan dalam peti untuk dipindah ke Baihaq, suatu tempat yang jauhnya dari Naisabur dua hari perjalanan onta. Ia hidup selama 74 tahun.” Wallahu A’lam.

Sumber: dinukil dari kitab “Min A’lamis Salaf” karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia : “60 Bigrafi Ulama Salaf” cet. Pustaka Azzam, hal : 678-683, dengan sedikit di ringkas.
Oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,22 April 2010/8 Jumadil Awal 1431H

Print Friendly