Iman Kepada Qadar (takdir)

Iman Kepada Qadar (Takdir)

Iman kepada qadar meliputi empat perkara:

  • Keyakinan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang telah dan akan terjadi. Allah mengetahui segala keadaan hamba-hamba-Nya. Allah mengetahui rezeki, ajal, dan amal perbuatan mereka. Segala urusan dan gerak mereka tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman:
    “Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al Ankabut : 62)

    Firman Allah, yang artinya:
    “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, dan seprti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath Thalaq : 12)

  • Keyakinan akan adanya catatan Allah tentang apa yang telah ditaqdirkan dan telah duputuskan-Nya Allah berfirman:
    “Sesunguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dan tubuh-tubuh mereka dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat).” (Qaaf : 4)

    Firman Allah, yang artinya:
    “…Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam ki-tab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Yaasin: 12)
    “Apakah kamu tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dilangit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Laul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al Hajj : 70)

  • Keyakinan bahwa kehendak-Nya tidak dapat diganggu gugat. Jika Allah berkehendak, maka jadilah. Dan jika Allah tidak berkhendak maka tak akan ter-jadi. Allah berfiram, yang artinya:
    “…Sesungguhnya Allah berbuat atas segala yang Dia kehendaki.” (Al Hajj : 18)
    “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia me-nghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah.’ Maka jadilah dia.” (Yaasin : 82)

    Firman Allah, yang artinya:
    “Dan tidaklah kamu berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.” (Al Insan : 30)

  • Keyakinan bahwa Allah adalah pencipta seluruh yang ada; tidak ada pencipta selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Allah berfirman:
    “Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia atas segala sesuatu itu bagi Pemelihara.” (Az Zumar : 62)
    “Wahai manusia, ingatlah terhadp nikmat Allah yang telah diberikan kepada kamu sekalian; lalu adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Ilah selain Dia, lalu mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Faathir : 3)

Itulah perinsip-perinsip keimanan sebagaimana yang diyakini Ahlussunnah wal Jama’ah, yan meliputi enam perinsip keimanan, yang lazim disebut dengan Rukun Iman. Suatu pemahaman yang berbeda sekali dengan pendngan-pendangan ahlus bid’ah.

Menurut aqidah Ahlussunnah, iman kepada Allah juga mencakup keyakinan bahwa iman itu adalah pern-yataan yag disertai dengan amalan. Iman dapat bertam-bah manakala seseorang meningkatkan ketaatannya kepada Allah, dan dapat berkurang bila seseorang ber-maksiat kepada Allah. Seorang muslim tidak boleh me-lakukan “takfir’ (mengkafirkan) seorang muslim lainya yang berbuat dosa, selain dosa syirik. Dosa-dosa seperti zina, mencuri, makan riba, meminum minuman yang memabukkan, mendurhakai orang tua, serta dosa-dosa besar lainya tidak menyebabkan seorang jatuh kepada kekafiran selama tidak menghalalkannya. Allah berfir-man:
“Sesunguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Dia dengan sesuatu, dan men-gampuni dosa selain itu bagi orang yang Dia ke-hendaki…” (An Nisa : 116)

Dalam kaitan ini, Rasulullah bersabda bahwa:

إنَّ اللهَ يخُرِْ جُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثقَالُ خَرْدَل مِنْ إِ ْيمَانٍ

“Sesungguhnya Allah mengeluarkan dari nereka siap asaja yang di hatinya msaih terdapat keimanan, walaupun itu hanya sebesar biji sawi.”

Mencintai, membanci, memihak, dan memusuhi karena Allah, adalah termasuk bagian dari iman kepada Allah. Seorang mukmin hendaknya mencintai seorang mukmin lainya, memihak dan setia kepadanya, dan pada saat bersamaan, membenci dan memusuhi orang-orang kafir.

Kaum mukminin yang terutama dari ummat ini, adalah para sahabat Rasulullah yang setia,. Maka Ahlussunnah wal Jama’ah pun menyintai dan menyata-kan loyalitasnya kepada mereka, serta meyakini bahwa para sahabat adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi. Keyakinan ini antara lain dilandasi oleh hadits Nabi:

“خَيْرُ اْلقُرُوْنِ قَرْني ثمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَـهُمْ ثمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ”

“Sebaik-baik masa adalah masaku ini, kemudian orang-orang selanjutnya (tabi’in), lalu menyusul orang-orang yang selanjutnya (tabiut tabi’in).” (Hadits Muttafaq alaih)

Ahlussunnah juga menegaskan bahwa Abu Bakar Ash Siddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzun Nurain (Pemilik dua cahaya), dan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat-sahabat utama Rasulullah yang diridlai Allah. Kemudian setelah empat sahabat itu, sahabat utama Rasulullah adalah sisa sepuluh orang yang telah di beri kabar gembira dengan jaminan surga. Setelah itu adalah para sahabat lainya yang semuanya telah memeproleh ridla Allah. Kita wajib menahan diri dari apa yang mereka perselisihkan diantara para sahabat itu, dengan keyakinan bahwa mereka adalah para ahli ijtihad (mujtahid). Bagi yang benar akan mendapat dua pahala, sedang bagi yang salah ijtihadnya akan mendapatkan suatu pahala. Para sahabat menyintai Rasulullah dan ahlul baitnya. Merka menghormati para isteri Rasulullah dan ridla atas mereka semua.

Ahlussunah wal Jama’ah berlepas diri dari “Thariqatur rawafidh”, yaitu orang-orang yang membenci dan mencela sejumlah sahabat, namun menjunjung terlalu tinggi ahlul bait, sehingga mereka menganggap kedudukan ahlul bait melebihi para nabi dan bahkan sepadan dengan kedudukan Allah. Sebagaimana Ahlussunnah juga berlepas diri dari “Thariqatun Nawasib”, yakni orang-orang yang membenci ahlus bait, baik yang menyatakan kebencian itu dengan pernyataan-pernyataan ataupun dengan perbuatannya.

Aqidah shahihah yang diamanatkan kepada Rasulullah, sebagaiman dijelaskan dalam risalah ini adalah aqidah Firqatun Najiyah (golongan yang selamat) Ahlus Sunah wal Jama’ah. Dalam kaitan ini Rasulullah bersabda:

” لاَ تَزَالُ طَائِفَةُْ مِنْ اُمَّتِي عَلَى اْلحَقِّ مَنْصُوْرَةً لاَ يَضُرّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتَيِ اَمْرُ اللهِ سُبْجَانَه ”

“Akan tetapi ada segolongan dari ummatku tegak di atas dasar kebenaran, dan mendapat pertolonan Allah tak menghiraukan orang yang mengecewakan mereka sampai akhirnya datang perintah dari Allah Subhannahu wa Ta’ala .”

Masih dalam masalah yang sama, Rasulullah bersabda:

” افْتَرَقَتِ اْليَهُوْدُ عَلَى اِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِه الآُمَّةُ عَلَى ثَلاَ ثٍ وَسَبْعيْنَ فِرْقَة،كُلُّهَا فىِ الَنَّارِ اِلاَّوَاحِدَةً، فَقَالَ الصَّحَابَة : مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأصحَابِىْ ”

“Telah terpecah belah golongan Yahudi menjadi 71 golongan Nashrani terpecah menajdi 72 golongan. Sementara ummat ini (ummat Islam) akan terpecah menajdi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu saja.” Para sahabat bertanya, “siap golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang ber-i’tiqad seperti aku dan para sahabatku.”

Golongan yang dimaskud oleh Rasulullah adalah golongan yang berpegang teguh dan ber-istiqamah terhadap aqidah Rasulullah dan para shabatnya. Adapun orang-orang yang menyembah berhala, menyembah malaikat, aulia, jin, pohon-pohon, batu-batu, dan lain sebagainya. Mereka inilah yang tak mengindahkan seruan Rasulullah, bahkan menentang dan melawannya, seperti yang diperbuat oleh kaum kafir Quraisy serta berbagai kelompok lainya kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Mereka telah meminta sembahan-sembahan bahan itu untuk memenuhi kebutuhan mereka, menyembuhkan, dan memenangkan atas musuh-musuh mereka, menyerahkan qurban, serta bernadzar untuk sesembahan-sesembahan itu. maka tatkala Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengingkari bentuk penyembahan seperti itu, dan mengajak mereka untuk ikhlas beribadah kepada Allah semata, mereka terkejut dan terheran-heran, dan serta merta mengingkari dan menolak dengan sengit da’wah yang suci dan agung itu. mereka berkata dengan sinis:
“Mengapa ia menjadikan Tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” (Shaad: 5)

Itulah sambutan kaum kafir Qurasy terhadap seruan Nabi. Namun, Rasulullah tak mengendurkan seru-anya, beliau terus mengajak dan mengajak mereka un-tuk mengikuti petunjuk Allah, memperingati mereka tentang bahaya syirik, serta menjelaskan dengan penuh kesabaran, amanat yang sedang diembannya. Akhirnya Allah memberi petunjuk kepada orang yang di kehendaki-Nya, sehinga mereka masuk dalam ikatan Dinullah secara berbondong-bondong. Atas kehendak Allah pula, melalui usaha da’wah Rasulullah yang tak pernah henti, serta gelora jihad para sahabat yang tak pernah surut, Dinul Islam berhasil ditegakkan dan dimenangkan atas din lainya.

Namun, keadaan umat Isalm semakin lama semakin berubah. Kebodohan meliputi kebanyakan manusia, sehingga banyak ummat Islam yang kembali kepada cara hidup jahiliyah. Mereka mengagungkan para nabi, aulia, dan ulma, secara berlebihan (al ghu-luw), dan menjadikan mereka sebagai tempat meminta pertolongan dan perlindungan. Kemusyrikan itu berlan-jut hingga sekarang. Ummat Islam menjadi tak mengerti lagi makna kalimah “Laa Ilaha Illallah”, bahkan secara tak langsung mengingkarinya, seperti halnya yang dilakukan oleh kaum kafir Qurasy dahulu. Mereka kembali mengatakan, seprti kaum qurasy dahulu mengatakan:
“…Kami tidak menyuembah mereka melain-kan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya…” (Az Zumar : 3)

Namun, tentu saja semua pernyataaan itu adalah sangkalan belaka, dan Allah membatalkan itu semua serta menegaskan bahwa barangsiapa yang menyembah selain Dia, maka dia telah syirik kepada-Nya, dan ia telah jatuh kepada kekafiran. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat bagi mereka. Lalu merka berkata,’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah , “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit maupun di bumi? Mahasuci Allah dan Maha tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Yunus : 18)

Allah Subhannahu wa Ta’ala menegaskan bahwa bentuk penyem-bahan terhadap apa pun selain kepada-Nya adalah syirik besar, sekalipun mereka menyebut-nya sebagai ibadah serta sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah berfirman, yang artinya:
“…Sesungguhnya Allah telah memutuskan di antara merka tentang apa yang mereka perselisihkan. Seseungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (Az Zumar : 3)

Segala bentuk peribadatan yang mereka tujukan selain kepada Allah, seperti doa, rasa cinta, takut adalah bentuk kekufuran kepada Allah. Dan pernyataan bahwa sesembahan mereka akan memdekatkan diri mereka kepada Allah, adalahdusta besar.

Pada zaman sekarang ini, di antara aqidah kufur yang bertentangn dengan aqidah shahihah sebagaimana yang dituturkan kepada para rasul, adalah pola pikir dan pola hidup Marxisme, Leninisme, Sosialisme, Ba’atsiyah dan yang semacamnya. Doktrin-doktrin yang mereka anut berada di dalam kerangka pikiran tidak adanya aIlah dan konsep hidup materialisme. Secara langsung, mereka mengingkari adanya hari kiamat, serga, meraka, dan ajaran-ajaran Islam lainya. Maka tak pelak lagi, ajaran hidup semacam ini bertentangan total dengan semua syariat sanawi. Inilah jalan hidup yang berujung pada jurang penderitaan dan seburuk-buruknya balasan, di dunia maupun di akhirat.

Di antara aqidah yang bertentangan dengan aqi-dah yang lurus dan bersih itu adalah aqidah yang di yakini kaum kebathinan dan sebagian ajaran kaum sufi, bahwa sebagian dari mereka sebut wali-wali ikut ber-sama Allah dalam mengatur, merancang urusan alam semesta dan mereka disebut sebagai aqthaab, Autaad, Aghwaats, dan yang semacamnya sebagai tuhan-tuhan. Ini adalah syirik yang paling besar dalam tauhid Ru-bubiyyah. Dan bentuk kemusyrikan ini adalah lebih bu-ruk dari tindak kemusyrikan yang dilakukan kaum kafir Arab dulu, sebab kaum kafir Arab saat itu tidak menye-kutukan dalam tauhid Rububiyyah, namun mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah. Dalam hal tauhid Rububiyyah, orang-orang Arab jahili itu masih menga-kui keesaan Allah, sebagaimana tertera dalam firman Allah:
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka ?, niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’” (Az Zuk-hruf : 87)

Dalam ayat-Nya yang lain, Allah berfirman:
“Katakanlah,‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapkah yang kuasa menciptakan pendengaran dan pengelihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah,‘Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?’” (Yunus : 31)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan seperti ini.
Kemusyrikan yang dilakukan banyak orang pada zaman sekarang ini lebih buruk dibandingkan kaum musyrikin pendahulunya. Di antara mereka ada yang menyekutukan Allah dalam hal tauhid Rubuibiyyah, dan kemusyrikan ini mereka lakukan baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan lapang. Sebagai contoh adalah mereka yang melakukan berbagai tindak kemusyrikan di sisi Al Husain, Al Badawi, dan kubu-ran-kuburan lainya di Mesir. Mereka juga dapat kita temui di sisi Al Idrus di Aden, Al Hadi di Yaman, Ibnu Arabi di Syam, dan Syaikh Abdul Qadir Jailani di Iraq, serta kuburan-kuburan lainya. Bentuk-bentuk penyele-wengan aqidah semacam ini telah mendorong banyak orang untuk mengambil hak-hak Allah. Namun sayangnya banyak orang yang tidak mau mengingkarinya serta enggan untuk menjelaskan kepada mereka prinsip-prinsip ketauhidan sebagaimana yang telah diserukan oleh Nabi Muhammad, serta para nabi dan rasul sebelumnya. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada mereka semua.

إِنَّالِلَّهِ وَإِنَّاإِلَيْهِ رَجِعُونَ

“Maka sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.”

Sementara itu, ada juga sekelompok ummat yang bertentangan dengan aqidah shahihah dalam hal asma dan sifat Allah. Aqidah yang mereka ikuti adalah aqidah bid’ah dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah dan memutarbalikan sifat-sifat Allah Subhannahu wa Ta’ala dan memutarbalikkan sifat-sifat kesempurnaan Allah dengan sifat-sifat yang ghaib dan sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya. Maha tinggi Allah dari segala yang mereka ucapkan.

Termasuk golongan di atas, adalah sekelompok orang yang menafikan sebagian sifat Allah dan menetapkan sifat-sifat lainya bagi Allah. Kelompok ini adalah kelompok Asy’ariyah. Merka menetapkan beberapa sifat bagi Allah dan membandingkannya dengan sifat-sifat yang dinafikan.merka lalu membuat ta’wil atas sifat-sifat itu dengan dalil-dalil yang menyalahi dalil pendengaran dan dalil akal serta bertentangan dengan aqidah shahihah.

Dalam masalah asma dan sifat Allah ini, Ahlussunah wal Jama’ah telah menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, baik yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam Al Qur’an atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, Muhammad shallallaahu alaihi wasalam. Ahlus-sunnah menjauhkan diri dari penyertaan Allah dengan makhluk-Nya. Ahlussunnah menerima sepenuhnya ketetapan Allah dan rasul-Nya mengenai sifat dan asma-Nya, tanpa menambah atau menguranginya, sehingga mereka terhindar dari berbagai bentuk kontradiksi akibat penafsiran manusia. Inilah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan ahirat Ash-shirot al mustaqim, jalan yang dilalui oleh pendahulu ummat ini.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa,27 Juli 2004/9 Jumadil Akhir 1425H

Print Friendly