Kisah Nabi Zakariya Dan Yahya ‘alaihimassalam (bagian-2)

Malaikat Menyampaikan Berita Gembira Kepada Nabi Zakariya Tentang Kelahiran Nabi Yahya ‘Alaihissalam

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَازَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلاَمٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا {7}

”Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”(QS. Maryam: 7)

Hal itu ditafsirkan melalui firman-Nya:

فَنَادَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمُُ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ {39}

”Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya):”Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih.”(QS. Ali ‘Imraan: 39)

Setelah berita gembira itu sampai kepadanya dan benar-benar nyata adanya, dia langsung terperanjat seraya meminta kejelasan dengan sikap heran akan lahirnya seorang anak (dari keturunannya) padahal keadaan dirinya seperti itu.


قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلاَمٌ وَكَانَتْ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا {8}

”Zakariya berkata:”Ya Rabbku, bagaimana akan ada anak untukku, sedangkan isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.”(QS. Maryam: 8)

Artinya, bagaimana mungkin akan lahir seorang anak dari seorang yang sudah tua renta. Ada yang berpendapat bahwa ketika itu usia Zakariya ‘alaihissalam tujuh puluh tujuh tahun, tetapi yang lebih tepat –Wallahu A’lam– adalah lebih tua dari itu.

… وَكَانَتْ امْرَأَتِي عَاقِرًا … {8}

”….Sedangkan isteriku adalah seorang yang mandul ….”(QS. Maryam: 8)

Maksudnya, sedang pada mudanya saja, isteriku sudah tidak dapat memberikan keturunan (mandul). Wallahu A’lam.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim ‘alaihissalam, Khalilullah dalam firman-Nya:

قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَن مَّسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ {54}

”Berkata Ibrahim:”Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.”(QS. Al-Hijr: 54)

Sedangkan isterinya, Sarah juga mengungkapkan hal itu:


قَالَتْ يَاوَيْلَتَى ءَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَىْءٌ عَجِيبٌ {72} قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ {73}

”Isterinya berkata:”Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”.Para malaikat itu berkata; “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”(QS. Huud: 72-73)

Demikianlah pengabulan permohonan yang dulu pernah dipanjatkan Zakariya, di mana para Malaikat itu berkata kepadanya melalui wahyu yang diperintahkan Rabbnya.


قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ …{9}

”Dia (Allah) berfirman:”Demikianlah. Dia berfirman, hai itu adalah mudah bagi-Ku….”(QS. Maryam: 9)

Maksudnya, Aku (Allah) telah menetapkanya. Apakah setelah mampu menciptakan dirimu dari ketiadaan sebelumnya tidak membuatmu yakin bahwa Aku mampu melahirkan seorang anak darimu meskipun engkau telah tua renta?

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:


فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَباًوَكَانُوا لَنَاخَاشِعِينَ {90}

”Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”(QS. Al-Anbiyaa’: 90)

Kata Ishlah dalam ayat terakhir di atas berarti penyembuhan penyakit yang diderita isterinya, di mana sebelumnya dia tidak dapat haidh, maka pada saat itu dia kembali bisa mengalami haidh.


قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّي ءَايَةً … {10}

”Zakariya berkata:”Ya Rabbku, berilah aku suatu tanda ….”(QS. Maryam: 10)

Yakni, tanda akan kelahiran anak tersebut melalui diriku dan juga isteriku.


… قَالَ ءَايَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَ لَيَالٍ سَوِيًّا {10}

”…Dia berfirman:”Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.”(QS. Maryam: 10)

Maksudnya, tanda-tandanya adalah bahwa engkau akan diam dan tidak dapat berbicara dengan orang lain selama tiga hari melainkan hanya dengan isyarat, padahal waktu itu engkau benar-benar dalam keadaan sehat dan dengan postur tubuh yang lengkap lagi normal. Dan juga diperintahkan supaya banyak berdzikir di dalam hati pada petang dan pagi hari.

Setelah dia menerima berita gembira tersebut, dia pun keluar dari mihrabnya dengan hati gembira menemui kaumnya.


… فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا {11}

”… Lalu dia memberi isyarat kepada mereka:’Hendaklah kamu bertasbih pada waktu pagi dan petang.’”(QS. Maryam: 11)

Kata al-Wahyu (isyarat) dalam ayat di atas berarti perintah (kepada kaumnya) yang bersifat sembunyi-sembunyi, baik dalam bentuk tulisan maupun isyarat.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَءَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا {12}

”Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.’”(QS. Maryam: 12)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan tentang lahirnya seorang anak sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan-Nya kepada ayahnya, Zakariya ‘alaihissalam. Dan bahwasanya Dia juga mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah sedang pada saat itu dia masih anak-anak. Adapun firman-Nya:


وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا … {13}

”….Serta rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami ….”(QS. Maryam: 13)

Ibnu Jarir rahimahullah telah meriwayatkan dari ‘Ikrimah rahimahullah, Qatadah rahimahullah, adh-Dhahak rahimahullah, mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا … {13}

”….Serta rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami ….”(QS. Maryam: 13)

Yakni, rahmat dari sisi Kami, yang dengannya Kami dulu mengasihi Zakariya, sehingga Kami anugerahkan kepadanya anak ini untuknya.

Dan kata زَكَاةً dalam ayat tersebut berarti penyucian akhlak dari berbagai hal-hal tercela dan hina. Sedangkan تَقِيًّا berarti ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kepatuhan dan ketaatn Yahya ‘alaihissalam kepada kedua orang tuanya baik dalam bentuk perintah maupun larangan. Dia tidak mau berbuat durhaka kepadanya baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَبَرَّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا {14}

” Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka.”(QS. Maryam: 14)

Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَسَلاَمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا {15}

” Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meniggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”(QS. Maryam: 15)

Ketiga waktu tersebut merupakan waktu yang sangat memberatkan dan menyulitkan bagi ummat manusia. Karena sesungguhnya pada setiap alam dari alam-alam tersebut, manusia berpindah dari satu alam ke alam yang lain, ia kehilangan alam pertama yang sudah dikenal dan sudah akrab dengannya, lalu pergi ke alam lain yang tidak dia ketahui apa yang ada di hadapannya kelak. Oleh karena itu, dia berteriak keras (menangis) ketika keluar dari rahim, dan berpisah dengan kelembutannya dan berpindah ke alam ini (alam dunia) untuk menghadapi kesedihan dan ksesusahannya.

Demikian juga jika berpisah dengan alam dunia ini dan berpindah ke alam barzakh (kubur), alam antara alam dunia dan alam keabadian (akherat). Dan jadilah ia setelah tinggal di alam yang penuh bangunan dan istana (dunia) menuju ke alam para jenazah menjadi penghuni kubur. Dan di sana ia menunggu ditiupnya sangkakala (terompet) pada hari kebangkitan (kiamat). Maka di antara mereka ada yang senang dan gembira, ada yang sedih dan merugi. Dan ada yang terhibur ada yang kecewa. Sebagian golongan masuk Surga dan sebagian lagi di Neraka (Sa’ir).

Ketika ketiga waktu tersebut sangat sulit dilampaui ummat manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keselamatan kepada Yahya bin Zakariya ‘alaihimassalam pada ketiga waktu tersebut, di mana Dia berfirman:


وَسَلاَمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا {15}

” Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meniggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”(QS. Maryam: 15)

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat yang lain.


… وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ {39}

”….Menjadi panutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”(QS. Ali ‘Imraan: 39)

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata حَصُورًا adalah orang yang menahan diri untuk tidak berhubungan badan dengan isterinya. Ada juga yang berpendapat berbeda dari itu. Tetapi yang terakhir lebih tepat jika didasarkan pada firman-Nya:


… رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً …{38}

”….Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik….”(QS. Ali ‘Imraan: 38)

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


مَا أَحَدٌ مِنْ ولد آدَمَ إِلا وقَدْ أَخْطَأَ أَوْ هَمَّ بِخَطِيئَةٍ لَيْسَ يَحْيَى بن زَكَرِيَّا فإنه لم يهم بها وما ينبغى لأحد أن يقول أنا خير من يونس بن متى (أحمد ، وأبو يعلى ، وابن عدى ، والضياء عن ابن عباس)

”Tidak ada seorang pun anak Adam melainkan dia pernah salah atau berkeinginan melakukan kesalahan kecuali Yahya bin Zakariya, sesungguhnya ia tidak pernah berkeinginan untuk itu. Dan tidak sepantasnya seseorang berkata:’Aku lebih baik dari (Nabi) Yunus bin Mata’.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu ‘Adi, dan ash-Dhiyaa’ dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


كل بنى آدم يأتى يوم القيامة وله ذنب إلا ما كان من يحيى بن زكريا

”setiap anak cucu Adam akan datang pada hari kiamat dalam keadaan memiliki dosa, kecuali Yahya bin zakariya.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak dan dinyatakan shahih sesuai syarat Muslim)

(Sumber: Kisah Shahih Para Nabi. Pustaka Imam Syafi’i hal 489-496 dengan sedikit gubahan dari Qashahul Anbiya’ karya Ibnu Katsir rahimahullah. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,14 Desember 2011/18 Muharram 1433H

Print Friendly