Pemikiran-pemikiran Syiah Imamiyah

Pertama: Imamah
Masalah ini adalah masalah penting bagi aliran ini, menurut aliran ini imam yang ada menunjuk imam berikutnya secara langsung, yakni menunjuk orangnya bukan sekedar ciri atau sifatnya.

Terkait dengan masalah imamah ini mereka meyakini bahwa imamah pada umat ini berada di tangan Ali dan anak cucunya, bahwa Nabi saw telah menunjuk Ali sebagai penerusnya secara langsung, selanjutnya Ali juga telah menunjuk penggantinya dar anaknya secara langsung dan begitu seterusnya..

Dari keyakinan ini mereka berlepas diri dari tiga Khulafa` Rasyidin sebelum Ali, Abu Bakar, Umar dan Usman. Orang-orang Syi’ah berkeyakinan bahwa tiga orang khalifah tersebut telah merampas secara zhalim hak Ali sebagai khalifah setelah Nabi saw, maka dari sini mereka memusuhi tiga khalifah yang mulia tersebut bahkan melaknat mereka dan menyifati mereka dengan sifat-sifat buruk, kata mereka, Abu Bakar dan Umar adalah jibt dan thaghut.

Dalam perkara-perkara penting mereka tidak memulai dengan basmalah akan tetapi dengan melaknat Abu Bakar dan Umar, tidak hanya itu mereka juga memusuhi sahabat-sahabat Nabi saw yang lain bahkan Aisyah istri tercinta Nabi saw tidak luput dari laknat mereka, kata mereka Aisyah, adalah baqarah (sapi betina) yang diperintahkan untuk disembelih dalam firman Allah, “Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyembelih seekor sapi betina.” (Al-Baqarah: 67). Kita berlindung kepada Allah dari segala ucapan busuk.

Kedua: Ishmah
Mereka berkeyakian bahwa imam itu ma’shum, terjaga dari dosa besar dan kecil, bahkan terjaga dari kealpaan. Apapun yang dilakukan imam pastilah benar, tidak ada istilah salah bagi imam dalam kamus mereka.

Ketiga: Ilmu ladunni
Mereka meyakini bahwa setiap imam memiliki ilmu ladunni khusus dari Rasulullah saw yang tidak diketahui oleh orang lain, ilmu ini menurut mereka menyempurnakan syariat, ilmu ini sejajar dengan apa yang dimiliki oleh seorang nabi, bedanya hanya wahyu yang diberikan kepada nabi dan tidak kepada imam.

Keempat: Ghaibah dan Raj’ah
Yang dimaksud dengan ghaibah adalah menghilangnya imam kedua belas yaitu al-Hasan al-Askari di bungker rumah bapaknya dan dia akan kembali di akhir zaman pada saat Allah mengizinkan untuk keluar, kembalinya al-Hasan al-Askari inilah yang disebut dengan Raj’ah.

Mereka berkata, bahwa ketika imam kedua belas ini kembali, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya ia dipenuhi dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan, mereka meyakini imam ini akan membalas para musuh Syi’ah sepanjang sejarah.

Kelima: Mut’ah
Yaitu pernikahan dengan kontrak dalam jangka waktu tertentu, Mut’ah ini bagi mereka merupakan salah satu adat terbaik dan ibadah yang mulia.

Keenam: Mushaf
Mereka mengklaim mempunyai mushaf bukan mushaf yang beredar di kalangan kaum muslimin sejak zaman Nabi saw sampai saat ini, mereka menamakan mushaf mereka dengan mushaf Fatimah. Al-Kulaini dalam al-Kafi hal. 57 meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq berkata, “Kami memiliki mushaf Fatimah alaihas salam.” Dia ditanya, “Apa itu mushaf Fatimah?” Dia menjawab, “Mushaf tiga kali al-Qur`an kalian, di dalamnya tidak satupun huruf yang sama dengan al-Qur`an kalian.”

Ketujuh: Ghuluw
Mereka meyakini pada diri Ali bin Abu Thalib secara berlebih-lebihan, mereka mengangkatnya di atas derajat yang semestinya, sebagian dari mereka bahkan menuhankan Ali, sebagian yang lain menuduh Jibril telah salah dalam menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw yang semestinya kepada Ali.

Kedelapan: Hari Raya
Mereka memiliki dua hari raya besar yaitu hari raya Ghadir Khum yang jatuh pada 18 Dzul Hijjah, hari raya ini bagi mereka adalah Id Akbar yang mengungguli Idul Fitri dan Idul Adha, hari ini menurut mereka adalah hari di mana Nabi saw mewasiatkan khilafah kepada Ali.

Hari raya kedua adalah tanggal 9 Rabi’ul Awwal, hari ini adalah hari raya mereka karena bapak besar mereka yaitu Abu Lu`lu`ah, yang mereka beri gelar dengan “Papa Syuja’ ad-Din” (Bapak pemberani), berani dan berhasil menikam Khalifah Umar bin al-Khattab. Setiap tahun sampai saat ini mereka memperingati hari ini sebagai hari raya.

Kesembilan: Taqiyah
Bagi mereka taqiyah ini merupakan salah satu dasar agama, orang yang meninggalkannya seperti meninggalkan shalat, hukumnya wajib, tidak akan terangkat sampai imam yang mereka tunggu-tunggu keluar, barangsiapa meninggalkan taqiyah maka telah keluar dari dari agama Allah. Taqiyah itu sendiri adalah menampakkan sikap dan ucapan berbeda dengan apa yang di yakini, ia tidak berbeda dengan dusta, dari sini mereka banyak melakukan dusta dengan alasan taqiyah, dusta bagi mereka dianjurkan bahkan diwajibkan.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,14 Pebruari 2008/6 Safar 1429H

Print Friendly