Pengikut Fir’aun Yang Beriman (bagian-3)

Allah Ta’ala berfirman :

وَقَالَ الَّذِي ءَامَنَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ {38} يَاقَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعُُ وَإِنَّ اْلأَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ {39} مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلاَيُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنُُ فَأُوْلاَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ {40}

“Orang yang beriman itu berkata : ‘Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu.Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab’”. (Al-Mukmin : 38-40)

Salah seorang dari pengikut Fir’aun – mudah-mudahan Allah meridhainya – itu mengajak mereka ke jalan yang lurus, yaitu mengikuti Nabi Allah Musa –Alaihissalam- sekaligus membenarkan apa yang dibawanya dari sisi Rabbnya. Selanjutnya dia menyerukan agar mereka tidak terpaku kepada kehidupan dunia yang fana ini saja. Dia juga menganjurkan mereka supaya mencari pahala dari sisi Allah, yang tiada pernah menyia-nyiakan amal perbuatan seorangpun. Dia adalah Rabb yang Maha Kuasa, yang segala sesuatu berada di tanganNya. Dialah Rabb yang membalas perbuatan sedikit dengan balasan yang sangat banyak. Dan di antara wujud keadilanNya adalah dia tidak memberikan balasan atas perbuatan buruk melainkan dengan keburukan yang serupa.

Kemudian dia (pengikut Fir’aun yang beriman) memberitahukan bahwa kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang abadi. Siapa yang memenuhi semua tuntutannya akan mendapatkan derajat yang tingi, tempat yang aman lagi terpuji, berbagai kebaikan yang melimpah dan segala macam rizki yang tiada akan pernah lenyap, serta kebaikan yang sudah ada di tangan mereka akan selalu bertambah.

Selanjutnya, ia menyalahkan perbuatan mereka itu seraya mengancam mereka atas apa yang mereka lakukan, dia berkata :

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلاَيُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنُُ فَأُوْلاَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ {40} وَيَاقَوْمِ مَالِى أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ {41} تَدْعُونَنِي لأَكْفُرَ بِاللهِ الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ {42} لاَجَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلاَفِي اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى اللهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ {43} فَسَتَذْكُرُونَ مَآأَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللهِ إِنَّ اللهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ {44} فَوَقَاهُ اللهُ سَيِّئَاتِ مَامَكَرُوا وَحَاقَ بِئَالِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ {45} النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ {46}

“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu.Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat.Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu.Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (Dikatakan kepada malaikat) : ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras’”. (Al-Mukmin : 40-46)

Keluarga Fir’aun yang beriman ini juga menyeru mereka untuk menyembah Rabb pemelihara langit dan bumi, yang jika hendak mwnciptakan segala sesuatu hanya mengatkan : “Jadilah, maka jadilah ia”. Sedangkan mereka mengajak orang mukmin untuk menyembah Fir’aun yang dungu, bodoh lagi terlaknat. Oleh karena itu, dengan nada mengingkarinya dia berkata :

وَيَاقَوْمِ مَالِى أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ {41} تَدْعُونَنِي لأَكْفُرَ بِاللهِ و أشرك به ما ليس به علم و أنا أدعوكم إلى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ {42}

“Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?”. (Al-Mukmin : 41-42)

Kemudian dia menjelaskan kesalahan dan kekeliruan apa yang mereka kerjakan itu, yaitu penyembahan mereka kepada selain Allah Ta’ala berupa berhala dan sekutu-sekutu lainnya. Karena semuanya itu tidak dapat memberikan manfaat maupun mudharat. Ia berkata :

لاَجَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلاَفِي اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى اللهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ {43

“Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat.Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka” (Al-Mukmin : 43)

Yaitu, yang tidak dapat mengendalikan diri dan mengatur alam semesta ini, lalu bagaimana mungkin ia dapat melakukannya pada hari Kiamat kelak? Sedangkan Allah –Azza Wajalla- adalah Rabb yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rizki kepada orang-orang yang berbuat baik dan juga yang berbuat jahat. Dialah yang menghidupkan dan mematikan semua makhluk-Nya dan kemudian membangkitkan mereka. Dia akan memasukkan semua orang yang taat kepadaNya ke dalam surga, sedang mereka yang durhaka akan Dia masukkan ke dalam neraka.

Selanjutnya, orang mukmin itu mengancam mereka jika masih tetap dalam keingkaran. Dia mengatakan :

فَسَتَذْكُرُونَ مَآأَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللهِ إِنَّ اللهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ {44}

“Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu.Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Al-Mukmin : 44)

Allah berfirman :

فَوَقَاهُ اللهُ سَيِّئَاتِ مَامَكَرُوا… {45}

Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka…” (Al-Mukmin : 45)

Yaitu, dengan mengingkari mereka, dan dia akan selamat dari siksaan serta adzab yang menimpa mereka karena kekufuran mereka kepada Allah, dank arena tipu daya mereka dalam menghalangi manusia dari jalanNya, dimana mereka memberikan gambaran-gambaran fiktif dan berbagai khayalan kepada kaum awam. Oleh karena itu, Dia berfirman :

…وَحَاقَ بِئَالِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ {45} النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا … {46}

“…Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang…”, (Al-Mukmin : 45-46)

Maksudnya, neraka diperlihatkan kepada arwah mereka di alam barzakh pada pagi dan petang hari.

…وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ {46}

“Dan pada hari terjadinya Kiamat (Dikatakan kepada malaikat) : ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras’”. (Al-Mukmin : 46)

Dalam kitab tafsir, telah kami uraikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukan adanya adzab kubur. Segala puji hanya bagi Allah.
Wallahu A’lam

(Sumber: Kisah Shahih Para Nabi. oleh Syaikh Salim al-Hilali disarikan dari kitab Qishahul Anbiyaa’ karya Ibnu Katsir. Pustaka Imam Syafi’i hal. 128-135, diposting oleh Abu Maryam Abdusshomad)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,15 Juli 2010/3 Sya’ban 1431H

Print Friendly