Tangisan Syaikh Para Sahabat, Abdullah Bin Umar Ra

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam al-Hilyah dari al-Qasim bin Abi Barrah, ia berkata, “Bertutur kepadaku orang yang per-nah mendengar Ibnu Umar RA membaca, ‏(artinya) ‘Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.’ (Al-Muthaf-fifin: 1). Hingga ketika sampai pada ayat, (artinya) ‘(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.’ (Al-Muthaffifin: 6), maka ia menangis hingga tersungkur dan tidak dapat melanjut-kan bacaan sesudahnya.” Ahmad juga meriwayatkan hadits senada, sebagaimana dalam Shafwah ash-Shafwah. *

Dalam riwayat keduanya juga dari Nafi’ bahwa ia menga-takan, “Tidaklah Ibnu Umar RA membaca kedua ayat ini dari akhir surah al-Baqarah, melainkan ia menangis, (artinya) ‘Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu.’ (Al-Baqarah: 284) Kemudian ia berkata, ‘Perhitungan ini sangatlah keras.’

Dari Abu Nu’aim juga dalam al-Hilyah dari Nafi’, ia menga-takan, “Aku pergi bersama Ibnu Umar RA menuju rumah Ubaid bin Umair RA pada saat bertutur pada para sahabatnya. Aku memandang Ibnu Umar p, ternyata kedua matanya mengu-curkan air mata.”

Demikianlah, mereka takut kepada Rabb mereka dari hati mereka, lalu air mata mereka membuktikan kebenaran iman mereka.

Dari Ibnu Sa’d dari Ubaid bin Umar bahwa ia membaca, (artinya) “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu),” (An-Nisa’: 41)

hingga akhir ayat. Maka Ibnu Umar RA menangis hingga basah jenggot dan saku bajunya karena air matanya. Abdullah berkata, “Bertutur kepadaku orang yang pernah berada di sisi Ibnu Umar, ‘Aku berinisiatif untuk pergi menemui Ubaid bin Umar, lalu aku katakan kepadanya, ‘Batasilah ucapanmu, karena sesungguhnya kamu telah mengganggu syaikh ini’.”**

Ia berbicara, di puncak usianya yang panjang, dengan per-nyataan, “Sesungguhnya aku telah membai’at Rasulullah SAW, dan aku tidak membatalkannya serta tidak menggantikannya hingga saat ini. Aku tidak membai’at pelaku fitnah, dan tidak akan membangunkan seorang mukmin dari tidurnya.”

Keistimewaan-keistimewaan yang membuat mata menatap Abdullah bin Umar RA sangatlah banyak. Ilmunya, ketawa-dhu’annya, istiqamah batinnya, tutur katanya, kedermawanan-nya, kewara’annya, keuletannya dalam beribadah, kejujuran berpegang teguhnya dengan keteladanan… Ia belajar dari ayah-nya, al-Faruq, kebajikan yang sangat banyak. Sementara ayah-nya belajar semua kebajikan dari Rasulullah SAW.

Ummul Mu’minin Aisyah RHA berkata, “Tidak ada seorang pun yang mengikuti perilaku Nabi a di rumah-rumahnya se-bagaimana yang dilakukan Ibnu Umar RA.”

Datang suatu zaman kepada kaum muslimin di mana kaum shalih mereka selalu berdoa, “Ya Allah, biarkan Abdullah bin Umar tetap hidup selagi engkau masih menghidupkan kami, agar kami bisa meneladaninya. Sesungguhnya aku tidak menge-tahui seorang pun memahami perkara pertama selain dia.” Orang-orang yang pernah mengenalnya berkata, “Tidak ada seorang pun dari para sahabat Rasulullah SAW yang lebih ber-hati-hati untuk tidak menambah dalam hadits Rasulullah atau menguranginya dibandingkan Abdullah bin Umar.”

Ibnu Umar adalah “saudara” malam karena senantiasa bangun untuk mengerjakan shalat, dan sahabat menjelang pagi karena menghabiskannya untuk beristighfar dan menangis. Ia pernah bermimpi pada masa mudanya, yang ditafsirkan oleh Rasulullah SAW dengan suatu tafsiran yang menyebabkan qiyamul lail menjadi puncak angan Abdullah bin Umar p, dan menjadi sandaran keinginan dan kegembiraannya.

Ia menuturkan, “Aku bermimpi pada masa Rasulullah SAW seolah-olah di tanganku terdapat sepotong sutra. Seolah-olah tidaklah aku menginginkan suatu tempat di surga, melainkan sepotong sutra tersebut membawaku terbang ke sana. Aku me-lihat seolah-olah dua orang datang kepadaku, dan keduanya ingin membawaku pergi ke neraka. Tetapi keduanya dihadang oleh seorang malaikat dengan berkata, ‘Jangan takut.’ Lantas keduanya melepaskan aku. Kemudian Hafshah Ummul Mu’-minin, saudaraku, menceritakan mimpiku itu kepada Nabi SAW. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda,

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ

‘Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya ia melakukan shalat malam’.”***

Sejak hari itu hingga berjumpa dengan Rabbnya, ia tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik pada saat bermukim maupun pada saat bepergian.

Ia shalat, membaca al-Qur’an, dan banyak berdzikir kepada Rabbnya. Ia seperti ayahnya, air matanya mengalir ketika men-dengar ayat-ayat peringatan dalam al-Qur’an. Demikianlah keadaan kaum yang shalih, yang beribadah, lagi takut kepada Allah SWT.

Ubaid bin Umair berkata, “Pada suatu hari aku membaca di hadapan Abdullah bin Umar RA ayat ini, (artinya) ‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas me-reka itu (sebagai umatmu).’ (An-Nisa’: 41),

Maka Ibnu Umar RA menangis hingga basah jenggotnya karena air matanya.” Pada suatu hari ia duduk di hadapan saudara-saudaranya lalu membaca,‏ (artinya) “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri meng-hadap Rabb semesta alam.” (Al-Muthaffifin: 1-6).

Kemudian ia mengulang-ulang ayat, (artinya) “(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” Sementara air mata-nya mengalir bagaikan hujan, sehingga ia jatuh pingsan karena sedemikian sedih dan banyak tangisannya.

Setelah kesyahidan Khalifah Rasyid yang ketiga, Imam Utsman bin Affan RA, Ibnu Umar RA ditawari untuk menjadi khalifah kaum muslim. Tapi ia menolaknya dan menjauhi fitnah. Setelah kematian Yazid bin Mu’awiyah, Mu’awiyah bin Yazid naik tahta kekhilafahan. Kemudian Mu’awiyah bin Yazid meninggalkan kekhilafahan karena tidak menginginkannya setelah beberapa hari pengangkatannya. Sementara Ibnu Umar RA telah tua renta. Marwan datang kepadanya seraya mengatakan, “Ulurkan tanganmu supaya aku membai’atmu, karena engkau adalah pemuka Arab dan putra pemukanya pula.” Tapi Ibnu Umar RA menolak tawaran ini, meskipun mereka berkali-kali menawarkan kepadanya.

Maka layak bagi orang-orang sezamannya ketika cahaya keutamaan dan berbagai kelebihannya membuat mereka membandingkan antara dirinya dengan ayahnya yang mulia, Umar bin al-Khaththab RA. Mereka berkata, “Umar di masanya memiliki orang-orang yang sebanding dengannya. Sementara Ibnu Umar di zamannya tidak memiliki orang yang sepadan dengannya.”

Pada tahun 73 H, matahari condong untuk terbenam, dan salah satu bahtera keabadian telah mengibarkan layarnya untuk mengarungi samudera menuju alam lainnya dan menuju ar-Rafiq al-A’la (Surga tertinggi tempat para nabi berada) dengan membawa jasad orang terakhir yang menampilkan masa-masa wahyu (di Makkah dan Madinah), Abdullah bin Umar bin al-Khaththab RA.****

Semoga Allah meridhaimu, wahai Ibnu Umar. Karena eng-kau benar-benar orang yang banyak bertaubat, banyak berpuasa, lagi banyak beribadah, yang menangis pada masa-masa bersa-habat bersama Rasulullah SAW, bersama ash-Shiddiq, al-Faruq, Utsman, dan Ali RA pada masa-masa jihad dengan kejujuran dan kesetiaan. Engkau menangis karena berbagai fitnah dan ketidak ramahan yang menyertai masa-masa sesudahnya. Eng-kau melaksanakan Qiyamul lail. Engkau mengalirkan air mata pada malam hari karena membaca Kitabullah dan takut ter-hadap adzabNya. Mimpimu telah memberikan kabar gembira kepadamu berupa kenikmatan yang abadi (di surga).

CATATAN KAKI:

* Lihat, al-Hilyah, 1/ 305.
** Hayah ash-Shahabah, 2/ 73-576.
*** HR. al-Bukhari, 1122 dan Muslim 2479.
**** Sahabat terakhir yang meninggal dunia adalah Anas bin Malik RA, meninggal di Bashrah. Lihat, Rijal Haula ar-Rasul SAW, hal. 72-81.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis, 5 Juni 2008/30 Jumadil Awal 1429H

Print Friendly