Antara Burung Hud-hud Dan Ratu Saba’ (bagian 1)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَالِي لآأَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَآئِبِينَ {20} لأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ {21} فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَالَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ {22} إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ {23} وَجَدتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِن دُونِ اللهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لاَيَهْتَدُونَ {24} أَلاَّيَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَاتُخْفُونَ وَمَاتُعْلِنُونَ {25} اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * {26}* قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ {27} اذْهَب بِّكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ {28} قَالَتْ يَآأَيُّهَا الْمَلَؤُا إِنِّي أُلْقِيَ إِلَىَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ {29} إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {30} أَلاَّتَعْلُوا عَلَىَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ {31} قَالَتْ يَآأَيًّهَا الْمَلَؤُا أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَاكُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونَ {32} قَالُوا نَحْنُ أُولُوا قُوَّةٍ وَأُوْلُوا بَأْسٍ شَدِيدٍ وَاْلأَمْرُ إِلَيْكِ فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ {33} قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَآ أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ {34} وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ {35} فَلَمَّا جَآءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَآ ءَاتَانِىَ اللهُ خَيْرٌ مِّمَّا ءَاتَاكُم بَلْ أَنتُم بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ {36} ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُم بِجُنُودٍ لاَّقِبَلَ لَهُم بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُم مِّنْهَآ أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ {37}

”Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata:”Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata:”Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai’Arsy yang besar”. Berkata Sulaiman:”Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”.
Berkatalah ia (Balqis):”Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya:”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkatalah dia (Balqis):”Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. Mereka menjawab:”Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. Dia berkata:”Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:”Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.”
(QS. An-Naml: 20-37)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah Sulaiman ‘alaihissalam bersama burung hud-hud. Dalam kisah itu disebutkan bahwa burung-burung sudah siap berada dalam barisan masing-masing yang setiap barisan mengutus utusan untuk menghadap sang raja. Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Sulaiman ‘alaihissalam, serta datang kepadanya dengan membawa perwakilan masing-masing sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan bala tentara dengan sang raja. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tugas burung hud-hud adalah mencari air jka semua pasukan kesulitan mendapatkan air dalam perjalanan di padang pasir. Dia hanya bertugas mengecek apakah di tempat tertentu terdapat air atau tidak. Oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala burung ini diberi kemampuan untuk memantau keberadaan air di dalam tanah. Jika burung itu telah memberikan informasi keberadaan air maka mereka pun segera menggali tanah tersebut dan mengambil airnya untuk keperluan mereka. Ketika pada suatu hari menginspeksi pasukan, Sulaiman ‘alaihissalam tidak menemukan burung hud-hud di posisi yang ditentukan baginya, maka:

… فَقَالَ مَالِي لآأَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَآئِبِينَ {20}

” Dia (Sulaiman) berkata:”Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.” (QS. An-Naml: 20)

Maksudnya, mengapa ia tidak berada di tempatnya. Apakah ia tidak terlihat oleh pandanganku?

لأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا … {21}

”Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan keras…” (QS. An-Naml: 21)

Dia mengancam dengan suatu siksaan. Dan, para ahli tafsir mesih berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Maksudnya, hukuman itu benar-benar akan dirasakannya, bagaimanapun adanya.

… أَوْ لأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ {21}

”… Atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” (QS. An-Naml: 21)

Yakni, dengan membawa alasan yang menyelamatkan dirinya dalam kesalahan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ … {22}

” Maka tidak lama kemudian ….” (QS. An-Naml: 22)

Tidak lama berselang, burung hud-hud itu pun datang.

… فَقَالَ … {22}

”….Lalu ia berkata:”….” (QS. An-Naml: 22)

Kepada Sulaiman ‘alaihissalam

… أَحَطتُ بِمَالَمْ تُحِطْ بِهِ … {22}

”…Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya….” (QS. An-Naml: 22)

Maksudnya, aku melihat apa yang belum pernah engkau lihat.

… وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ {22}

”…Aku datang kepadamu dari negeri Saba dengan membawa berita penting yang meyakinkan….” (QS. An-Naml: 22)

Yaitu berita yang benar.

إِنِّي وَجَدتُّ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ {23}

” Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS. An-Naml: 23)

Dia menceritakan tentang kerajaan besar milik raja-raja Saba’ di Yaman. Lalu salah seorang raja memilih salah seorang wanitanya, untuk memegang kekuasaan, hingga akhirnya mereka mengangkat wanita itu sebagai pemimpin rakyatnya. Ratu ini bernama Balqis.

Telah ditegaskan di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:”Setelah disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa penduduk Persia dipimpin oleh seorang putri Kaisar, beliau pun bersabda:

«لَنْ يُفْلِحَ قَومٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرأة»

”Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang wanita.” (HR. Bukhari dan juga at-Tirmidzi (2262) dan an-Nasa’i (VIII?227))

Firman-Nya:

… وَأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَىْءٍ … {23}

”… Dan dia dianugerahi segala sesuatu …” (QS. An-Naml: 23)

Yakni di antaranya diberi kerajaan dan kekuasaan.

…. وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ {23}

”…. Serta mempunyai singgasana yang besar .” (QS. An-Naml: 23)

Yakni, singgasana kerajaannya yang dihiasi dengan berbagai macam permata, mutiara, emas, dan perhiasan yang megah.

Kemudian dia menceritakan kekufuran mereka kepada Allah, Mereka menyembah matahari. Dan syaitan telah menyesatkan mereka serta menghalangi mereka dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tiada ilah selain-Nya, yang mengetahui segala sesuatu yang mereka tampakkan dan sembunyikan, baik yang bersifat material maupun immaterial.

اللهُ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ{26}

” Allah, yang tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai’Arsy yang besar.” (QS. An-Naml: 26)

Maksudnya, Dia mempunyai ‘Arsy yang agung yang tidak ada satu pun makhluk yang lebih besar darinya.

Pada saat itulah, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengirimkan surat kepadanya, mengajak mereka taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta kembali kepada ketundukkan dan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada mereka:

أَلاَّتَعْلُوا عَلَىَّ … {31}

” Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku….” (QS. An-Naml: 31)

Yakni, janganlah kalian enggan mentaatiku dan menolak menjalankan perintahku.

… وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ {31}

”….Dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 31)

Maksudnya, datanglah kalian kepadaku dengan penuh ketaatan dan tanpa permusuhan dan pertikaian.

Surat itu pun segera disampaikan kepada mereka melalui perantaraan burung. Dari sana, orang-orang menjadikan kertas sebagai sarana komunkasi. Kertas itu diantarkan oleh seekor burung yang bisa mendengar, taat, mengerti, dan paham terhadap apa yang dia katakan dan dikatakan kepadanya. Oleh karena itu, banyak ahli tafsir dan juga ahli lainnya yang berpendapat bahwa burung yang mengantar surat tersebut adalah hud-hud. Burung itu menyampaikan surat tersebut kepada ratu Balqis ketika dia tengah sendirian. Lalu ia hinggap di suatu tepian untuk mendengarkan apa yang menjadi jawaban wanita itu atas surat yang yang dikirimkan Sulaiman ‘alaihissalam.

Kemudian ratu mengundang para pembesar kerajaan dan orang-orang penting serta semua bawahannya untuk dimintai pendapat dan pertimbangan.

قَالَتْ يَآأَيُّهَا الْمَلَؤُا إِنِّي أُلْقِيَ إِلَىَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ {29}

”Berkatalah dia (Balqis):”Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.” (QS. An-Naml: 29)

Lalu ia membacakan kepala surat yang berbunyi:

إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ … {30}

” Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman ….” (QS. An-Naml: 30)
… وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {30} أَلاَّتَعْلُوا عَلَىَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ {31}

”….Dan sesungguhnya (isi)nya:”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri…” (QS. An-Naml: 30-31)

Kemudian ratu Balqis mengajak mereka membicarakan masalah tersebut dan meminta pendapat mereka. Dia sampaikan segala hal, sedang mereka mendengarnya dengan penuh keseriusan.

قَالَتْ يَآأَيًّهَا الْمَلَؤُا أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَاكُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونَ {32}

”Berkatalah dia (Balqis):”Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” (QS. An-Naml: 32)

Maksudnya, aku tidak akan menjawab seruan ini kecuali setelah kalian hadir terlebih dulu ke sini.

قَالُوا نَحْنُ أُولُوا قُوَّةٍ وَأُوْلُوا بَأْسٍ شَدِيدٍ … {33}

” Mereka menjawab:”Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan)….” (QS. An-Naml: 33)

Yakni, mereka mengungkapkan, bahwa kami mempunyai kekuatan dan kemampuan serta keberanian bertempur, berperang dan melawan musuh. Jila engkau menginginkan hal itu dari kami, niscaya kami mampu melakukannya. Kata ”wa” berarti, namun demikian.

… وَاْلأَمْرُ إِلَيْكِ فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ {33}

”…. keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” (QS. An-Naml: 33)

Dengan sepenuh hati, mereka menampakkan ketaatan seraya memberitahukan kemampuan mereka untuk hal tersebut. Kemudian, mereka menyerahkan segala sesuatu kepadanya untuk melihat dan menentukan yang lebih baik bagi mereka. Dan, pendapat wanita itu lebih baik dan lebih tajam daripada pendapat mereka. Dia mengetahui bahwa penulis surat tersebut tidak akan melanggar dan berkhianat.

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَآ أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ {34}

”Dia berkata:”Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (QS. An-Naml: 34)

Ratu itu mengungkapkan pendapatnya yang cemerlang bahwa raja ini, jika telah menaklukan kerajaan kita, maka semua urusan kalian akan ia pegang, dan tidak ada ketajaman, kemampuan dan kekuatan yang dahsyat melainkan ada padaku.

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ {35}

” Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (QS. An-Naml: 35)

Dia bermaksud hendak memberikan hadiah kepada Sulaiman ‘alaihissalam, sedang dia tidak mengira jika Sulaiman ‘alaihissalam akan menolak pemberiannya itu. Hal itu dilakukan oleh Sulaiman ‘alaihissalam karena mereka itu orang-orang kafir, sedang ia sendiri dan juga bala tentaranya mampu melakukan hal yang sama. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfriman:

فَلَمَّا جَآءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَآ ءَاتَانِىَ اللهُ خَيْرٌ مِّمَّا ءَاتَاكُم بَلْ أَنتُم بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ {36}

” Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:”Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” (QS. An-Naml: 36)

Para ahli tafsir mengungkapkan bahwa hadiah-hadiah tersebut terdiri dari berbagai hal yang luar biasa. Kemudian, Sulaiman binDawud ‘alaihissalam berkata kepada utusan yang dikirim oleh Balqis, sementara ketika itu orang-orang tengah berkumpul di hadapannya dan mendengarnya:

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُم بِجُنُودٍ لاَّقِبَلَ لَهُم بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُم مِّنْهَآ أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ {37}

”Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (QS. An-Naml: 37)

Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada utusan itu:”Kembalilah kamu dan bawa kembali hadah ini, kaerna aku mempunyai apa yang lebih banyak dan berharga yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku dibandingkan hadiah yang karenanya kalian merasa bersenang-senang dan membanggakan diri atas sesama kalian.”

… فَلَنَأْتِيَنَّهُم بِجُنُودٍ لاَّقِبَلَ لَهُم بِهَا … {37}

”…. Sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, ….” (QS. An-Naml: 37)

Maksudnya, Sulaiman ‘alaihissalam mengatakan:”Aku akan mengutus bala tentara kepada mereka, dan mereka tidak dapat menolak, melawan, atau memeranginya. Dan aku akan mengusir mereka dari negeri mereka sebagai wujud penghinaan terhadap mereka.”
… وَهُمْ صَاغِرُونَ {37}

”… Dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (QS. An-Naml: 37)

Yakni, mereka akan mendapatkan kehinaan, aib dan kebinasaan. Bersambung Insya Allah….

(Sumber: Kisah Shahih Para Nabi. Pustaka Imam Syafi’i hal 423-433 dengan sedikit perubahan. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 4 Oktober 2011/6 Dzulkaidah 1432H

Print Friendly