Bab Dzikir-dzikir Pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Haj: 28).

Menurut Ibnu Abbas, asy-Syafi’i dan jumhur ulama, yaitu sepuluh hari (bulan Dzul-hijjah).

Ketahuilah bahwasanya dianjurkan memperbanyak dzikir pada sepuluh hari ini dibandingkan hari-hari lainnya, dan itu lebih dianjurkan lagi pada hari Arafah dibandingkan sembilan hari lainnya.

Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (Kitab al-Idain, Bab Fadh al-Amal fi Ayyam at-Tasyriq, 2/457, no. 969.), dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

مَاالْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هذِهِ. قَالُوْا: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ.

“Tiada amalan pada hari-hari yang lebih utama daripada (yang dilakukan) di dalamnya.” Mereka bertanya, “Tidak pula jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan membawa dirinya dan hartanya, lalu ia kembali tanpa membawa sesuatu.”
Ini redaksi riwayat al-Bukhari, dan ini shahih.

Dalam riwayat at-Tirmidzi,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ.

“Tiada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini.”

Dalam riwayat Abu Dawud seperti ini juga, hanya saja beliau mengatakan, “Daripada hari-hari ini.” Yakni sepuluh hari (awal Dzulhijjah).

Kami meriwayatkan dalam Musnad Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi dengan sanad Shahihain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَاالْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. قِيْلَ: وَلاَ الْجِهَادُ؟ …

“Tiada amalan pada hari-hari, yang lebih utama daripada amalan yang dilakukan di sepuluh Dzulhijjah.” Ditanyakan, “Tidak pula jihad?…” dan menyebutkan kelanjutan hadits.

Dalam suatu riwayat, “عَشْرِ اْلأَضْحَى (sepuluh Adha).”

Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabishallallahu ‘alaihi wasallam , beliau bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Sebaik-baik doa ialah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku ialah (yang artinya): Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagiNya. Dia memiliki kerajaan dan memiliki pujian, serta Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Takhrij al-hadits:

Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’awat, Bab Du’a` Yaum Arafah, 5/572, no. 5385 dari jalur Hammad bin Abu Humaid, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dengan hadits tersebut secara marfu’.

At-Tirmidzi mengatakan, “Gharib dari aspek ini, dan Hammad tidak kuat menurut ahli hadits.” Tetapi hadits ini memiliki beberapa syahid, di antaranya mursal yang akan disebutkan nanti dan mursal lainnya diriwayatkan al-Ashbahani dalam at-Targhib, no. 2482 dari al-Muththalib bin Abdillah bin Hanthab. Sementara syahid yang marfu’ dari hadits Ali yang diriwayatkan ath-Thabrani dalam ad-Du’a`, no. 874, dan al-Baihaqi 5/117: dari dua jalur yang satu sama lain saling menghasankan. Jadi, hadits ini shahih dengan berbagai syahidnya, dan hadits ini telah dishahihkan oleh al-Albani.
Sanad hadits ini didhaifkan oleh at-Tirmidzi.

Kami meriwayatkan dalam Muwaththa` Imam Malik dengan sanad mursal dan dengan redaksi yang kurang, yang redaksinya sebagai berikut,

أَفْضَلُ الدُّعَاءِ (دُعَاءُ) يَوْمِ عَرَفَةَ، وَأَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ.

“Doa yang paling utama ialah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku ialah: Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagiNya.

Takhrij al-hadits:

Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ 1/422; al-Baihaqi 4/284, 5/117; al-Baghawi, no. 1929: dari Ziyad bin Abi Ziyad, dari Thalhah bin Ubaidillah bin Kariz, dari Nabi a dengan hadits tersebut.
Ini adalah mursal shahih. Disebutkan secara maushul pada riwayat Ibnu Adi 4/1599: dari jalur Abdurrahman bin Yahya al-Madani, Malik menceritakan kepada kami, dari Sumai, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah dengan hadits tersebut secara marfu’. Ibnu Adi mengatakan, “Munkar dari Malik, karena tidak ada yang meriwayatkannya selain Abdurrahman bin Yahya ini, dan Abdurrahman ini tidak dikenal.” Karena itu, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Tidak diperselisihkan dari Malik tentang riwayat mursalnya. Aku tidak hafal dengan sanad ini bisa dijadikan sebagai sandaran dari aspek yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Namun hadits-hadits fadhilah tidak memerlukan apa yang bisa dijadikan sebagai sandaran, apalagi disebutkan secara musnad dari hadits Ali dan Ibnu Amr.” Aku katakan, Sanad-sanad ini telah penulis kemukakan pada catatan kaki terdahulu, dan hadits ini shahih dengan syawahid tersebut.

Telah sampai kepada kami dari Salim bin Abdillah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia melihat seseorang meminta-minta kepada manusia pada hari Arafah, maka ia mengatakan,

يَا عَاجِزُ، فِي هذَا الْيَوْمِ يُسْأَلُ غَيْرُ اللهِ ؟

“Wahai orang yang lemah, apakah pada hari ini ada selain Allah subhanahu wata’ala yang diminta?!” (Abu Nu’aim menyebutkannya dalam al-Hilyah 2/194 yang semisal dengannya)

Al-Bukhari mengatakan dalam Shahihnya (Kitab al-Idain, Bab at-Takbir Ayyam Mina wa Idza Ghada ila Arafah, 2/461 secara mu’allaq)

كَانَ عُمَرُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى، فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُوْنَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ اْلأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيْرًا.

“Umar radhiyallahu ‘anhu bertakbir di kubahnya di Mina, lalu orang-orang di masjid mendengarnya, maka mereka pun bertakbir dan diikuti oleh orang-orang di pasar, sehingga Mina bergema dengan takbir.”

Al-Bukhari (Kitab al-’Idain, Bab Fadhl al-Amal fi Ayyam at-Tasyriq, 2/461 secara mu’allaq.) mengatakan,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُوْ هُرَيْرَةَ p يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوْقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيْرِهِمَا.

“Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada hari kesepuluh (Dzulhijjah) untuk bertakbir, dan orang-orang pun bertakbir karena takbir keduanya.”

Sumber: (dikutip oleh: Abu Nabiel dari buku: “Ensiklopedia Dzikir dan Doa Al-Imam an-Nawawi”, Takhrij, Tahqiq, dan Komentar oleh: Syaikh Amir bin Ali Yasin. Penerbit: Pustaka Sahifa Jakarta.)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,13 Desember 2007/3 Dzulhijjah 1428H

Print Friendly