Hindari Amal Yang Merugikan Diri

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللّهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Kaum Muslimin rahimakumullah,
Ingatlah, pada saatnya nanti, kita akan dihisab berdasarkan amal-amal yang telah kita lakukan selama di dunia ini. Amal yang banyak maupun yang sedikit, amal baik maupun amal buruk; semua pasti akan kita lihat kelak di akhirat. Dalam al-Qur’an surat al Zalzalah/99 ayat 7-8 menyebutkan:

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.

Oleh karena itu, marilah kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan selalu berusaha meningkatkan amal kebaikan. Kita juga selalu waspada terhadap amalan yang paling merugikan, serta menghindari jalan kesesatan. Yaitu dengan menuju ke jalan yang terang benderang. Yakni jalan yang ditempuh para ulil albab dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Inilah jalan hidup hamba-hamba Allah yang memahami hakikat agama secara benar dalam kehidupan mereka.

Orang yang benar akan selalu mencari jalan menuju Allah, berharap pahala di sisi-Nya dan berharap mendapatkan rahmat Allah, sehingga kelak di yaumul akhir (hari akhir) bisa duduk bersanding dengan para wali-Nya dan orang-orang shalih yang menjadi pilihan-Nya.

Mengapa demikian? Kita memahami dan meyakini, bahwa kebahagiaan seseorang hanya dapat diperoleh, jika seseorang mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah. Sehingga ia akan bisa berjalan di atas kebenaran, dan senantiasa mendapat petunjuk untuk menempuh jalan yang benar, sehingga bisa selamat dari perbuatan dosa dan kemaksiatan. Akhirnya ia mampu beribadah kepada Allah dengan landasan bashirah (ilmu), bisa menjalankan agama sesuai yang disyari’atkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Inilah yang bisa menjaga dan menyelamatkan seorang hamba dari golongan orang-orang yang paling merugi amalannya. Dijelaskan dalam firman Allah:

Artinya: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al Kahfi/18: 103-104).

Al Allamah al Imam Ibnu Jarir menjelaskan ayat di atas, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang berbuat suatu amalan dan berharap pahala dari Allah, berusaha untuk taat dan ridha kepada-Nya, namun sebenarnya hanya membuat murka Allah, dan melampaui batas dalam hal keimanan dan agama.

Begitu pula al ‘Allamah Ibnu Katsir mengatakan, demikian itu perumpamaan orang-orang yang gagal hidup di dunia. Mereka telah menipu diri mereka sendiri dengan tidak bersandar pada ‘aqidah yang benar; dan amalan mereka tidak sesuai dengan kenyataannya.

Kaum Muslimin yang berbahagia
Ketahuilah, jika amal kesesatan manusia dihitung, maka tidak bisa dikalkulasi karena sangat banyak dan beragam semacamnya. Yang termasuk kesesatan paling berat kemungkarannya, dan paling berbahaya madharatnya, yaitu melepaskan ketaatan, keluar dari jama’ah kaum Mslimin, tenggelam dalam kesombongan, serta menghalalkan tertumpahnya darah kaum Muslimin tanpa hak di dalamnya. Perbuatan seperti itu, dikarenakan mengadopsi fatwa batil yang berdasarkan kesalahan takwil (penafsiran) dan kerusakan akal yang tidak menyandarkan kepada dalil yang shahih dan pemikiran yang lurus.

Sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini di sebagian negara, yaitu seringnya terjadi aksi kekerasan, yang mengakibatkan tertumpahnya darah kaum Muslimin. Walaupun mereka mengatasnamakan dengan jihad sebagai upaya menegakkan syari’at Islam, ataupun ghirah untuk meninggikan kalimatullah di muka bumi, namun kenyataan yang mengemuka, justru telah menimbulkan madharat dan banyak kerusakan yang luar biasa dari semua sisi.

Seorang mukmin yang takut dengan kehidupan akhirat dan dia berharap rahmat Allah, tentu tidak mungkin menerima dan mendukung aksi seperti ini. Demi Allah, tidak mungkin mereka mendukung untuk selama-lamanya. Lihatlah, mereka menganggap bahwa pembunuhan dan tindakan menakut-nakuti orang lain dianggap cara yang dibenarkan syari’at. Padahal Allah telah berfirman:

Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu ungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Oleh karena itu, bagaimana bisa dibenarkan bila menyebarkan permusuhan dengan sesama muslim atau dengan musta’man (orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan di negeri muslim) dikatakan sebagai jalan menuju keridhaan Allah dan jalan menuju surga-Nya? Siapakah yang bisa mengambil manfaat dari tindakan tak terpuji ini; masyarakat ataukah hanya segelintir manusia yang masuk dalam kelompoknya saja? Apakah Rasulullah dan para sahabat pernah memberikan contoh semacam ini? Apakah ada teladan dari ulama salaf yang pernah melakukannya? Sungguh, tindakan tersebut tak mungkin akan didapati pada diri mereka, karena memang Rasulullah tidak pernah mencontohkan, tidak pula para sahabat maupun kalangan ‘ulama terdahulu. Mereka semua memuliakan darah kaum Muslimin; begitu pula mereka mengharamkan menumpahkan darah kaum musta’man. Maka kesimpulan yang didapatkan dari perbuatan aniaya tersebut, tidak lain mereka hanya menuruti hawa nafsu setan belaka, padahal Allah telah mengingatkan:

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS al Fathir/35: 6)

Begitu pula firman Allah yang lain:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS al Baqarah/2: 208).

Kaum Muslimin yang berbahagia,
Sesungguhnya tindakan semacam itu bisa menghilangkan akal, menyebabkan telinga tuli dan membuat matanya buta. Akalnya akan hilang, karena tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mau memikirkan tempat kembali (yaitu akhirat), dan tidak mau melihat dampak buruk dari perbuatannya. Telinganya tidak bermanfaat, karena tidak mau mendengarkan nasihat, atau bahkan justru berpaling dan menyombongkan diri dari peringatan yang sebetulnya bermanfaat. Matanya juga tidak berguna, karena selalu tertutup untuk melihat penjelasan dan nasihat tentang kebenaran. Dan akhirnya, ia menjadi seorang yang sangat merugi, karena beranggapan perbuatan yang dilakukannya benar, akan tetapi ternyata sebaliknya. Bahkan akibat yang timbul dari perbuatan buruk segelintir manusia tersebut, justru telah merusak citra kaum Muslimin dan mendeskreditkan Islam di hadapan agama-agama lain. Kaum Muslimin diidentikan dengan kekerasan. Jihad disamakan dengan pembunuhan dan kerusakan. Syari’at Islam akan dibayangkan dengan penindasan. Masyarakat pun merasa phobi dan alergi bila mendengar kata Islam, Jihad dan Syari’at Islam.

Tidakkah orang-orang yang telah berbuat kerusakan itu takut akan menjadi oarng-orang yang bangkrut di akhirat? Yaitu membawa banyak pahala ketika di dunia, namun ketika sampai di akhirat semuanya sirna karena berbagai kezhaliman yang dilakukannya di dunia, seperti pembunuhan, membuat cedera, menghancurkan harta benda dan membuat rasa takut di hati manusia.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun dia juga pernah mencela seseorang, menuduh, memakan harta manusia, menumpahkan darah dan menganiaya. Maka orang-orang yang pernah dizhalimi tersebut diberi pahala-pahala dia; jika telah habis pahalanya sebelum semua kezhaliman terbayarkan, maka akan diambilkan dosa dari orang yang pernah dizhalimi, kemudian diberikan kepada dirinya; akhirnya dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

[Khutbah Kedua]

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيّ الصّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ اْلأنَبِْيَاءِ وَاْلمُرْسَلْيْنَ، اَلّلهُمّ صَلّ عَلى مُحَمّد وَعَلى آلِ مُحَمّد كَمَا صَلّيْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ:

Kaum Muslimin yang berbahagia,
Kami mengajak, marilah kita kembali ke agama Islam yang benar. Yaitu cara beragama yang pernah dicontohkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam semua aspek kehidupan; baik dalam masalah ‘aqidah, ibadah, adab, mu’amalah atau lainnya. Begitu pula dalam masalah jihad, penerapan syari’at Islam dan mu’amalah dengan para ulil amri. Kita harus mempelajari sedalam-dalamnya, sebelum melangkah lebih lanjut, mengenai bagaimana sikap dan pendapat mereka dalam penerapannya.

Oleh karena itu, siapapun pelakunya yang pernah berbuat dengan perbuatan di atas, maka harus segera menyadari kekeliruannya dan bertaubat di hadapan Allah, sebelum nyawa sampai ke kerongkongan atau matahari terbit dari barat. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang pernah berbuat zhalim pada saudaranya, hendaklah segera meminta kehalalan (maaf) karena di sana (di akhirat) tidak berlaku dirham dan dinar, sebelum diambil kebaikannya untuk diberikan kepada saudaranya (yang dizhalimi). Apabila dia tidak memiliki amal kebaikan, maka akan diambilkan dari dosa saudaranya (yang dizhalimi), kemudian dialihkan untuk dirinya.” (HR. Muslim)

Kita juga harus menolong saudara-saudara kita yang telah berbuat zhalim, sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan supaya kita mau menolong orang yang berbuat zhalim dan orang yang dizhalimi.

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau yang terzhalimi,” maka salah seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, saya bisa menolong orang yang terzhalimi. Lalu bagaimana pendapatmu jika ia yang berbuat zhalim? Bagaimanakah aku menolongnya?” Jawab beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau mencegahnya dari berbuat zhalim; maka itulah cara menolongnya”. (HR. Bukhari)

Akhirnya, marilah kita sadari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Kita perbanyak istighfar, dan kita bertaubat kepada Allah; Dialah Ghafurur-Rahim. Wallahu a’lam bishawab, mudah-mudahan yang sedikit ini bisa bermanfaat.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

(Diangkat dengan perubahan seperlunya oleh Ustadz Agus Abu Ziyad, dari khutbah Jum’at Syaihk Usamah Khayath di Masjidil Haram, tanggal 27 Syawwal 1425 H)

Majalah Assunnah, Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007M

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 8 Mei 2007/20 Rabiul Akhir 1428H

Print Friendly