Iman Kepada Allah Swt

Iman kepada Allah adalah dasar bagi rukun iman yang lain.
Iman kepada Allah mencakup empat perkara:

1. Iman kepada wujudNya
Yaitu meyakini bahwa Allah itu ada. Keyakinan ini telah Allah fitrahkan manusia di atasnya, maka semua meyakini wujud Allah dengan fitrahNya.

أ£أ³أ‡ أ£أ¶أ¤أ؛ أ£أ³أ¦أ؛أ،أµأ¦أ؛أڈأ² أ…أ¶أ،أ‡أ¸أ³ أ­أµأ¦أ؛أ،أ³أڈأµ أڑأ³أ،أ¬أ³ أ‡أ،أ‌أ¶أکأ؛أ‘أ³أ‰أ¶آ، أ‌أ³أƒأ³أˆأ³أ¦أ³أ‡أ¥أµ أ­أµأ¥أ³أ¦أ¸أ¶أڈأ³أ‡أ¤أ¶أ¥أ¶ أƒأ³أ¦أ؛ أ­أµأ¤أ³أ•أ¸أ¶أ‘أ³أ‡أ¤أ¶أ¥أ¶ أƒأ³أ¦أ؛ أ­أµأ£أ³أŒأ¸أ¶أ“أ³أ‡أ¤أ¶أ¥أ¶ .

œSemua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang meyahudikan, mengkristenkan atau yang memajusikannya.”‌ (HR. Al-Bukhari).

Wujud Allah juga ditetapkan oleh akal, karena sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, mustahil ia ada dengan sendirinya atau ia menciptakan dirinya. Firman Allah,
“œApakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”‌(Ath-Thur: 35).

Dari segi syara”™, semua kitab samawi hadir dan ia menetapkan wujud Allah, khususnya al-Qur`an yang hadir dengan hukum-hukum yang bijaksana dan syariat yang luhur di mana barangsiapa membacanya niscaya dia meyakini bahwa ia hadir dari sisi Tuhan yang Mahaagung dan bijaksana.
Dari sisi inderawi kita bisa melihat terkabulnya dua orang-orang yang berada dalam kesulitan, jika Tuhan tidak ada lalu siapa yang mengabulkan doa tersebut? Firman Allah,
“œAtau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”‌(An-Naml: 62).

2. Iman kepada RububiyahNya
Yakni mengimani bahwa Dia-lah Rabb bagi alam semesta tiada sekutu bagiNya. Rabb adalah yang berhak mencipta, mengatur, memiliki dan memerintah. Firman Allah,
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.”‌(Al-A”™raf: 54).

“œYang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaanNya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”‌ (Fathir: 13).

Rububiyah Allah ini diakui bahkan oleh orang-orang musyrik. Firman Allah,
“œDan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “کSiapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “کAllah.”™ Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?”‌ (Az-Zukhruf: 87).

“œDan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, “کSiapakah yang menciptakan langit dan bumi?”™, niscaya mereka akan menjawab, “کSemuanya diciptakan oleh yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Az-Zukhruf: 9).

Yang terkenal mengingkari rububiyah Allah adalah Fir”™aun, itu pun karena kesombongan dirinya dan dia tidak meyakini kebenaran ucapannya, firman Allah,
“œDan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”‌ (An-Naml: 14).

3. Iman kepada UluhiyahNya
Yakni mengimani bahwa Dia-lah satu-satunya yang wajib disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Firman Allah,
“œDan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”‌ (Al-Baqarah: 163).

“œAllah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”‌ (Ali Imran: 18).

Penisbatan uluhiyah kepada sembahan-sembahan selain Allah adalah batil atau ia disebut sebagai ilah (yang disembah) dari segi penyembahnya walaupun ia tidak berhak untuk disembah. Allah berfirman tentang Latta, Uzza dan Manat yang disembah tetapi ia tidak memiliki uluhiyah.
“œItu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya.”‌ (An-Najm: 23).

Penyimpangan terjadi di sisi ini di mana Allah dipersekutukan dengan selainNya yang tidak pantas dijadikan sekutu bagi Allah, oleh karena itu Allah mengutus rasul-rasul yang menyeru manusia kepada penyembahan kepada Allah semata dengan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu. Firman Allah,
“Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripadaNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya).”‌ (Al-Mukminun: 32).

Dan secara khusus Allah telah memerintahkan manusia agar menyembahNya. Firman Allah,
“œHai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”‌ (Al-Baqarah: 21).

4. Iman kepada Asma dan Sifat Allah
Yakni meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang wajib ditetapkan sesuai dengan apa yang tertera di dalam al-Qur`an dan hadits tanpa menyelewengkan, mengingkari, menyerupakan dan membagaimanakan.

Yang dimaksud “کmenyelewengkan”™ adalah membelokkan asma dan sifat dengan memberinya makna yang tidak sesuai dengan zhahir lafazhnya.
Yang dimaksud dengan “کmengingkari”™ adalah tidak menetapkan sebagian atau seluruh asma dan sifat Allah.
Yang dimaksud dengan “کmenyerupakan”™ adalah menyerupakan asma dan sifat Allah dengan apa yang dimiliki makhluk.
Dan yang dimaksud dengan “کmembagaimanakan”™ adalah bertanya bagaimanakah asma dan sifat Allah.

Allah telah menetapkan asma dan sifat untuk diriNya dan apa yang Allah tetapkan tidak mengandung penyerupaan. Firman Allah,
“œHanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”‌ (Al-A”™raf: 180).

“œDan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi, dan Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”‌ (An-Nahl: 60).

“œTidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”‌ (Asy-Syura: 11).

Buah Iman kepada Allah
1. Merealisasikan pengesaan Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selainNya.
2. Menyempurnakan kecintaan kepada Allah, serta mengagungkanNya sesuai dengan nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang Mahatinggi.
3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarangNya.

(Rujukan: Syarah Ushulil Iman Ibnu Utsaimin, Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah Ibnu Utsaimin).


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 9 Oktober 2007/27 Ramadhan 1428H

Print Friendly