Mahdiyah (2)

Para Tokoh

Abdullah at-Ta’ayusyi, lahir di Darfur, dia datang kepada al-Mahdi saat dia membangun kubah di atas kubur syaikhnya lalu membaiatnya, dialah yang mendukung al-Mahdi untuk mengklaim bahwa dia adalah Mahdi yang dinanti-nantikan. Abdullah berhasil meraih kedudukan tertinggi dalam kehidupan al-Mahdi, karena dia adalah pemegang kendali pelaksana, penataan dan kendali.

Setelah al-Mahdi wafat, Abdullah ini menjadi penerusnya berdasarkan wasiat dari al-Mahdi sendiri, di mana dia berkata, “Dia adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya.”

Manakala Abdullah menerima tampuk khilafah, dia menyerahkannya kepada saudaranya Amir Ya’qub dan dia sendiri memilih berkonsetrasi kepada dakwah.

Abdullah menulis surat kepada Sultan Abdul Hamid dan berambisi menyebarkan pengaru Mahdiyah ke Nejed, Hejaz dan bagian barat Sudan.

Abdurrahman an-Nujumi, seorang panglima militer, dia mempin pasukan Mahdiyah dalam jumlah besar pada 3 Mei 1889 M bergerak ke utara untuk melawan pasukan Mesir, namun dia kembali pulang tanpa membukukan apa pun.

Penyair sufi al-Husain az-Zahra, salah seorang tokoh Mahdiyah, wafat tahun 1895 M, dia berusaha mengaitkan filsafat Ibnu Sina dengan akidah Mahdiyah.

Anak-anak al-Mahdi

Abdurrahman bin Muhammad Ahmad al-Mahdi, lahir tahun 1885 M dan wafat tahun 1956 M, lahir di Umm Darman, terdidik secara agamis, saat dia menjadi seorang pemuda, dia berusaha untuk membangun sisa-sisa al-Mahdiyah yang berserakan dan pada tahun 1914 M, dia menjadi tokoh rohani bagi para pendukung.

Di tahun 1919 M, pemerintah Sudan mengutusnya untuk memberikan ucapan selamat kepada Raja Inggris dengan membawa pedang bapaknya sebagai hadiah. Raja mencium pedang tersebut dan mengembalikannya kepada Abdurrahman. Raja memintanya untuk menjaganya sebagai wakil dari raja dan membela kerajaan. Hal ini merupakan pengakuan dari kerajaan terhadap kepemimpinan Abdurrahman terhadap al-Mahdiyah yang baru. Abdurrahman ini mendirikan sebuah partai yang bernama Hizbul Ummah di zaman penjajahan Inggris di Sudan.

Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Sabtu,31 Juli 2010/19 Sya’ban 1431H

Print Friendly