Untuk Para Gadis (2)

Benar, selamat bersiap-siap untuk menjadi istri kemudian ibu. Persiapan pertama dan mendasar adalah persiapan diri. Saya yakin bahwa kamu mendambakan sebuah mahligai pernikahan dan sebuah bangunan rumah tangga yang kokoh dan bahagia, penuh cinta kasih dan kedamaian, tetapi saya belum yakin dirimu mengetahui formula dan landasan dari apa yang kamu idam-idamkan itu. Sebagian dari gadis-gadis sepertimu melihat bahwa kebahagiaan mahligai pernikahan hanya bertumpu di atas melimpahnya materi, kalau suami banyak duit, dari kalangan hartawan. Saya tidak memungkiri hal itu, duit atau fulus memang bisa membuat orang bahagia, namun kamu pun juga mesti mengetahui bahwa tidak semua hartawan hidup bahagia, tidak selamanya uang itu membahagiakan, sebaliknya tidak sedikit orang yang berbahagia sekalipun uangnya terbatas. Hidup memang perlu uang tetapi kalau ia satu-satunya kunci kebahagiaan maka tidak lha ya.

Pijakan kebahagiaan sejati adalah keshalihan, orang yang shalih adalah orang yang berbahagia, tentu kebahagiaannya tidak mungkin dirasakan kecuali oleh dirinya atau oleh orang sepertinya, orang lain yang bukan sepertinya tidak akan merasakannya.

وَلَسْتُ أَرَى السَعَادَةَ جَمْعَ مَا لٍ وَلَكِنَّ التَقِيَّ هُوَ السَعِيْدُ

Saya tidak melihat kebahagiaan pada mengumpulkan harta
Akan tetapi orang yang bertakwalah orang yang berbahagia.

Inilah kebahagiaan hakiki dan ketenangan sejati, memelihara dan menjaganya lebih mudah daripada memelihara dan menjaga harta, kalau harta bisa lenyap dan bisa hilang, maka kebahagiaan ikut lenyap dan hilang, itu kalau bahagia diukur dengan harta, namun keshalihan seseorang akan terus bersamanya tidak akan lenyap, sebab salah satu bukti dari keshalihan adalah menjaga keshalihan itu sendiri, sehingga selama ia ada selama itu kebahagiaan pun tetap ada.

Sekarang kembali kepada dirimu, sudahkah kamu mempersiapkan yang satu ini dan berusaha untuk meraihnya? Kalau belum buruan, nanti ketinggalan dan kalau sudah ketinggalan susah menyusulnya, karena merubah diri itu susah sekali. Seandainya Anda sudah menjadi gadis baik, gadis shalihah sejak muda maka tinggal mempertahankannya, sebaliknya kalau kamu sudah kadung nakal dan bengal maka sulit merubahnya, banyak tantangan untuk menuju ke arah perubahan kepada kebaikan, itu yang sulit.

Barangkali kamu belum tahu keutamaan anak muda yang tumbuh dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, jika belum maka saya beritahu bahwa Rasulullah saw memasukkan anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah ke dalam tujuh kelompok manusia yang diberi lindungan oleh Allah di hari di mana saat itu hanya ada perlindunganNya.

سَبْعَةً يُظِلُّهُمُ الله فيِ ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظِلُّهُ….وَشَا بً نَشَأَ فيِ عِبَادَةِ الله

Tujuh golongan yang mendapatkan perlindungan dari Allah di hari di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindunganNya….Dan anak muda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.” Muttafaq alaihi dari Abu Hurairah.

Saya berharap kamu sudah menjadi gadis yang shalihah, tapi tunggu dulu. Keshalihan seseorang itu ada tandanya, ada buktinya. Kalau kamu sebagai gadis, maka keshalihanmu ditandai dengan ketaatanmu kepada Allah dan rasulNya, sejauh mana nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam terpancar dalam keseharianmu, jilbab syar’i yang merupakan identitas muslimah dewasa harus terlihat pada dirimu, perilaku keseharian harus terukur dengan timbangan syariat. Garis besarnya, perintah agama dilaksanakan dan larangannya dijauhi.

Termasuk pendukung menjadi shalih adalah ilmu agama yang lurus dan benar, dengannya kamu mengetahui agamamu dan selanjutnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, tanpanya sulit seseorang menjadi shalih. Sekarang, adakah minat dan semangat Anda ke arah ini sebagai bekal diri menjadi istri yang shalihah atau ibu yang shalihah? Saya berharap ada. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,12 Maret 2010/26 Rabiul Awal 1431H

Print Friendly