Gugurnya Keimanan

Kita mempercayai bahwa keimanan itu gugur karena murtad sebagaimana gugurnya wudhu karena hadats, bahwa kemurtadan bisa terjadi karena meninggalkan Islam secara keseluruhan lalu pindah kepada agama lain atau karena ilhad (pengingkaran) total, bisa juga karena tidak mengakui sesuatu yang telah diturunkan Allah -setelah mengetahuinya- dengan maksud mendustakan atau menolak, dan bahwa mati dalam keadaan murtad akan menghapus semua amalnya.

Keimanan juga bisa gugur karena mempersekutukan Allah dalam beribadah, di antaranya ialah berdoa kepada yang telah mati, memohon pertolongan kepada mereka, bernadzar dan menyembelih kurban untuk mereka. Barangsiapa yang menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah sehingga berdoa kepada perantara itu dan memohon syafa’at kepada mereka serta bertawakkal kepada mereka, maka menurut ijma’ orang yang demikian adalah kafir. Begitu juga orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, berarti telah kafir pula. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa petunjuk yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau, atau menganggap bahwa hukum yang selain dari beliau lebih baik daripada hukum beliau, yakni seperti halnya orang-orang yang lebih mengutamakan hukum-hukum thaghut, berarti telah kafir. Demikian juga orang yang membenci sesuatu dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau balasan pahalanya atau siksanya, berarti telah kafir pula. Hal-hal lain yang bisa menjadikan seseorang kafir adalah melakukan sihir, yang di antaranya adalah membuat seseorang menyukai atau membenci seseorang, barangsiapa yang melakukannya atau rela dengan sihir berarti ia kafir. Juga orang yang membantu dan menolong orang-orang musyrik dalam memusuhi kaum muslimin berarti ia kafir juga. Dan demikian juga orang yang meyakini bahwa sebagian manusia bisa keluar dari syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berari ia kafir. Barangsiapa yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya, berarti ia kafir juga. Hal-hal yang menggugurkan keimanan ini tidak ada perbedaan antara yang main-main, yang sungguh-sungguh atau yang takut, kecuali yang dipaksa.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34). Ketika iblis enggan mentaati perintah Allah, saat itulah keimanannya gugur yang selama ini telah ada pada dirinya, dan karena itu ia mendapat laknat dan adzab yang kekal.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ [النحل/106]
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (An-Nahl: 106). Maka barangsiapa yang kafir tanpa paksaan, berarti telah gugur keimanannya dan ia berhak mendapat kemurkaan Allah dan adzab-Nya yang kekal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kemurtadan mengharuskan dibunuh, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengganti agamanya (Islamnya) maka bunuhlah ia.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: Jiwa dengan jiwa, orang tua yang berzina dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah.” (Muttafaq ‘Alaih). Barangsiapa yang menjadi kafir setelah beriman, dan ia terus menerus begitu maka hilanglah keterpeliharaannya dan sirnalah dunia dan akhiratnya.

Allah menjelaskan bahwa mati dalam keadaan murtad akan menghapuskan seluruh amal, Allah berfirman,

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217).

Dalam ayat lain disebutkan,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat.” (Ali Imran: 90).

Barangsiapa yang kafir setelah beriman dan terus menerus dalam kekafiran hingga mati, maka tidak akan diterima taubatnya ketika kematian datang menjemputnya.

Dalil gugurnya keislaman karena syirik adalah firman Allah Subhaanahu Wata’ala,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا [النساء/48]
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48) dan firman-Nya,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (Al-Maidah: 72)

Di antara dalil-dalil yang menyatakan bahwa menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah dalam hal-hal yang tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah merupakan hal yang menggugurkan keislaman, adalah firman Allah Subhaanahu Wata’ala :
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ [الأحقاف/5]
وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ [الأحقاف/6]
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf: 5-6).

Hal lain yang menggugurkan keislaman adalah berkeyakinan bahwa petunjuk yang selain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah lebih sempurna daripada petunjuk beliau dan bahwa hukum yang selain dari beliau lebih baik daripada hukum beliau. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50).

Dalam ayat lain disebutkan,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء/65]
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65).

Barangsiapa membenci sesuatu di antara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dia mengamalkannya maka ia telah kafir, Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9).

Termasuk yang menggugurkan keislaman adalah mengolok-olok sesuatu dari ajaran Rasulullah atau pahalanya atau siksaannya. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66).

Dalil yang menunjukkan bahwa sihir menggugurkan keislaman adalah firman Allah Subhaanahu Wata’ala,
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ [البقرة/102]
“Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.” (Al-Baqarah: 102).

Termasuk hal yang menggugurkan keislaman adalah bekerjasama dan membantu orang-orang musyrik dalam memusuhi orang-orang muslim, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maidah: 51).

Berkeyakinan bahwa sebagian manusia bisa keluar dari syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suatu kekufuran, hal ini berdasarkan firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).

Barangsiapa yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya, berarti ia telah kafir, hal ini berdasarkan firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22).

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 9 Juni 2009/15 Jumadil Akhir 1430H

Print Friendly