Jamaah Anshar Sunnah (2)

Pasca wafatnya Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi, jamaah dipimpin oleh beberapa ulama besar seperti,

Syaikh Abdurrazzaq Afifi

Syaikh adalah alumni al-Azhar, gelar Magister bidang Fikih digondolnya dari Universitas al-Azhar, selanjutnya adalah gelar Doktoralnya dari universitas yang sama. Syaikh bekerja sebagai mudarris di Ma’ahid al-Ilmiyah milik al-Azhar.

Syaikh Abdurrazzaq termasuk dalam deretan penulis kelas wahid di majalah Jamaah, al-Hadyu an-Nabawi dan anggota ulama-ulama besar Jamaah bersama Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Abdul Halim ar-Ramali dan Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi. Dan di Shafar 1365 H – Pebruari tahun 1946 M Syaikh terplih sebagai Wakil Ketua Jamaah.

Mufti kerajaan Saudi Arabiah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim secara khusus meminta Syaikh Abdurrazzaq untuk datang ke Saudi Arabiah, maka Syaikh datang bersama rekannya Syaikh Khalil Harras. Di Arab Saudi Syaikh mengajar di Darut Tauhid Thaif kemudian di tahun 1370 H Syaikh dimutasi ke Ma’ahid al-Ilmiyah dan Fakultas Syari’ah di Universitas Imam Muhammad bin Suud Riyadh.

Pada 24 Shafar 1379 H – 29 Agustus 1959 M Syaikh terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum Jamaah untuk meneruskan Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi.

Di tahun 1380 H Syaikh kembali datang ke Saudi Arabiah untuk mengajar, karirnya menanjak sampai Syaikh menjadi Direktur Ma’had ‘Ali lil Qadha` tahun 1385 H. Syaikh juga berpartisipasi dalam panitia peletak kurikulum pendidikan di Saudi Arabiah. Di tahun 1391 H Syaikh dipindahkan ke Idarah al-Ammah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta` wad Da’wah wal Irsyad sekaligus sebagai wakil direkturnya plus keanggotaan di Hai`ah Kibar al-Ulama di Kerajaan Saudi Arabiah sampai wafat pada 25 Rabi’ul Awwal 1415 H – 1 Agustus 1994 M.

Selama di Saudi Arabiah Syaikh Abdurrazzaq mencetak ulama-ulama besar negeri minyak ini, sebut saja Syaikh Abdullah bin Jibrin, Syaikh Shalih al-Luhaidan, Syaikh Abdullah bin Hasan bin Qu’ud, Syaikh Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syaikh Abdullah bin Ghudyan, Syaikh Shalih as-Sadlan, Syaikh Shalih al-Fauzan, Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, Syaikh Manna’ al-Qatthan dan lain-lainnya.

Syaikh Abdurrahman al-Wakil

Syaikh mengawali pendidikannya di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar dan berhasil menyelesaikannya, namun Syaikh tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan kesehatan sekalipun Syaikh mempunyai wawasan ilmu yang luas, bahasa yang kuat dan kemahiran dalam bertutur kata.

Syaikh bergabung dengan Jamaah tahun 1936 M dengan rekomendari khusus dari Sayyidah Ni’mah Shidqi penulis kitab at-Tabarruj, setelah itu Syaikh aktif dalam kegiatan-kegiatan Jamaah sehingga menjadi wakil pertama bagi Jamaah yang diiringi dengan kedekatan kepada Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi pendiri Jamaah.

Para pembaca majalah al-Hadyu an-Nabawi mengenalnya sebagai penulis yang ahli meyakinkan lawan bicaranya dan membuat lawan dialognya diam mati kutu dari kalangan orang-orang tarekat sufi dan aliran-aliran sesat lainnya, hal itu melalu rubrik yang diasuhnya secara berkala dengan judul Thawaghit, dari sini maka para pembaca menjulukinya dengan Hadim ath-Thawaghit alias sang penghancur thaghut.

Karena rubriknya inilah Syaikh dilaporkan oleh para pendengkinya kepada pihak yang berwajib sehingga Syaikh terpaksa menjalani pemeriksaan karena itu. Syaikh menulis buku yang berisi bantahan terhadap orang-orang sufi yang dicetak dengan judul Hadzihi Hiya ash-Shufiyah dan diterjemahkan ke Indonesia.

Pada waktu Syaikh Abdurrazzaq Afifi dipilih sebagai ketua umum Jamaah, Syaikh Abdurrahman terpilih sebagai wakilnya. Dan setelah Syaikh Abdurrazzaq hijrah ke Saudi Arabiah, Syaikh Abdurrahman terpilih sebagai penerusnya pada 15 Muharram 1380 H – 9 Juli 1960 M, sedangkan wakilnya dijabat oleh Dr. Khalil Harras.

Pada tahun 1969 M pemerintah Mesir melebur Jamaah Anshar Sunnah ke dalam Jam’iyah syar’iyah untuk membekukan aktifitasnya, dengan itu peredaran majalah al-Hadyu an-Nabawi di mana pemimpin redaksinya adalah Syaik Abdurrahman terhenti. Pada masa itu Syaikh berangkat ke Makkah untuk mengajar di Fakultas Syari’ah sampai Syaikh menjadi Guru Besar Akidah di bagian Pasca Sarjana dan hal itu sampai beliau wafat di 22 Jumadil Awal 1390.

Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu, 3 Pebruari 2010/18 Safar 1431H

Print Friendly