Nasihat, Untuk Siapa?

Diriwayatkan dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daari radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Agama adalah nasihat.” Maka kami pun bertanya,” Untuk siapakah (nasihat itu)?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan keseluruhan mereka (kaum muslimin).” (HR. Muslim)
Perawi hadits di atas adalah Tamim bin Aus bin Kharijah ad-Daariradiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia yang berasal dari Bait Lahmi (Betlehem) Palestina. Dia seorang yang diutus untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, dan kembali tinggal di Baitul Maqdis setelah peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan radiyallahu ‘anhu, hingga wafatnya pada tahun 40 hijriyah.
Dia termasuk shahabat yang sedikit meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam kutubus sittah (kitab hadits yang enam) beliau hanya meriwayatkan sembilan hadits. Dan dalam Kitab Shahihain beliau tidak meriwayatkan hadits, kecuali hanya hadits ini saja.
Beberapa faidah hadits yang bisa diambil:

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa agama itu seluruhanya adalah nasihat.
Hal ini karena pentingnya nasihat, dan karena kandungannya yang mencakup seluruh ajaran agama. Nasehat secara bahasa artinya murni atau tulus ikhlas. Al Khaththabi berkata, “an-Nasihah merupakan ungkapan kata yang bisa dianggap sebagai jumlah (kalimat), yakni menghendaki kebaikan bagi orang yang diberikan nasihat.”

2. Nasihat kepada Allah subhanahu wata’ala mencakup Hal-hal berikut:

  • Beriman kepada-Nya, memegang keyakinan yang shahih dan ketauhidan-Nya, bahwa Dia itu Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, sempurna dalam sifat-Nya tidak ada tandingan bagi-Nya serta mengimani Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya.

  • Menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya

  • Mengikhlaskan niat dalam beribadah kepada-Nya, tidak menyekutukannya dengan yang lain dalam menyembah-Nya. Ini sebagai realisasi dari firman-Nya, artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalan kan) agama dengan lurus.” (QS. al-Bayyinah :5)
    Dan juga Firman-Nya dalam hadits qudsi, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan sekutu nya.” (HR. Muslim)

  • Menujukan segala macam bentuk ibadah hanya kepda-Nya saja, berupa tawakal, berserah diri, berharap, takut, khauf, bersumpah dan lain-lain. Syaikh Muhammad at-Tamimi berkata, “Barangsiapa yang memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah subhanahu wata’ala, maka ia telah musyrik dan kafir.”

  • Berdakwah kepada agama Allah subhanahu wata’ala dan bersabar menghadapi gangguan dalam berdakwah.

3. Nasihat kepada Kitabullah mencakup Hal-hal Berikut:

  • Beriman bahwasanya ia adalah kalamullah (firman Allah subhanahu wata’ala), bukan makhluq, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui malaikat Jibril al-Amin. Ia adalah kalamullah, baik huruf dan maknanya, berisikan hukum-hukum yang adil dan kebenaran dalam berita. Allah subhanahu wata’alaberfirman, artinya, “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.” (QS. al-An’aam: 115)

  • Menjaga dan perhatian terhadap nya, baik dalam hal bacaan, hafalan, memahami, mentadaburi dan mengamalkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat perhatian terhadap al-Qur’an, demikian pula dengan para Shahabat dan Salafus Shalih pun demikian besar perhatian mereka terhadapnya.

  • Memberikan bantuan dan dukungan kepada para penghafal al-Qur’an, walaupun hal ini tak pernah disinggung oleh para ahli ilmu, namun kalau kita merenungkan maka memberikan perhatian dan motivasi terhadap para penghafal al-Qur’an agar mereka sungguh-sungguh dan bersemangat dalam menghafal adalah termasuk nasihat kepada Kitabullah.

4. Nasihat kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam mencakup Hal-hal berikut:

  • Beriman kepadanya bahwasanya beliau adalah utusan Allah Rabbul ‘alamin, merupakan penutup para nabi dan seorang yang jujur dan terpercaya.

  • Menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau sampaikan, menjauhi apa yang beliau larang dan peringatkan darinya. Dan juga tidak beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali dengan apa yang beliau syri’atkan. Disebutkan dalam shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Siapa yang taat kepadaku, maka akan masuk surga dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia enggan (masuk surga).”

  • Mendahulukan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak dan keluarga. Disebutkan dalam ash-Shahihain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ada tiga perkara yang jika ia ada pada seseorang, maka akan merasakan manisnya iman; (salah satunya) Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.” (Muttafaq ‘alaih)
    Suatu ketika Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasululah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak wahai Umar, hingga aku lebih kau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu lalu berkata, “Sekarang engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu, bahkan diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, “Sekarang wahai Umar (telah sempurna imanmu).” (HR. al-Bukhari)
    Namun kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan berarti ekstrim (ghuluw) terhadap beliau, dan menempatkan beliau di atas posisi yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala, atau menyifati beliau dengan sifat yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah subhanahu wata’ala. Ini semua termasuk ghuluw yang dilarang, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Jangan lah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang Nashara berlebihan terhadap al-Masih bin Maryam, aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakan, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari)

  • Membela beliau, membela sunnah dan agama beliau, dan ini merupakan kesempurnaan dalam nasihat kepada beliau. Maka barangsiapa yang mencela atau menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia telah kafir. Siapa yang menghujat ajaran agama yang beliau bawa maka ia telah kafir.

5. Nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin mencakup Hal-hal berikut:

  • Menasehati mereka dengan cara menjelaskan yang haq kepada mereka, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

  • Manaati mereka dalam hal-hal yang bukan merupakan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, menutupi aib mereka dan kekurangan mereka, mendukung mereka dan membela mereka, juga mendo’akan mereka.
    Menaati imam kaum muslimin adalah wajib, dan ia termasuk dalam rangka taat kepada Allah subhanahu wata’ala dan kepada Rasul-Nya, selagi para pemimpin itu tidak memerintahkan kemaksiatan. Apabila mereka memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda, “Tidak boleh taat kepada makhluq dalam hal maksiat kepada al-Khaliq.”
    Diriwayatkan bahwasanya salah seorang Salaf berkata, “Andaikan saja aku mengetahui bahwa aku mempunyai do’a yang mustajabah (dikabulkan), maka aku tujukan do’a itu untuk shulthan (penguasa).”

  • Menghindarkan diri dari menyebarkan aib para pemimpin dan perbuatan maksiat yang mereka lakukan kepada khalayak ramai (di depan umum). Karena hal ini akan menimbulkan fitnah, dan menjadi sebab orang-orang keluar dari ketaatan kepada para pemimpin, menyebabkan orang mencela dan menggunjing (melakukan ghibah) terhadap mereka. Disebutkan bahwa sanya Ibnu Umar dan para shahabat yang lain ikut sholat di belakang al-Hajjaj bin Yusuf, padahal al-Hajjaj ini banyak melakukan kemaksiatan dan perbuatan keji. Menyebarkan aib pemimpin kaum muslimin di hadapan orang banyak (khalayak ramai), di atas mimbar, dalam kajian-kajian umum adalah merupakan cela dalam agama dan bentuk kebodohan.

6. Nasehat kepada Seluruh Kaum Muslimin.

Nasehat kepada seluruh kaum muslimin merupakan salah satu hak seorang muslim atas muslim yang selainnya, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Hak muslim terhadap muslim yang lain ada enam: Beliau menyebutkan salah satunya adalah, “Apabila dia memita nasihat kepadamu, maka berilah ia nasihat.”
Apabila ada saudara anda yang meminta nasihat ketika ingin membeli sesuatu, ketika ingin menikah atau ingin membuka usaha perdagangan, maka berilah dia nasihat, sebagaimana jika hal tersebut terjadi pada diri anda (berikan pandangan terbaik untuk dirinya sebagaimana anda juga ingin yang terbaik, pen).
Jarir bin Abdullah al-Bajali berkata, “Aku berbaiat kepada Rasulullah untuk senantiasa melakukan shalat, membayar zakat dan menasehati kepada setiap muslim.” (Muttafaqun ‘alaih)
Termasuk nasihat untuk seluruh kaum muslimin adalah seseorang mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan membenci sesuatu yang ia benci jika terjadi atau menimpa pada dirinya. Berdasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dialihbahasakan dari kitab “Ad-Durar as-Saniyah bifawaaid al-Arba’in an-Nawawiyah” DR. Bandar bi Nafi’ bin Barkat al-Abdali, hadits ke 7 halaman 36-40. (Ibnu Djawari al-Barjani)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 8 Januari 2008/29 Dzulhijjah 1428H

Print Friendly