Pertolongan Allah Ta’ala Pada Perang Badr

Di bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Allah ‘Azza wa Jalla menolong kaum muslimin, dan itu menunjukan berkahnya bulan ini. Di antara kisah-kisah tersebut adalah kisah perang badr. Berikut ini penjelasan Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah berkaitan dengan perang Badr, selamat menyimak.

Pertolongan Allah kepada kaum muslimin di perang Badr

Yang merupakan berkah dari Allah di bulan Ramadhan adalah kemenangan kaum muslimin di perang badr,dan kemenangan kaum muslimin di badr adalah kemenangan bagi kita dan bagi seluruh kaum muslimin yang beriman kepada Allah. Dan kemenangan kaum muslimin di waktu kapanpun dan di manapun itu adalah kemenangan anda semua di negeri anda dan rumah anda wahai orang-orang yang beriman.

KISAH PERANG BADR:

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar beliau mengetahui bahwa Abu Sufyan datang dari Syam dengan membawa barang dagangan orang Quraisy. Beliau memotivasi para Shahabatnya untuk menghadang rombongan Abu Sufyan dan barang dagangan mereka. Maka keluarlah para sahabat yang jumlah mereka lebih dari 313, mereka hanya membawa 70 onta dan 2 ekor kuda. Ketika Abu Sufyan mengetahui bahwa Rasulullah dan para sahabat keluar untuk menghadang mereka, dia meminta pertolongan ke mekah dan meminta perlindungan kepada mereka atas barang dagangan mereka. Dan Abu Sufyan mengambil jalan pantai dan akhirnya selamat dari hadangan kaum muslimin. Akan tetapi semangat jahiliyah mereka telah menguasai mereka, maka mereka mengumpulkan para pembesar mereka dan mereka keluar (untuk berperang) sebagaimana yang Allah sifatkan tentang kondisi mereka,

بَطَرًا وَرِئَآءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللهِ

“Dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah”(QS.al-Anfal:47)

Sampai-sampai ketika dikatakan kepada abu jahl ketika mereka mengetahui keselamatan rombongan Abu Sufyan:”Kita kembali saja dan tidak usah berperang!.Akan tetapi abu jahl berkata :”Demi Allah kita tidak akan kembali sebelum sampai ke badr, maka kita menyembelih onta di sana, meminum khamr (minuman keras), para biduanita menyanyi untuk kita dan orang-orang arab mendengar tentang kita sehingga kita tetap ditakuti dan disegani oleh mereka.

Akan tetapi mereka tidak dapat lolos dari kekuasaan Allah, mereka keluar dengan congkak dan sombong, jumlah mereka sekitar 900-1000, maka Allah pertemukan mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kondisi Nabi dan para sahabat sebagaimana digambarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةُُ فَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {123}

“Dan sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan badr, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”(QS.Ali-‘Imran:123)

Dan hasilnya adalah Allah ‘Azza wa Jalla memenangkan Nabi dan sahabatnya dan kalahlah orang-orang musyrikin.Mereka (mayat orang-orang musyrik-ed) diseret ke dalam sumur di badr dan jumlah mereka 24 orang. Maka Nabi meminta didatangkan binatang tunggangannya, dan beliau menaikinya menuju sumur tersebut, lalu beliau menyeru mereka dengan nama mereka dan bapak-bapak mereka, beliau berkata: ”Wahai fulan bin fulan apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian benar?

Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Rabbku benar”.Maka para shahabat bertanya:”Ya Rasulullah bagaimana anda berbicara dengan orang-orang yang telah mati?”. Maka beliau bersabda:”Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku ucapkan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak menjawab”.Tujuan dari seruan ini adalah penghinaan terhadap orang-orang yang kasar dan melampaui batas dari kalangan orang musyrik. Maka inilah tempat kembali mereka ketika mereka menjadi tawanan amal buruk mereka. Dengan ini berakhirlah peperangan ini dan kemenangan berada di pihak kaum muslimin dan ini adalah nikmat dari Allah Ta’ala.

Ada dua permasalahan dalam kisah ini

Pertama:mungkin ada orang yang bertanya:”Bagaimana mungkin dibolehkan bagi Nabi untuk merampas harta orang Qurisy, bukankah ini termasuk perampokan atau penyamunan?.Jawabannya adalah bahwa mereka (orang-orang musyrik) telah berbuat jahat kepada kaum muslimin dan mengusir mereka dari kampung mereka dan harta mereka maka mereka adalah kafir harbi (yang memerangi kaum muslimin), bukan ahlu dzimah(orang yang mendapat jaminan), bukan pula orang yang memiliki perjanjian dengan kita maka harta mereka boleh dirampas.

Kedua:Nabi bersabda (kepada para shahabat) setelah menyeru mayat orang-orang musyrik:”Tidaklah kalian lebih mendengar daripada mereka terhadap apa yang aku ucapkan.” Padahal Allah berfirman (artinya):”Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar”,dan juga firman-Nya:”Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. Maka bagaimana menjawab hal ini?.Jawabannya adalah bahwa maksud firman Allah (”Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar”) adalah mendengar dengan pendengaran yang mereka bisa mengambil manfaat darinya apabila kalian menyeru mereka sebagaimana orang hidup mendengar apabila mereka diseru

(Durus wa Fatawa fil Haram al-Maki, Syaikh Utsaimin rahimahullah, hal;168-170 maktabah Ulin Nuhaa Riyadh, diposting oleh Abu yusuf )


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat, 5 Agustus 2011/5 Ramadhan 1432H

Print Friendly