Thalhah Al-khair

Thalhah bin Ubaidullah, salah seorang dari sepuluh sahabat yang mulia dengan jaminan surga dari Rasulullah saw, dikenal dengan Thalhah al-Khair (Thalhah yang baik) dan Thalhah al-Jud (Thalhah yang dermawan).

Thalhah adalah seorang saudagar dengan niaga yang besar dan kekayaan yang luas, suatu hari dia kedatangan harta dari Hadramaut sebesar tujuh ratus ribu dirham. Malam itu Thalhah tidak tidur, dia terlihat bersedih dan cemas.

Lalu istrinya Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq datang kepadanya, dia berkata, “Ada apa denganmu wahai Abu Muhammad? Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” Thalhah menjawab, “Tidak ada. Kamu adalah sebaik-baik istri seorang muslim. Aku hanya memikirkan sejak tadi, aku bertanya kepada diriku, ‘Apa dugaan seseorang kepada Tuhannya jika dia tidur sementara harta sebanyak ini ada di rumahnya?”

Istrinya bertanya, “Lalu apa yang membuatmu bersedih? Apakah engkau lupa kepada orang-orang yang membutuhkan dari kaummu dan kawan-kawanmu? Jika pagi tiba maka bagi-bagikan ia kepada mereka.” Maka Thalhah berkata, “Kamu adalah wanita yang diberi taufik, anak laki-laki yang diberi taufik pula.”

Pagi tiba dan Thalhah telah meletakkan uang tersebut dalam beberapa nampan kecil dan kantong, dia membagi-bagikannya di antara fakir-miskin orang-orang Muhajirin dan Anshar.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Thalhah bin Ubaidullah meminta bantuan kepadanya, laki-laki ini menyebutkan hubungan kekeluargaan yang mengikatnya dengan Thalhah, maka Thalhah berkata, “Ini adalah hubungan kekerabatan yang tidak pernah disebutkan kepadaku sebelumnya. Aku mempunyai sebidang tanah, Usman bin Affan akan membayarnya dengan tiga ratus ribu. Jika kamu berkenan maka ambillah tanah itu, kalau kamu berkenan maka aku akan menjualnya kepada Usman dan menyerahkan harganya kepadamu.

Laki-laki itu menjawab, “Aku mengambil harganya.” Maka Thalhah menyerahkannya kepada laki-laki tersebut. Selamat untukmu wahai Thalhah al-Khair dan Thalhah al-Jud, gelar pemberian Rasulullah saw kepadanya. Semoga Allah meridhainya.

Shuwar min Hayah ash-Shahabah, Dr. Abdurrahman Ra`fat Basya.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Sabtu,12 Juni 2010/29 Jumadil Akhir 1431H

Print Friendly