Hawatiful Jan

Imam as-Suyuthi dalam Asbabun Nuzul menukil dari al-Kharaithi bahwa dia menyebutkan dengan sanadnya kepada Said bin Jubair bahwa seorang laki-laki dari Bani Tamim bernama Rafi’ bin Umair bercerita tentang awal keislamannya.

Rafi’ berkisah, pada suatu malam aku berjalan di padang pasir yang luas, aku terserang kantuk, aku turun dari kendaraanku dan aku tidur, sebelum tidur aku membaca ucapan perlindungan, “Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari jin.” Ucapan yang biasa kami ucapkan saat singgah atau lewat di sebuah lembah.

Aku tidur, aku bermimpi, dalam mimpi aku melihat seorang laki-laki dengan tombak di tangannya, dia hendak meletakkannya di leher untaku, aku bangun terkejut, aku melihat kanan kiri, aku tidak melihat apa-apa, aku berkata, “Ini hanya mimpi.” Aku kembali tidur, aku bermimpi sama, aku bangun, aku melihat untaku berontak, aku menengok, aku melihat seorang laki-laki muda seperti yang aku lihat dalam mimpi dengan tombak di tangannya dan laki-laki tua memegangi tangannya dan berusaha merebut tombak, ketika dua orang itu sedang bergelut.

Tiba-tiba datang tiga ekor sapi jantan liar, laki-laki tua itu berkata kepada laki-laki muda, “Pergilah, pilihlah salah satu darinya sebagai ganti unta orang yang mesti aku lindungi.” Laki-laki muda itu berdiri dan menangkap seekor sapi lalu pergi, lalu laki-laki tua itu menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai orang ini, jika kamu singgah di sebuah lembah dan kamu takut sesuatu maka ucapkan, “Aku berlindung kepada Tuhan Muhammad dari ketakutan lembah ini.’ Jangan berlindung kepada jin karena perkaranya telah batal.” Aku bertanya, “Siapa Muhammad?” Dia menjawab, “Seorang Nabi Arab, tidak timur, tidak barat, diutus pada hari Senin.” Aku bertanya, ‘Di mana dia tinggal?” Dia menjawab, “Yatsrib, kota berkurma.” Maka aku berangkat sampai waktu subuh tiba, aku terus berjalan sampai aku masuk Madinah, Rasulullah saw melihatku, beliau menyampaikan apa yang terjadi padaku sebelum aku becerita kepada beliau sedikit pun, beliau mengajakku kepada Islam dan aku masuk Islam.

Ibnul Jauzi meriwayatkan dalam kitab Shafwatus Shafwah dengan sanadnya dari Sahal bin Saad berkisah, aku berjalan ke arah Hijr, daerah kaum Ad, tiba-tiba aku melihat kota dari batu berpahat, di tengahnya ada sebuah istana dari batu, atap dan pintunya berpahat, aku masuk, aku melihat sebuah bayangan berbadan besar sedang shalat menghadap Ka’bah, dia memakai jubah dari kain wol yang bagus, aku tidak mengagumi tubuhnya yang besar seperti aku mengagumi keindahan jubahnya.

Aku mengucapkan salam, dia menjawab, dia berkata, “Wahai Sahal, badan tidak membuat baju menjadi usang, yang membuat baju menjadi usang adalah bau dosa-dosa dan makanan haram, jubahku ini telah aku pakai selama 700 tahun, selama itu aku bertemu Isa dan Muhammad, aku beriman kepada keduanya.” Aku bertanya kepadanya, “Lalu kamu ini siapa?” Dia menjawab, “Aku dari orang-orang yang pada mereka turun, “Katakanlah, telah diwahyukan kepadamu bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan al-Qur`an, lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan.

Penulis ar-Rahiq al-Makhtum menyebutkan bahwa dalam perjalan hijrah, Rasulullah saw dan Abu Bakar melewati Ummu Ma’bad al-Khuza’iyah, Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Ada sesuatu yang bisa kami makan?” Dia menjawab, “Demi Allah, kalau aku mempunyai sesuatu niscaya aku tidak kikir kepada kalian berdua, kambing-kambing sedang digembalakan di tempat yang jauh.”

Rasulullah saw memandang seekor domba yang ada di sebelah tenda, beliau bertanya, “Bagaimana dengan domba ini?” Dia menjawab, “Domba yang tidak mampu mencari makan.” Rasulullah saw bertanya, “Ia mempunyai susu?” Dia menjawab, “Lebih parah.” Rasulullah saw berkata, “Apakah engkau menginzinkanku untuk memerahnya?” Dia menjawab, “Lakukanlah, jika menurutmu ia memang mempunyai susu.”

Rasulullah saw membaca basamalah dan berdoa dan mulai memerah, empeng domba itu mengembang dan darinya turun air susu dengan deras, beliau menadahinya dengan bejana besar yang cukup untuk beberapa orang, setelah itu beliau memberi minum Ummu Ma’bad, setelah dia kenyang maka beliau minum dan Abu Bakar juga minum, selanjutnya Nabi saw memerah sampai penuh dan meninggalkannya Ummu Ma’bad.

Suami Ummu Ma’bad pulang, dia terkejut melihat susu, dia berkata, “Dari mana ia? Kambing-kambing digembalakan di tempat yang jauh dan di rumah tidak ada susu?” Ummu Ma’bad menjawab, “Beberapa saat yang lalu dua orang laki-laki singgah padaku, kisahnya adalah begini dan begini.” Suaminya berkata, “Demi Allah, menurutku keduanya adalah orang yang dicari-cari oleh Quraisy.”

Selanjutnya atas permintaan suaminya Ummu Ma’bad menjelaskan ciri-ciri Nabi saw yang menawan hati, maka Abu Ma’bad berkata, “Sungguh dialah orang yang disebut-sebut oleh Quraisy, jika aku ada kesempatan maka aku akan menyusulnya.”

Esok harinya, penduduk Makkah mendengar suara lantang tetapi mereka tidak melihat pengucapnya,

Semoga Allah, Rabb Arasy memberikan sebaik-baik balasan
Dua sejawat yang telah singgah di kemah Ummu Ma’bad
Keduanya singgah dengan kebajikan dan berangkat dengan kebajikan
Sungguh beruntunglah orang yang menjadi pendamping Muhammad
Wahai (anak cucu) Qushai, tidaklah Allah palingkan dari kalian
Perilaku baik dan kehormatan diri yang tiada tertandingi
Untuk menghinakan Bani Ka’b menggantikan pemudi mereka
Posisinya mendapat perhatian oleh kaum Mukminin
Tanyakan pada saudari kalian perihal domba dan bejananya
Sungguh jika kalian tanyakan domba, maka ia akan bersaksi.

Asma’ berkata, “Kami tidak mengetahui kemana Rasulullah pergi, namun tiba-tiba laki-laki dari bangsa Jin menyongsong dari arah bawah Makkah, lalu melantunkan bait-bait ini, sementara orang-orang mendengarnya dan mencari-cari pengucapnya namun mereka tidak melihatnya hingga kemudian dia pergi dari arah atas Makkah.”

Dia melanjutkan, “Tatkala kami mendengar ucapannya, tahulah kami kemana Rasulullah pergi, yaitu ke arah Madinah.” Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,14 Mei 2010/30 Jumadil Awal 1431H

Print Friendly