Hadits Shahih (bagian-2)

Maksud Perkataan Para Ulama “Ini Adalah Hadits Shahih” dan “Ini Hadits Tidak Shahih”

Maksud dari perkataan mereka ”Ini hadits shahih” adalah bahwa kelima syarat yang lalu terpenuhi dalam hadits ini. Bukan berarti bahwa hadits tersebut bisa dipastikan keshahihannya pada hakekat yang sebenarnya, dikarenakan tidak mustahil terjadi kekeliruan atau kelupaan pada orang yang tsiqah (kredibel) sekalipun.

Dan maksud perkataan mereka “Ini Hadits Tidak Shahih” adalah bahwa kelima syarat tidak terpenuhi yang lalu pada hadits tersebut, atau tidak terpenuhi sebagiannya. Bukan berarti hadits dusta pada hakekat yang sebenarnya, karena tidak mustahil benarnya orang (perawi) yang banyak salahnya.

Bisakah Dipastikan Bahwa Sebuah Sanad Hadits Adalah Sanad Yang Paling Shahih Secara Mutlak?

Pendapat yang terpilih adalah bahwa tidak bisa dipastikan dalam suatu sanad bahwa ia adalah sanad yang paling shahih secara mutlak. Karena perbedaan tingkatan-tingkatan keshahihan hadits dibangun di atas kemapanan (kekokohan) sanad terhadap syarat-syarat hadits shahih. Dan sangat jarang (langka) tercapainya tingkatan yang paling tinggi pada masing-masing syarat-syarat hadits shahih tersebut. Maka yang lebih utama adalah menahan diri dari menghukumi sebuah sanad bahwa ia adalah sanad yang paling shahih secara mutlak.

Namun demikian telah dinukil dari sebagian imam (ahli hadits) ucapan-ucapan dalam masalah sanad yang paling shahih. Dan yang zhahir (nampak) adalah bahwa setiap imam menguatkan hadits yang ada padanya (dimilikinya). Dan di antara ucapan-ucapan tersebut yang paling shahih adalah:

1. Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya (Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma). Hal itu diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih dan imam Ahmad.

2. Ibnu Sirin dari ‘Ubaidah bin ‘Ali (bin Abi Thalib). Hal itu diriwayatkan dari Ibnul Madini dan al-Fallas.

3. Al-A’Masy dari Ibrahim dri ‘Alqamah dari ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud). Hal itu diriwayatkan dari Ibnu Ma’in.

4. Az-Zuhri dari ‘Ali bin al-Husain, dari bapaknya dari ‘Ali. Hal itu diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi Syaibah.

5. Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. hal itu diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

(Sumber: تيسير مصطلح الحديث karya Dr. Mahmud ath-Thahhan. Maktabah Ma’arif, Riyadh, halaman 36-37. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,18 November 2011/21 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly