Ibadah Dalam Islam

IBADAH DALAM ISLAM

Definisi ibadah: Ibadah dalam Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’aala dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ibadah meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan lahir dan batin.

Ruh, inti dan substansi ibadah adalah mewujudkan dan merealisasikan kecintaan dan kepatuhan kepada Allah subhanahu wata’aala.

Syarat-syarat ibadah: Ibadah tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi dua syarat, yaitu:

  • Ikhlas karena Allah semata
  • Mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Maksudnya adalah ibadah yang dilakukan itu harus murni dipersembahkan kepada Allah, dan harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Jadi, tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah semata dan tidak beribadah kecuali dengan cara yang telah disyari’atkan-Nya.

Shalat, umpamanya, adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya kepada Allah. Maksudnya kita tidak melakukan shalat kecuali karena Allah semata. Maka dengan demikian terealisasilah keikhlasan.

Dan kita tidak melakukan shalat kecuali berdasarkan kaifiah (tata cara) yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Maka dengan demikian kesesuaian dan mencontoh (mutaba’ah) Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam terealisasikan.

Seseorang boleh bertanya: “Apa hikmah dibalik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?”
Jawabnya adalah sebagai berikut:

  • Sesungguhnya Allah memerintahkan keikhlasan ibadah kepada-Nya semata. Maka beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allah telah berfirman:
    “Dan beribadahlah kamu kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan tunduk”.

  • Sesungguhnya Allah subhanahu wata’aala yang mempunyi hak dan wewenang mentasyri’ (memerintah dan melarang). Hak tasyri’ adalah hak-Nya semata. Maka barang siapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia berarti telah melibatkan dirinya di dalam tasyri’.

  • Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita. Maka orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, maka berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).

  • Dan sekiranya boleh bagi setiap orang beribadah dengan cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupa manusia adalah kekacauan yang tiada taranya, karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama mengajarkan kebersamaan dan kesatuan.

Macam-macam ibadah:

Macam-macam ibadah itu sangat banyak, seperti shalat, zakat, puasa, haji, berbakti kepada ibu dan bapak, silaturrahim, berkata jujur, menyampaikan amanat, menunaikan janji, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menyingkirkan hal-hal yang mengganggu dari jalan, berbuat baik kepada anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, kepada hewan dan lain-lainnya.

Termasuk macam ibadah adalah dzikir, do’a, memohon perlindungan kepada Allah, meminta pertolongan kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, bertau-bat dan memohon ampun.

Termasuk juga: sabar, bersyukur, rela (ridha), takut, mencintai, mengharapkan dan malu kepada-Nya.

Keutamaan ibadah:

Ibadah di dalam Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, karenanya lah Allah menciptakan manusia (makhluk), mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya dipuji dan yang enggan melakukannya dicela.

Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mempersempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemaslahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya.

Di antara keutamaan ibadah adalah bahwasanya ibadah itu mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.

Termasuk keutamaan ibadah juga adalah bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, faqir kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian pula hati dan ruh membutuhkan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar dari pada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan substansi hamba itu adalah hati dan ruhnya; keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasa kedamaian dan ketentraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Kalau sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.

Adapun bahagia karena Allah dan perasaan jinak kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti atau hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka barang siapa yang menghendaki kebahagiaan abadi hendak lah ia menekuni penghambaan (ibadah) kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejati lah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.

Dan tidak ada yang dapat menentramkan dan mendamaikan dan menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata.

Termasuk keutamaan ibadah adalah: Sesungguhnya ibadah itu dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang di kala dilanda musibah dan meringankan beban penderitaan dikala susah dan meringankan rasa sakit; semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.

Termasuk keutamaannya juga adalah bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabbnya dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar.

Keutamaan ibadah yang paling besar adalah bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah subhanahu wata’aala, masuk surga dan selamat dari siksa neraka.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu, 9 Januari 2008/30 Dzulhijjah 1428H

Print Friendly