Kewajiban Mendoakan Para Sahabat Nabi Dan Diam Terhadap Pertikaian Di Antara Mereka

Kita percaya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah generasi pilihan umat ini, bahwa generasi mereka adalah generasi terbaik, bahwa mencintai mereka adalah salah satu bukti keimanan, maka hendaknya kita memantapkan hati untuk mencintai dan ridha terhadap mereka serta tidak mempermasalahkan pertikaian yang terjadi di antara mereka, dengan tidak menganggap ma’shum (terjaga dari kesalahan) sebagian mereka akan tetapi ijma’ mereka adalah ma’shum. Kita juga percaya bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali radhiyallahu ‘anhum; barangsiapa yang mencela kekhilafahan salah seorang dari mereka maka ia adalah orang yang lebih sesat daripada keledai peliharaannya.

Allah Subhaanahu Wata’ala telah mensucikan para sahabat Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah menyebut mereka sebagai para pemilik sifat-sifat terpuji dan sahabat-sahabat yang baik, Allah berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath: 29).

Allah pun menyatakan bahwa Allah telah menerima taubat mereka dalam firman-Nya,

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117).

Allah pun menyatakan keridhaan-Nya terhadap mereka dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath: 18).

Dalam ayat lain disebutkan, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

Allah menyebut kaum Muhajirin sebagai orang-orang yang benar dan kaum Anshar sebagai orang-orang yang beruntung, sebagaimana dalam firman-Nya, “(Juga) bagi para fuqara’ yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.” (Al-Hasyr: 8-10).

Allah juga menyatakan bahwa Allah telah menjadikan mereka cinta kepada keimanan dan menjadikannya indah dalam hati mereka serta menjadikan mereka benci kepada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan, sebagaimana firman-Nya, “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat: 7).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ الْقُرُوْنِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

“Sebaik-baik zaman adalah zamanku kemudian yang setelahnya kemudian yang setelahnya lagi.” (Muttafaq ‘Alaih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang mencela mereka dan menjelaskan bahwa tidak seorang pun setelah mereka yang dapat mencapai kedudukan mereka, bahwa amal mereka walaupun hanya sedikit adalah lebih baik di sisi Allah daripada amal yang banyak dari generasi selain mereka, beliau besabda,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَإِنَّهُ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِلْءَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ.

“Janganlah kalian mencela para sahabatku, karena sesungguhnya, seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebanyak gunung Uhud, tentulah tidak akan menyamai infak satu mud mereka dan tidak pula setengahnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita terhadap Allah mengenai mereka, menganjurkan untuk mencintai mereka dan memperingatkan agar tidak membenci mereka, beliau bersabda,

اَللهَ اللهَ فِيْ أَصْحَابِيْ، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّيْ أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِيْ أَبْغَضَهُمْ.

“(Ingatlah) Allah, (ingatlah) Allah mengenai para sahabatku!! Barangsiapa yang mencintai mereka maka dengan kecintaanku dia mencintai mereka, dan barangsiapa yang membenci mereka maka dengan kemurkaanku dia membenci mereka.”

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa, 9 Juni 2009/15 Jumadil Akhir 1430H

Print Friendly