Sebuah Ironi

Sebuah Ironi

Di sini saya tidak bermaksud mengecilkan arti pentingnya ilmu-ilmu dunia sama sekali. Ia tetap mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan kaum muslim. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Seperti halnya keterbelakangan kaum muslimin dalam ilmu-ilmu ini, mempunyai andil bagi lemahnya kaum muslimin. Ini merupakan perkara yang sudah di ketahui oleh umum. Akan tetapi saya mengkritik orang yang menjadikan ilmu dunia sebagai pondasi bagi kemajuan dan ukuran keutamaan dalam bidang ilmu dan pengetahuan, serta lebih mengedepankannya dari ilmu-ilmu syariah yang beraneka-ragam.

Mengapa kita tidak saling bertanya apa yang menyebabkan kaum muslimin buta terhadap urusan-urusan agama mereka? Dan ketidaktahuan mereka terhadap kaidah-kaidah agama Islam yang paling sederhana sekalipun? Ini merupakan suatu keadaan aneh yang perlu segera dihentikan, serta disembuhkan dari pengaruhnya yang buruk.

Merupakan suatu hal yang menyakitkan, pada hari ini kita mendapati di kalangan umat Islam, orang yang mampu menulis dan berbicara tentang segala sesuatu secara mendalam serta bebas, dalam masalah ekonomi, politik, sastra, dan kebudayaan. Akan tetapi ia tidak mampu untuk menjabarkan (bukan sekedar hafal) pengertian Islam dan rukun-rukunnya, rukun iman dan dasar-dasarnya, tauhid dan macam-macamnya, pembatal-pembatal keislaman, demikian juga sholat beserta rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Di antara kaum muslimin sekarang ada orang yang mempunyai ijazah bertumpuk-tumpuk dan gelar berderet-deret, telah mencapai usia separuh baya akan tetapi hampir tidak mampu untuk mengucapkan satu huruf Al-Quran, apalagi untuk membaca satu surat dari Al-Quran dengan tartil ( sesuai kaidah-kaidah tajwid). Suatu pemandangan yang menyedihkan memang.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat,11 Juni 2004/22 Rabiul Akhir 1425H

Print Friendly