Sufi 6

Madrasah Sufiyah

Secara umum aliran sufi bisa dikelompokkan menjadi empat madrasah,

Pertama, Madrasah Zuhud, menurut madrasah ini dunia boleh berada di tangan seorang sufi tidak di dalam hatinya, karena hatinya terkait dengan apa yang ada di tangan Allah. Salah seorang dari mereka berkata, “Fulan benar, Allah telah membersihkan hatinya dari dunia dan menjadikan dunia di tangannya dan pada lahirnya.” Seseorang bisa jadi kaya raya dan zuhud sekaligus pada saat yang sama karena zuhud tidak berarti miskin, tidak semua orang miskin adalah orang yang zuhud dan tidak semua orang yang zuhud itu miskin.

Zuhud memiliki tiga tingkatan: pertama, meninggalkan yang haram, ini adalah zuhud orang awam. Kedua, meninggalkan yang halal tetapi berlebih, ini adalah zuhud orang khusus. Ketiga, meninggalkan apa yang menyibukkan seorang hamba dari Allah dan ini adalah zuhud orang-orang yang mengetahui.

Orang-orang yang termasuk ke dalam madrasah ini adalah para ahli ibadah dan para ahli zuhud, di antara mereka adalah Rabi’ah al-Adawiyah, Ibrahim bin Adham dan Malik bin Dinar.

Madrasah Kasyaf wal Ma’rifat, madrasah ini berpijak kepada anggapan bahwa mantiq akal semata tidak cukup dalam meraih ma’rifat dan mengetahui hakikat yang ada, seseorang harus mengalami proses latihan jiwa sehingga selaput kebodohan terangkat dari bashirahnya dan hakikat-hakikat terbuka untuknya pada jiwanya terlihat di atas cermin hatinya. Pelopor madrasah ini adalah Abu Hamid al-Ghazali.

Madrasah Wihdatul Wujud, madrasah ini meyakini bahwa tidak ada sesuatu dalam wujud ini kecuali Allah, walaupun kita ada, keberadaan kita ini adalah dengan Allah, wujud yang nampak pada wujud hanyalah Allah, wujud yang haq hanya satu, tidak ada sesuatu di mana ia memiliki sepadan, karena tidak sah ada dua wujud yang berbeda atau sepadan. Pelopor madrasah ini adalah Muhyiddin Ibnu Arabi yang dijuluki Syaikh Akbar.

Madrasah Hulul wa Ittihad, madrasah ini sangat terpengaruh dengan tasawuf India dan Nasrani, di mana seorang sufi merasakan bahwa Allah ada padanya, dia menyatu dengan Allah. Di antara ucapan mereka, “Akulah al-Haq.” “Di dalam jubah ini tidak lain selain Allah.” Dan perkataan lain yang menyimpang yang keluar dari lisan mereka pada saat mereka merasakan mabuk karena khamar persaksian seperti yang mereka klaim. Al-Hallaj adalah pelopor madrasah ini.

Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Sabtu,16 Agustus 2008/13 Sya’ban 1429H

Print Friendly