Sufi

Definisi

Sufi atau tasawuf adalah sebuah gerakan dan kecenderungan yang mengajak dan menyerukan sikap zuhud dan kesungguhan beribadah sebagai respon terhadap arus kuat kemewahan dan kenikmatan hidup. Selanjutnya kecenderungan ini berkembang sehingga terbentuk cara dan jalan tersendiri yang dikenal dengan sufi atau tasawuf, di mana orang-orangnya memiliki dan mengamalkan latihan-latihan jiwa tertentu dengan harapan bisa sampai kepada Allah Ta’ala melalui kasyaf dan musyahadah (kesaksian) tidak melalui sarana-sarana syar’i, dan akhirnya mereka mengambil jalan sendiri yang berujung kepada bercampurnya cara dan jalan mereka dengan filsafat watsaniyah dari India, Persia, Yunani dan sebagainya.

Perkembangan

Menengok kedua abad pertama Islam, di mulai dari masa Rasulullah saw, khulafa` rasyidin sampai zaman al-Hasan al-Bashri, seorang tabiin yang mulia, sufi atau tasawuf belum dikenal, baik nama maupun suluknya, yang ada adalah nama-nama yang menyeluruh seperti muslimin dan mukminin, atau nama-nama khusus seperti ash-Shahabi, al-Badri, at-Tabi’i dan sebagainya.

Pada masa itu belum muncul sikap ghuluw(berlebih-lebihan), baik di bidang amaliah ibadah maupun di bidang ilmiah akidah, benar telah muncul kecenderungan kepada sikap memperberat diri dalam beribadah, akan tetapi hal ini dalam skala personal dan pribadi, seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Amru yang berpuasa setiap hari, shalat malam sepanjang malam dan mengkhatamkan al-Qur`an dalam semalam, juga tiga orang yang datang bertanya kepada sebagian istri Nabi saw, ketika mereka diberitahu maka yang pertama berkata, “Saya akan shalat malam selamanya.” Yang kedua berkata, “Saya berpuasa terus menerus dan tidak berbuka.” Yang ketiga berkata, “Saya tidak menikah.” Juga seorang wanita yang melakukan shalat malam tanpa henti dan untuk mendukung perbuatannya, dia menggunakan tambang, jika dia mengantuk maka dia berpegangan kepada tambang tersebut.

Kecenderungan mempersulit diri ini lahir dan muncul, akan tetapi Nabi saw tidak membiarkannya, beliau meluruskan Abdullah bin Amru, “Aku mendengar kamu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, jangan lakukan, berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan shalatlah, karena jasadmu mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu…al-Hadits. Dalam sebuah riwayat, “Aku mendengar kamu berpuasa penuh dan membaca al-Qur`an dalam satu malam, berpuasalah dengan puasa Nabiyullah Dawud, dia adalah orang yang paling rajin beribadah, bacalah al-Qur`an dalam satu bulan.”

Beliau saw meluruskan tiga orang tersebut, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur dan aku menikah, barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku.” Beliau saw juga meluruskan wanita tersebut, beliau bersabda, “Lakukan amal ibadah yang kalian mampu, demi Allah, Allah tidak jenuh sehingga kalian sendiri yang jenuh, amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.”

Begitulah masa sahabat dan tabiin, di atas jalan keseimbangan dan pertengahan mereka berjalan, mereka menggabungkan antara ilmu dan amal, ibadah dan usaha memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, ibadah dan jihad serta menghadapi para ahli bid’ah dan pengusung hawa nafsu seperti yang dilakukan oleh Ibnu Umar yang menentang Qadariyah dan Ibnu Mas’ud yang menentang dzikir berjamaah di masjid Kufah.

Di akhir masa sahabat muncul sekelompok ahli ibadah yang memilih beruzlah dan menyepi dengan tidak bergaul dengan masyarakat, mereka mempersulit diri dalam beribadah dalam bentuk yang belum dikenal sebelumnya, di mana Rasulullah saw melarang sebagian sahabatnya dari hal itu, di antara penyebabnya adalah munculnya sebagain fitnah intern di kalangan kaum muslimin yang menyeret kepada penumpahan darah yang tidak berdosa, maka beberapa orang memilih bersikap menarik diri demi menjauhkan diri dari fitnah dan menyelamatkan agama, di samping itu dibukanya dunia dan harta di depan mata kaum muslimin seiring dengan melebarnya penaklukan-penaklukan Islam, sehingga sebagian kaum muslimin terseret ke dalam pusaran kesenangan dan kemewahan, hal ini memicu respon dan reaksi dari sebagian ahli ibadah sehingga mereka memilih apa yang mereka pilih untuk diri mereka.

Di Kufah misalnya, muncul sekelompok orang yang memilih beruzlah dan menampakkan penyesalan mendalam setelah terbunuhnya al-Husain bin Ali, mereka menamakan diri mereka dengan al-Bakkain atau at-Tawwabin, muncul pula sekelompok ahli ibadah yang menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menjauhi perkara-perkara yang berkaiatan dengan negara, di samping ilmu, keutamaan, keteguhan mereka berpegang kepada al-Qur`an dan sunnah, dengan mempelajari dan mengajarkan ditambah dengan keberanian mereka menyuarakan kebenaran dan menghadang ahli bid’ah. Muncul pula orang-orang yang sangat takut kepada Allah dan pingsan jika mendengar ayat-ayat al-Qur`an, suatu perkara yang mengundang pengingkaran dari para sahabat yang tersisa dan para tabiin besar seperti Asma` binti Abu Bakar, Abdullah bin az-Zubair, Muhammad bin Sirin dan lain-lainnya. Karena mereka lahir istilah al-Ubbad, az-Zuhhad dan al-Qurra` pada masa itu, di antara nama-nama yang bisa disodorkan adalah Amir bin Abdullah bin az-Zubair, Shafwan bin Sulaim, Thalq bin Habib al-Anzi, Atha` as-Sulami, Dawud ath-Tha`i dan sebagian rekan-rekan al-Hasan al-Bashri. Berlanjut insya Allah.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,17 Juli 2008/13 Rajab 1429H

Print Friendly