Tidur, Rahasia Dan Etikanya (4)

SUNNAH-SUNNAH DAN ADAB-ADAB YANG BERUPA PERKATAAN DAN PERBUATAN KETIKA BANGUN TIDUR.

  • Bersiwak ketika bangun di malam hari.
    • Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun di malam hari beliau membersihkan mulut (menggosok giginya) dengan bersiwak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
    • Dari Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lah tidur di malam hari atau di siang hari, lalu bangun dari tidur kecuali beliau bersiwak sebelum berwudhu”. (HR. Abu Dawud, hal. 520).
    • Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat malam dua raka’at dua raka’at, lalu beliau pergi bersiwak”. (HR. Muslim, Ibnu majah, dan ini lafazh darinya).
    • Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Bahwanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lah tidur kecuali siwak berada di sisinya. Lalu jika beliau bangun beliau memulai dengan bersiwak”. (HR. Ahmad, hal. 5979).
  • Berdzikir kepada Allah l ketika bangun.

    Disyari’atkan ketika bangun tidur untuk berdzikir yang disunnahkan. Di antaranya adalah seperti yang dijelaskan di dalam hadits-hadits berikut:

    • Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak berbaring di kasurnya berdo’a,

      بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا

      “Dengan namaMu aku mati dan hidup”. Dan apabila bangun, berdoa,

      الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

      “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan, dan hanya kepadaNya lah tempat kembali.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    • Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Syetan mengikatkan tiga ikatan di atas tungkuk kepala salah seorang di antara kalian ketika tidur. Dia pukulkan ke setiap ikatan, “Malam yang panjang atasmu, tidurlah? Jika dia terbangun, lalu mengingat Allah (berdzikir), terlepaslah satu ikatan. Lalu jika dia berwudhu, terlepaslah satu ikatan. Dan jika ia shalat, terlepaslah satu ikatan. Lalu ia berada di pagi hari dalam keadaan semangat dan segar, dan jika tidak, maka ia berada di pagi hari dalam keadaan tidak segar dan malas”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
    • Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka hendaklah dia mengucapkan,

      الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي (فِي جَسَدِي وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ)

      “Segala puji hanya bagi Allah yang memberikan kesehatan pada tubuhku dan mengembalikan ruh kepadaku serta mengizinkan aku untuk berdzikir kepadaNya”. (HR. at-Tirmidzi).

    • Mencuci kedua tangan ketika bangun tidur dan sebelum berwudhu.
      • Dari Abu Hurairah radhialahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah dia menjadikan air di hidungnya (menghirup air ke dalam hidung/ istinsyaq) kemudian mengeluarkannya kembali (istintsar). Dan barangsiapa yang cebok dengan menggunakan batu, maka hendaklah ia membuatnya ganjil (batu yang digunakan berjumlah ganjil). Dan apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah ia mencuci tangannya sebelum ia memasukkannya di dalam wudhunya, karena tidak seorang pun di antara kalian yang tahu di mana tangannya bermalam (berada)”. (HR. Muslim).
      • Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidur dan hendak berwudhu, maka janganlah ia memasukkan tangannya di dalam wudhunya sampai ia mencucinya, karena ia tidak tahu di mana tangannya bermalam dan di atas apa meletakkannya?”. (HR. Ibnu Majah).
    • Mengeluarkan air dari hidung setelah memasukkannya (istinsyaq) sebanyak tiga kali.
      • Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah ia beristintsar (mengeluarkan air dari hidungnya setelah dihirup sebelumnya) sebanyak tiga kali. Sesungguhnya syetan bermalam di batang hidungnya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
    • Berwudhu dan Shalat.
      • Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Syetan mengikatkan tiga ikatan di atas tungkuk kepala salah seorang di antara kalian ketika tidur. Dia pukulkan ke setiap ikatan, “Malam yang panjang atasmu, tidurlah? Jika dia terbangun, lalu mengingat Allah (berdzikir), terlepaslah satu ikatan. Lalu jika dia berwudhu, terlepaslah satu ikatan. Dan jika ia shalat, terlepaslah satu ikatan. Lalu ia berada di pagi hari dalam keadaan semangat dan segar, dan jika tidak, ia berada di pagi hari dalam keadaan tidak segar dan malas”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Inilah adab-adab dan sunnah yang seyogyanya dijaga oleh seorang muslim sehingga terealisasi di dalam tidurnya ketenangan dan kenyamanan serta dijaga dari setan dan dari setiap kejahatan. Semoga Allah memberikan kepada kita taufiq dan hidayahnya kepada jalanNya yang haq.

    Oleh : Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi
    Sumber: An-Naumu, Asroruhu Wa Adabuhu, DR. Muhammad Bin Abdullah al-Qannash
    .

    FATWA-FATWA ISLAMI

    Melukis Makhluk Bernyawa, Bolehkah?

    TANYA:
    Di beberapa sekolah, sebagian pelajar diminta untuk menggambar makhluk bernyawa, atau mereka diberi gambar yang belum lengkap, kemudian mereka disuruh melengkapi gambar tersebut. Kadang-kadang mereka diminta untuk menggunting gambar untuk ditempelkan di atas kertas, dan terkadang pula mereka diberi gambar dan diminta agar mewarnai gambar tersebut. Apa pendapat anda dalam hal ini? Semoga Allah menjaga dan memeliharamu.

    JAWAB:
    Saya berpendapat bahwa perbuatan demikian hukumnya haram dan wajib untuk melarangnya. Para penanggung jawab masalah pendidikan hendaklah menunaikan kewajiban mereka dalam hal ini dengan melarang para pendidiknya berbuat demikian. Jika mereka bermaksud hendak menguji dan mengasah kecerdasan para peserta didik, sedapat mungkin mereka memerintahkan anak didiknya untuk membuat gambar yang tidak bernyawa seperti mobil, pohon, atau benda-benda lainnya yang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan mereka, karena menguji kemampuan dengan menyuruh anak didik untuk menggambar makhluk bernyawa merupakan sarana bagi setan untuk menyesatkan manusia. Jika tidak demikian, maka tidak ada perbedaan antara membuat gambar pohon, mobil, benteng dengan membuat gambar manusia atau makhluk bernyawa lainnya.

    Maka saya berpendapat bahwa wajib bagi para penanggung jawab pendidikan untuk melarang para pendidik (guru) menguji dan mengasah kemampuan murid-muridnya dengan menggambar makhluk bernyawa. Jika mereka diharuskan menguji dan mengasah kemampuan anak didik dengan gambar makhluk bernyawa, maka hendaklah mereka menyuruh anak didiknya untuk menggambar hewan atau makhluk bernyawa tanpa kepala (yang tidak sempurna wujud dan bentuknya).

    (SUMBER: Syaikh Ibn Utsmain, Fatawa al-‘Aqidah, hal. 686-687)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,26 Agustus 2009/5 Ramadhan 1430H

Print Friendly