Dzikir, Lahan Ibadah Muslimah

Ini adalah lahan subur bagi pahala, relatif ringan dan mudah pelaksanaannya, tidak mengambil banyak waktu, tidak menguras tenaga, bisa dilakukan sekaligus dengan pekerjaan lain, maka lahan ini sangat cocok bagi kaum muslimat. Tanpa menghambat tugas rumahnya atau tugas luar rumahnya, yang bersangkutan tetap bisa menangguk keutamaan yang besar dan meraup pahala melimpah-ruah. Karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Untuk melaksanakan ibadah yang satu ini tidak terpaku pada satu keadaan, tidak harus duduk bersila menghadap kiblat dengan khidmat seraya komat-komat ditambah dengan biji tasbih di tangan, keliru jika Anda membayangkan harus demikian, relatif menyulitkan jika begitu dan hal itu bisa menghalangi kaum muslimah untuk mendapatkan keutamaan besar ini. Tidak sedikit dzikir-dzikir pada kondisi-kondisi tertentu, jika ia harus dilafazhkan dalam keadaan seperti di atas niscaya orang akan terbebani, padahal semestinya tidak seperti itu. Kalau untuk berdzikir sebelum masuk ke WC misalnya seseorang harus duduk khidmat, bisa-bisa hajatnya tidak tertahan lagi atau hilang pada saat itu.

Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ [آل عمران/191]
Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring.” (Ali Imran: 191). Perhatikan, Allah Ta’ala tidak membatasi cara mengingatNya dengan duduk, namun Dia mengizinkan berdiri bahkan berbaring.

Sebuah riwayat dalam ash-Shahihain dari Aisyah mendukung hal ini, Aisyah berkata, “Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam pernah berbaring di pangkuanku seraya membaca al-Qur`an sementara pada saat itu aku sedang haid.” Dalam riwayat yang lain, “Kepala Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam di pangkuanku sementara aku sedang haid.” Imam an-Nawawi menyebutkan dalam Adzkarnya sebuah atsar dari Aisyah, dia berkata, “Aku membaca hizbku sambil aku berbaring di atas ranjangku.” Hizb adalah shalat, bacaan dzikir dan wirid yang rutin dibaca pada saat-saat tertentu.

Semua ini membuktikan betapa mudahnya pelaksanaan ibadah yang satu ini, oleh karena itu wahai ibu, sambil Anda menggendong si kecil atau sambil Anda beres-beres rumah atau sambil Anda duduk rehat atau sambil Anda menunggu suami pulang atau Anda sambil duduk di jok motor atau mobil di antara suami ke tempat kerja atau Anda sambil begini dan begini, Anda tetap bisa memanfaatkan semua itu dan meraih pahala besar melalui bab yang satu ini, semoga Anda termasuk ke dalam firman Allah Ta’ala,
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ [الأحزاب/35]
Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah.” (Al-Ahzab: 35) dan termasuk pula ke dalam sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, “Orang-orang mufarridun telah mendahului orang lain.” Mereka bertanya, “Siapa itu mufarridun ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berdzkir kepada Allah.

Lalu dzikir apa yang bisa saya kerjakan? Tenang kawan, Islam kaya dengan perkara yang begini. Anda bisa merubah hidup Anda seluruhnya menjadi lahan dzikir. Ibaratnya dari tidur sampai tidur lagi, semuanya adalah dzikir. Dari sini sebagian ulama yang memiliki perhatian dalam bidang ini menulis dengan judul ‘Amalul Yaumi wal Lailah’ yang kalau kita indonesiakan maksudnya adalah amal sehari-semalam, dua puluh empat jam. Ini artinya selama itu bisa berisi dzikir kepada Allah.

Perhatikan aktifitas rutin harian Anda sebagai manusia di rumah. Pada saat Anda bangun atau hendak tidur, ada dzikir yang diucapkan. Pada saat berpakaian atau melepasnya, ada dzikir yang diucapkan. Pada saat Anda keluar atau masuk kamar mandi, ada dzikir yang diucapkan. Pada saat Anda keluar atau masuk rumah, ada dzkir yang diucapkan. Pada saat Anda berwudhu, ada dzkir yang diucapkan. Pada saat Anda mendengar seruan adzan, ada dzikir yang diucapkan. Pada saat Anda makan, ada dzikir yang diucapkan. Bahkan pada saat Anda hendak ‘berdua’ dengan pasangan, ada dzikir yang diucapkan.

Ada pula dzikir-dzikir temporal yang bersifat insidentil, misalnya pada saat bingung menentukan pilihan di antara dua perkara, ada dzikir istikharah. Pada saat ditimpa kesusahan dan kesedihan, ada dzikir yang diucapkan. Pada saat ketakutan, ada doa yang diucapkan. Pada saat tiba di suatu tempat asing, ada doa yang diucapkan. Pada saat hendak berkendara, ada doa yang diucapkan. Dan begitu seterusnya. Kalau penulis paparkan niscaya ia mengambil banyak halaman. Jika pembaca berkenan, bisa merujuk Kitab al-Adzkar an-Nawawiyah yang telah dindonesiakan oleh Pustaka Sahifa Jakarta.

Seratus kebaikan dalam sehari

Muslim meriwayatkan dari Saad bin Abu Waqqash, Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah seseorang di antara kalian tidak mampu mendapatkan seratus kebaikan dalam sehari?” Salah seorang hadirin bertanya, “Bagaimana seseorang di antara kami bisa mendapatkan itu?” Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bertasbih seratus kali, ditulis untuknya seratus kebaikan dan dihapus darinya seratus kesalahan.”

Empat kalimat tiga kali menandingi apa yang diucapkan sejak sehari

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, pada suatu pagi setelah shalat Shubuh Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam meninggalkan Juwairiyah –Ummul Mukminin- Dia tetap duduk di tempat shalatnya, di waktu Dhuha beliau pulang sementara Juwairiyah masih duduk, beliau bersabda, “Sunnguh aku telah mengucapkan sesudahmu empat kalimat sebanyak tiga kali, seandainya ia ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan sejak sehari niscaya ia menyamainya,

سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِه عَدَدَ خَلْقِهِ وَ رِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِه

Mahasuci Allah dan dengan pujianNya sebanyak jumlah makhluk ciptaanNya, sebanyak keridhaan diriNya, seberat timbangan ArasyNya dan sebanyak hitungan kalimat-kalimatNya.”

Pahala memerdekakan sepuluh hamba sahaya, ditulisnya seratus kebaikan…Dan seterusnya

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيٍر

(Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagiNya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala yang menyamai pahala memerdekakan sepuluh hamba sahaya, ditulis baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan dan ia menjadi benteng baginya dari setan sampai sore hari, dan tidak seorang pun yang mengamalkan lebih baik dari apa yang dia amalkan kecuali seseorang yang lebih banyak beramal darinya.”

Ampunan dosa-dosa walaupun seperti buih lautan atau lebih

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِه (Mahasuci Allah dan segala puji bagiNya), sehari seratus kali niscaya kesalahan-kesalahannya dihapus meskipun seperti buih lautan.”

Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu pagi dan di waktu petang, masing-masing sebanyak seratus kali, niscaya dosa-dosa dihapus walaupun lebih banyak daripada buih lautan.”

Inilah Islam, sarat dan kaya dengan kebaikan yang untuk meraihnya begitu mudah. Adakah kita semua dan Anda wahai ibu bersedia menindaklanjuti? Semoga. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Senin,21 November 2011/24 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly