Hikmah Asy-syafi’i (3)

Hikmah adalah kata-kata ringkas namun padat makna, biasanya ia merupakan hasil pengalaman dalam kehidupun yang panjang, seorang ahli hikmah telah berpengalaman dalam hidup, dari pengalaman dan pengamatan yang dilakukannya, dia mendapatkan suatu hakikat, suatu kenyataan yang terulang dari suatu sebab, maka dia menyimpulkan dan mengungkapnya dalam sebuah kalimat pendek namun kaya arti.
Imam asy-Syafi’i berkata,

أَبْيَنُ مَا فِي الإنْسَانِ ضَعْفُهُ فَمَنْ شَهِدَ الضَعْفَ مِنْ نَفْسِهِ ناَلَ الاِسْتِقَامَةَ مَعَ اللهِ تعالى

“Yang paling jelas pada diri seseorang adalah kelemahannya, barangsiapa menyaksikan kelemahan dirinya maka dia meraih istiqamah bersama Allah Ta’ala”.

مِنْ عَلامَةِ الصَدِيْقِ أَنْ يَكُوْنَ لِصَدِيْقِ صَدِيْقِهِ صَدِيْقًا. لَيْسَ سُرُوْرٌ يَعْدِلُ صُحْبَةَ الإخْوَانِ وَلا غَمَّ يَعْدِلُ فِرَاقَهُمْ. لا تُقَصِّرْ فِي حَقِّ أَخِيْكَ اِعْتِمَادًا عَلَى مَوَدَّتِهِ

“Di antara tanda teman adalah menjadi teman bagi temannya teman tersebut. Tidak ada kebahagiaan yang menandingi kebersamaan dengan saudara dan tidak ada kesedihan menandingi perpisahan dengan mereka. Jangan melalaikan hak saudaramu dengan berpijak kepada kecintaannya kepadamu”.

لا تَبْذَُلْ وَجْهَكَ إِلىَ مَنْ يَهُوْنُ عَلَيْهِ رَدُّكَ. مَنْ بَرَّكَ فَقَدْ أَوْ ثَقَكَ وَمَنْ جَفَاكَ فَقَدْ أَطْلَقَكَ.

“Jangan merendahkan wajahmu kepada seseorang yang menolakmu dengan mudah. Barangsiapa berbuat baik kepadamu maka dia telah menjalinmu dan barangsiapa berbuat sebaliknya maka dia telah melepasmu.”

مَنْ نَمَّ لَكَ نَمَّ بِكَ وَمَنْ إِذَا أَرْضَيْتَهُ قَالَ فِيْكَ مَا لَيْسَ فِيْكَ وَإِذَا أَغْضَبْتَهُ قاَلَ فِيْكَ مَا لَيْسَ فِيْكَ

“Orang yang membeberkan keburukan orang lain kepadamu pasti akan membeberkan keburukanmu kepada orang lain. Orang yang jika kamu membuatnya rela maka dia akan memujimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu adalah orang yang jika kamu membuatnya marah maka dia akan mencelamu dengan sesuatu yang tidak ada padamu.”

لَيْسَ بِأَخِيْكَ مَنِ احْتَجْتَ إِلىَ مُدَارَاتِهِ وَمَنْ صَدَقَِ فِي أُخُوَّةِ أَخِيْهِ قَبِلَ عِلَلَهُ وَسَدَّ خَلَلَهُ وَغَفَرِ ذَنْبَهُ

“Bukan saudaramu seseorang yang membuatmu harus berpura-pura kepadanya. Barangsiapa bersaudara dengan benar maka dia menerima alasan saudaranya, menutupi kekurangannya dan memaafkan kesalahannya.”

مَنْ وَعَظَ أَخاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ, وَمَنْ وَعَظَهُ عَلانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانًهُ

“Barangsiapa menasihati saudaranya secara rahasia maka dia telah menasihati dan menghiasinya, namun barangsiapa menasihatinya secara terbuka maka dia telah mempermalukannya dan memburukkannya.”

Dari al-Majmu’, Imam an-Nawawi


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa,29 Juni 2010/17 Rajab 1431H

Print Friendly