Iman Kepada Allah

Iman Kepada Allah

Di antara pengertian iman kepada Allah, adalah iman atau yakin bahwa Allah adalah Illah (sembahan) yang benar. Allah berhak di sembah tanpa menyembah kepada yang lain, karena Dialah pencipta hamba-hamba-Nya, dialah yang memberi rezeki kepada manu-sia, yang mengetahui segala perkara yang dilakukan manusia, baik yang dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Dialah Yang Maha Kuasa, yang memberikan pahala bagi yang taat kepada-Nya, dan mengadzab manusia yang berbuat maksiat. Untuk tujuan ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manu-sia, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, yang artinya:

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali un-tuk beribadah kepada-Ku. Aku tak mengharapkan rezeki dari mereka, juga tidak mengharap makanan dari mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki, yang memilki kekuatan lagi san-gat kokoh.” (Adz Dzariat : 56-58)

“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap; dan Dia menghasilkan den-gan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengada-kan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahuinya.” (Al Baqarah 21-22)

Dalam ayat-Nya yang lain, Allah juga menegaskan bahwa ia mengutus para rasul kepada manusia untuk mengingatkan mereka agar beribadah kepada Allah semata. Ia berfirman :
“Dan Sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul agar mereka beribadah kepada Allah dan mejauhi taghut (sesembahan selain Allah)…” (An Nahl 36)
“Dan tidaklah kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad) kecuali kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Ilah yang patut dis-embah selain Aku, oleh karena itu sembahlah Aku.” (Al Anbiya’ : 25)
“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara rinci, yang di-turunkan dari sisi Allah yang Mahabijaksana dan Mahatau. Agar kamu tidak menyembah selain Al-lah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira keapdamu dari-Nya.” (Hud : 1-2)

Hakikat ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala macam bentuk perhambaan seperti, doa, shalat, shaum, qurban, nadzar, serta berbagai macam ibadah lainya yang dilakukan dengan penuh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, disertai rasa cinta kepada-Nya dan rasa hina dalam naungan keagungan-Nya.

Nash-nash di bawah ini melengkapi dalil-dalil di atas:
“Maka sembalah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya ingatlah hanya kenpunyaan Allah-lah din yang bersih (dari syirik)….” (Az Zummar 2-3)
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia…” (Al Isra : 23)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (Al Mu’min : 14)

Sebauh hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Mu’az menyatakan bahwa Rasulullah telah bersabda:

“حَقُّ اللهِ عَلَىالعِبَادِأَنْ يَعْبُدُ وْهُ وَلاَيُشْرِكُوْاِبحِ شَيْأً ”

“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menye-kutukan-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim)

Iman kepada Allah juga mencakup keyakinan terhadap semua yang telah diwajibkan Allah keapda manusia, diantaranya yang tercakup dalam Rukun Islam, yaitu: syahadat (persaksian) bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; mengeluarkan zakat; shaum bulan Ramadhan; dan haji ke Baitullah Al Haram bagi yang mampu melakukkanya. Diantara lima rukun tersebut, yang paling penting adalah syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah.

Shahadat Laa Ilaha Illallah bermakna ketulusan ibadah tertuju hanya kepada Allah semata dan penolakan terhadap sesembahan lain. Tidak ada yang patut disembah selain Allah. Oleh karen itu, setiap yang dis-embah selain Allah, baik berbentuk manusia, malaikat, jin ,atau yang lainya, semuanya itu bathil atau bertolak. Allah berfirman:
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Rabb Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil.” (Al Hajj : 62)

Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus para rasul-Nya, serta menurunkan kitab-kitab-Nya ,adalah demi kepentingan yang pokok ini. Selanjutnya, marilah kita waspadai agar kita tidak menyertakan seseorang atau sesuatu apapun selain Allah dalam pelaksanaan seluruh kegiatan ibadah kita, sehinga tidak kita serahkan keikhlasan kita selain kepada Allah, karen dialah penolong dan sandaran harapan kita.

Di antara pengertian lainya dari prinsip iman kepada Allah, adalah keyakinan bahwa Allah Ta’ala pencipta alam semesta. Dialah pengatur alam semesta dengan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya . dialah Raja di dunia dan akhirat, Rabb semesta Alam.

Allah berfirman:
“Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia sebagai pemeliharanya.” (Az Zumar : 62)
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang te-lah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada saing yang mengi-kutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta Alam.” (Al A’raf : 54)

Iman keapda Allah berarti pula iman kepada nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung seperti yang tertera dalam Al Qur’an dan telah ditetapkan pula oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wa-salam, tanpa mengubah, mengingkari, membatasi, dan menyerupakan dengan yang lain. Setiap muslim wajib menyakininya tanpa mempersoalkannya. Nama-nama itu memiliki arti yang agung dan mulia, sesuai dengan sifat-sifat Allah sendiri. Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Asy Syuro : 11)
“Maka janganlah kamu mengadakan perumpa-maan-perumpamaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahuinya.” (An Nahl : 74)

Inilah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, aqidah para sahabat Rasulullah dan para pengikutnya yang setia. Dan aqidah ini pulalah yan daimbil sebagai rujukan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitab-nya “Al Maqolat an Ashhabil Hadits wa Ahlissunnah”, dan juga diambil oleh para ahli ilmu dan iman.
Al Imam Al Awza’i berkata bahwa Az-Zuhri dan Makhul pernah ditanya tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allah Ta’ala; mereka berdua menajwab: “Perlukah itu seperti apa yang sudah datang.”
Al Walid bin Muslim pernah berkata bahwa Imam Amlik, Al Awza’i, Al Laits bin Saad, dan Shofyan Ats Tsauri pernah ditanya tentang berita yang datang mengenai sifat-sifat Allah; mereka semua menjawab, “Perlakukan seperti apa yang datang , dan jan-ganlah kamu persoalkan.”

Al Imam Al Awza’i juga mengatakan, “ Kami beserta para tabi’in sepakat bahwa sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, dan kami mempercayai sebagaimana yang tersebut dalam Sunnah Rasul tentang sifat-sifat-Nya.”
Dan tatkala Rabi’ah bin Abi Abdurahman gurunya Imam Malik ditanya tentang, ia menjawab “Al istiwa (persemayaman) itu tidak samar, sedang mempersoalkan adalah diluar kemampuan akal. Dari Allah datangnya risalah ini, tanggung jawab Rasulullah untuk menyampaikannya, dan kewajiban kita membenarkannya.”

Demikian pula halnya ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang hal itu, beliau menajwab, “Persemayaman itu sudah jelas artinya tapi bagaimana hakikatnya tidak diketahui, sedang beriman kepada perkara itu adalah kewajiban dan menanyakannya adalah bid’ah.” Kemudian ia berkata kepada si penanya, “Saya tidak melihat kamu keculai sebagai orang bodoh.” Imam Malik lalu memerintahkannya keluar.

Telah diriwayatkan hal seperti itu dari Ummmul Mu’minin Ummu Salmah Radhiallaahu anha.
Al Imam Abu Abdurrahman Abdillah bin Al Mubarak rahimahullah berkata, “Kami mengerti bahwa Rabb kami itu diatas langit, bersemayam diatas ‘arsy, tidak bersatu dengan makhluknya.”

Banyak pernyataan para imam yang senada dengan kutipan-kutipan diatas, namun tentu saja tidak dapat dimuat dalam buku kecil ini. Para pembaca disarankan untuk merujuk langsung kepada kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama Ahlussunnah yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya kitab “As sunnah” karangan Abdullah bin Al Imam Ahmad, kitab “At Tauhid” oleh Al Imam Al Jalil Muhammad bin Huzaimah, kitab ‘As Sunnah” karya Abul Qasim Al Laalakaiy Aththobariy, kitab “As Sunnah” karya Abu Bakar bin Abi Ashim, dan risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang merupakan jawaban untuk penduduk Hamaa, Syiria. Di dalam risalah Ibnu Taimiyah tersebut, beliau menjelaskan aqidah Ahlussunnah dengan sangat rinci, dengan mengutip ucapan imam-imam lain serta berbagai dalil syar’iyah maupun aqliyah, dan tercakup di dlamanya bantahan-bantahannya terhadap penentang aqidah Ahlussunnah.

Setiap orang yang pendapatnya bertentangan dengan Ahlussunnah dalam masalah keyakinan terhadap asma dan sifat Allah tentu menyimpang dari dalil naqli dan ‘aqli, serta terperosok dalam kontradiksi nyata dalam setiap yang ditetapkan dan dinaikan. Ahlussunnah telah menetapkan asma dan sifat Allah sebagaimana yang ditetpkan-Nya sendiri dalam Al Qur’an serta sebagimana yang dijelaskan oleh Rasullullah Muhammad tanpa tamtsil (menserupakan dengan makhluk) dan mereka mensucikan Allah dari segala yang menyerupakan-Nya dengan makhluk tanpa ta’thil (menolak asma dan sifat-sifat-Nya) sehingga mereka terhidar dari kerusakan dan kebathilan serta mengamalkan semua dalil.

Inilah sunnah Allah bagi yang berpihak keapda kebenaran, dengan itulah Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya. Para nabi dan rasul itulah pengemban hakikat kebenaran untuk dimenangkan di atas kebathilan.
Allah berfirman:
“Bahkan kami melontarkan yang haq kepada yang bathil, lalu yang haq itu mengahncurkan-nya maka dengan serta merta yang bathil itu len-yap.” (Al Anbiya : 18)
“Tidak orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan keapdamu sesuatu yang benar dan pal-ing baik penjelasannya.” (Al Furqan : 33)

Dengan memperhatikan ayat-ayat di atas, para ulama Ahlussunnah semakin berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, khususnya yang berkenaan dengan dzat Allah, misalnya ayat yang telah disebutkan terdahulu, yaitu:
“Sesungguhnya Rabbmu Allah Subhannahu wa Ta’ala yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.” (Al A’raf : 54)

Berkaitan dengan ayat diatas, Al Hafidz Ibnu Katsir mengatakan. “Orang-orang mempunyai banyak sekali pendapat tentang masalah ini, tetapi tidak dapat dijadikan sandaran. Kita mengikuti madzab Salafuna Sahlih (para pendahulu kita) seperti Imam Malik, Al Awza’i Ats Tsauri, Al Laits bin Saad, Imam Syafi’i. Imam Ahmad. Ishaq bin Rahawi, serta ulama-ulama lainya, baik yang dahulu maupun yang sekarang. Yaitu: perlakukanlah ayat itu sebagai mana adanya, tanpa dipersoalkan, diserupakan, atau diubah. Dan sangkaan yang tergesa-gesa oleh madzab yang menyerupakan Allah dengan makhluk lain, semuanya tertolak, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak boleh disamakan dengan makhluknya dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya: Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Pendapat Ibnu katsir tersebut didukung dan dipertegas lagi oleh sejumlah imam, daintaranya oleh Na’im bin Hamad Al Khuzaiy, guru Imam Al Bukhari. Ia menyatakan, “Barangsiapa menyamakan Allah dengan makhluk lain, maka dia telah kafir. Dan barangsiapa mengingkari sifat Allah maka dia pun telah kafir. Apa yang telah Allah sifatkan tentang diri-Nya, Apa yang telah ditetapkan oleh rasul-Nya, bukanlah merupakan persamaan dengan makhluk. Barangsiapa yang telah menetapkan sifat Allah, sebagaimana yang tertera dalam ayat-ayat dalam Al Qur’an dan berita-berita yang benar sesuai dengan kebesaran Allah Ta’ala tanpa mengurangi sedikit pun keagungan-Nya, dia telah melangkah pada jalan kebenaran.”

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Selasa,27 Juli 2004/9 Jumadil Akhir 1425H

Print Friendly