Islam, Iman Dan Ihsan

Islam berasal dari kata aslama yang berarti masuk ke dalam kedamaian, berserah diri kepada Allah dan masuk ke dalam agama Islam. Secara istilah Islam berarti berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkannya dan tunduk kepadaNya dengan mengikuti ajaran rasulNya Muhammad saw.

Allah Ta’ala berfirman, œSesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam.”‌ (Ali Imram: 19).

Nabi saw menafsirkan Islam dengan amalan-amalan lahir yang tercantum dalam rukun Islam yang lima seperti dalam hadits Jibril.

Iman artinya membenarkan. Secara syar’i adalah keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan pembuktian dengan anggota badan.

Nabi saw menafsirkan Islam dengan amalan-amalan batin yang tercantum dalam rukun iman yang enam seperti dalam hadits Jibril.

Ihsan adalah berbuat kebaikan baik kepada orang lain maupun kepada diri dengan memperbaiki perbuatan.

Nabi saw telah menjelaskannya,

“œEngkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihatmu.”‌

Agama Islam meliputi tiga tingkatan tersebut berdasarkan pertanyaan Jibril kepada Nabi saw di hadapan para sahabat dan Nabi saw menjawabnya. Setelah Jibril berlalu Nabi saw bersabda, “œ]i]Itu adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan agama kalian.”‌

Keumuman dan kekhususan di antara ketiganya

Islam dan iman, jika keduanya disebut secara terpisah maka yang lain termasuk ke dalamnya, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Perbedaannya terjadi jika keduanya disebut secara bersamaan. Islam untuk amalan-amalan lahir dan iman untuk amalan-amalan batin seperti dalam hadits Jibril.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan sisi keumuman dan kekhususan di antara ketiganya, “œIhsan lebih umum dari sisi dirinya sendiri namun ia lebih khusus dari sisi orang-orangnya daripada iman. Iman lebih umum dari sisi dirinya sendiri dan lebih khusus dari segi orang-orangnya daripada Islam. Ihsan mencakup iman, dan iman mencakup Islam. Para muhsinin lebih khusus daripada mukminin, dan para mukminin lebih khusus dari para muslimin.”‌

Dari sini maka para ulama muhaqqiq mengatakan bahwa setiap mukmin adalah muslim, karena sesungguhnya siapa yang telah mewujudkan iman maka secara otomatis akan melaksanakan amalan-amalan Islam. Namun tidak setiap muslim itu mukmin sebab bisa jadi imannya sangat lemah sehingga iman dalam bentuk yang sempurna tidak terwujud, walaupunn dia tetap menjalankan sebagian dari amalan-amalan Islam, dia muslim namun bukan mukmin dengan iman yang sempurna.

Allah Ta’ala berfirman, “œOrang-orang Arab badui itu berkata, “کKami telah beriman.”™ Katakanlah, “کKamu belum beriman, tapi katakanlah ‘Kami telah Islam.“‌ (Al-Hujurat: 14).

Kesimpulannya, tingkatan agama adalah Islam, iman dan Ihsan. Urutan derajatnya, ihasan adalah yang tertinggi kemudian iman kemudian Islam. Wallahu a’lam.


———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,24 Desember 2008/25 Dzulhijjah 1429H

Print Friendly